Feature

Jeda dari Layar, Digital Detox Art Jam Momen Temukan Ketenangan di Sualoka Hub

42
×

Jeda dari Layar, Digital Detox Art Jam Momen Temukan Ketenangan di Sualoka Hub

Sebarkan artikel ini
Digital Detox Art Jam di Sualoka Hub ajak peserta segarkan pikiran dengan sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk gawai. Kembali ke kanvas, salurkan emosi lewat sapuan warna, dan hadir sepenuhnya jauh dari layar digital.
Di awal sesi, Arista Mahardika membimbing peserta Digital Detox Art Jam menyimpan ponsel masing-masing dengan mode silent. (Tagar.co/Qoonita Rizka Syafana)

Digital Detox Art Jam di Sualoka Hub ajak peserta segarkan pikiran dengan sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk gawai. Kembali ke kanvas, salurkan emosi lewat sapuan warna, dan hadir sepenuhnya jauh dari layar digital.

Tagar.co – Di tengah deru kehidupan modern yang kian terjalin erat dengan gawai, sebuah jeda manis hadir bagi jiwa-jiwa yang merindukan hening. Oasis bernama “Digital Detox Art Jam” membuka gerbangnya, Sabtu (15/6/2025) pagi.

Bukan lokakarya yang mengajarkan teknik melukis. Melainkan sebuah undangan untuk menyelami diri melalui pilihan palet warna, membuang sejenak beban dunia digital, dan menyadari setiap sapuan kuas. Hadir sepenuhnya, menjadi manusia seutuhnya.

Sejak pukul 08.30 WIB, aroma kopi dan cat akrilik mulai berbaur di Kafe Sualoka Hub. Lokasinya di Jalan Nyai Ageng Arem-Arem Gang 3 Nomor 20, Kemuteran, Pekelingan, Gresik. Bangunannya berdesain kuno. Merefleksikan nuansa khas Kota Lama Gresik yang sarat sejarah. Lengkap dengan perpustakaan dan ruang pertemuan, baik di dalam maupun luar ruangan.

Para peserta mulai berdatangan. Langkah mereka seolah menapaki jejak ketenangan menuju ruang di pojok belakang. Sebagian peserta memilih duduk di meja bundar besar yang cukup menampung sembilan orang. Sementara lainnya mengisi dua meja persegi berkapasitas tiga orang.

Saat duduk di kursi masing-masing, peserta mendapat kejutan berupa paket lengkap yang memanjakan mata. Ada kanvas putih bersih terbungkus plastik, sepaket cat akrilik beragam warna, dua jenis kuas, segelas minuman segar dari Sualoka Hub, dan sebuah buket bunga cantik dari Feluxeflorist.

Table easel (tiang penyangga kanvas) dan apron pun telah siap untuk mereka pinjam selama proses lokakarya. Perlengkapan ini memastikan kenyamanan setiap seniman dadakan yang hadir.

Baca Juga:  Gesid di Empat Masjid, Merawat Empati Siswa Smantis
Digital Detox Art Jam di Sualoka Hub ajak peserta segarkan pikiran dengan sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk gawai. Kembali ke kanvas, salurkan emosi lewat sapuan warna, dan hadir sepenuhnya jauh dari layar digital.
Sebagian peserta yang duduk di meja bundar fokus menyimak penjelasan Arista Mahardika di Lokakarya Digital Detox Art Jam. (Tagar.co/Qoonita Rizka Syafana)

Bawa Diri dan Hati

Ada lima belas peserta yang terlibat di pertemuan terbatas itu. Mayoritas dari Kota Pudak Gresik. Adapun tiga lainnya gigih menempuh perjalanan jauh dari Kota Surabaya menggunakan kereta. Ada yang datang sendirian maupun bersama tetangga, saudara, atau teman kerja.

Ruang terasa sejuk berkat kipas angin gantung yang berputar di atas mereka. Juga jendela besar di sisi depan. Sebagian saling berkenalan dengan teman baru di kanan-kirinya.

Pasalnya, pesan pengingat telah singgah di ponsel mereka sehari sebelumnya dari Arista Mahardika, instruktur seni yang memandu sesi ini. “Bawa diri dan hati yang siap untuk hadir sepenuhnya. Tanpa distraksi, tanpa tekanan, hanya kamu dan warna,” demikian tulisnya melalui WhatsApp.

Arista juga menekankan pentingnya “digital detox” selama acara berlangsung. “Selama sesi berlangsung, peserta diperkenankan untuk menyimpan HP-nya di dalam tas atau pouch yang tersedia dengan mode hening,” pesannya.

Ia juga meyakinkan, “Akan ada dokumentasi oleh fotografer jadi peserta tidak perlu khawatir kehilangan momen berharga selama acara.”

Digital Detox Art Jam di Sualoka Hub ajak peserta segarkan pikiran dengan sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk gawai. Kembali ke kanvas, salurkan emosi lewat sapuan warna, dan hadir sepenuhnya jauh dari layar digital.
Sebagian lukisan karya peserta Digital Detox Art Jam. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Membangun Kesadaran

Tepat pukul 09.30 WIB, suasana hening mulai merayap di ruang pojok Sualoka Hub. Arista Mahardika mengawali sesi dengan sambutan hangat, membuka pintu menuju perjalanan penyembuhan diri melalui seni.

Ia menyadarkan, lokakarya ini tentang bagaimana melukis bisa menjadi pelepas emosi, momen penuh kesadaran ekspresi perasaan melalui warna, dan yang terpenting, ruang aman untuk menjadi diri sendiri.

“Terima kasih teman-teman yang berkenan hadir untuk diri sendiri. Aku berharap, setelah keluar dari sini, teman-teman merasa lebih tenang dan sayang sama diri sendiri. Kita ciptakan momen untuk diri sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:  Dongeng Isra Mikraj Ceria di KB-TK Aisyiyah 49, Bon Bon Sampaikan Pesan Langit

“Ini bukan kelas lukis biasa yang ada contohnya dan teman-teman harus mencontoh itu. Di sini teman-teman berekspresi sesuai emosi dalam diri yang sudah terkumpul,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, merasa kesal tapi tidak sempat terucapkan, merasa sedih tapi tertahan, atau ingin meluapkan emosi negatif tapi tidak tahu caranya sehingga marah dan bikin kecewa orang sekitar. “Padahal yang perlu kita lakukan, menyampaikan emosi itu lewat karya,” tegas perempuan asli Gresik itu.

Meditasi

Tema “Refresh your mind, paint your vibe” benar-benar terimplementasi dalam acara ini. Menjauhkan peserta dari kebisingan pikiran dan dominasi layar gawai yang kian merangkul hari-hari.

Setelah Arista menjelaskan tujuan keberadaan mereka di sana, sesi healing (penyembuhan diri) pun berlangsung. Sesi meditasi memakan waktu 20 menit dari total dua jam sepuluh menit keseluruhan sesi. Terasa begitu cepat.

Musik instrumental yang menenangkan kian mengalun merdu, mengantar peserta memasuki sesi meditasi. Mata terpejam, napas teratur 4-4-4 (tarik napas-tahan-embuskan perlahan), dan duduk nyaman mengikuti setiap arahan Arista.

Di tengah meditasi, Arista mengajak peserta membayangkan ada di lorong waktu yang membawa ke masa lalu. Kemudian menyapa diri kecil dan menyadari lukanya.

Dari sinilah ia mendorong peserta menemukan diri sendiri dan mengekspresikan perasaannya dengan jujur. Menerima emosi apapun menjadi langkah berikutnya sehingga mencapai tahap menjadi manusia seutuhnya dengan segala emosi dalam diri.

Digital Detox Art Jam di Sualoka Hub ajak peserta segarkan pikiran dengan sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk gawai. Kembali ke kanvas, salurkan emosi lewat sapuan warna, dan hadir sepenuhnya jauh dari layar digital.
Ungkapan perasaan peserta setelah mengikuti Digital Detox Art Jam. (Tagar.co/Arista Mahardika)

Melukis dengan Jujur

Barulah kemudian, tiba momen yang paling mereka nantikan, melukis bebas di atas kanvas masing-masing. Setiap sapuan kuas, setiap paduan warna, menjadi cerminan suasana pikiran dan hati. Inilah momentum pengisian ulang energi yang jauh dari sorot layar.

Baca Juga:  Spemdalas Raih 5 Emas Olympicad VIII Makassar

Arista mengajak peserta menyadari, kadang yang sulit bukan cara melukisnya tapi bagaimana jujur kepada diri sendiri. Ia pun memberi saran untuk mengatasi kebingungan peserta mulai melukis dari mana.

“Coba tanyakan pada dirimu, apa yang sedang terasa berat di hatimu? Ada emosi yang ingin kamu keluarkan?” Selain menyampaikan pertanyaan ini dan beberapa pertanyaan lanjutan lainnya, Arista juga menjelaskan warna yang cocok dengan suasana hati peserta.

“Kamu boleh memilih warna di luar ini. Ini bukan soal benar atau salah tapi soal berani jujur pada perasaanmu,” imbuhnya.

Usai puas menyapukan kuas di atas kanvas, Arista mengajak peserta menulis perasaan mereka setelah melalui serangkaian sesi di lokakarya pagi itu. Sticky note hijau menjadi ruang mereka mengungkapkan rasa.

Kertas mungil itu lantas Arista gantung di kanvas bertali rami. Membaca satu per satu perasaan yang tertuang, Arista mengaku terharu.

Pada kertas cokelat yang ia berikan, Arista lanjut mengajak menuliskan judul lukisannya. Peserta boleh menempel di belakang kanvas agar tidak menutupi lukisannya.

Terakhir, peserta menuangkan segala motif dan latar terkait lukisannya di selembar kertas putih dalam amplop cokelat. Tulisan bersifat personal ini boleh peserta bawa pulang.

Lokakarya berakhir dengan foto bersama dan foto sendiri-sendiri. Berlatar sudut-sudut Sualoka Hub yang estetis, mereka mengabadikan karya yang bersumber dari perasaan dan pemikiran terdalam. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni