Feature

Mendongeng, Memeluk, Memaafkan: Halalbihalal Berkesan di SD Mumtas

20
×

Mendongeng, Memeluk, Memaafkan: Halalbihalal Berkesan di SD Mumtas

Sebarkan artikel ini
Bunda A’yun, bersama boneka lucunya, Adek Dina menyampaikan kisah inspiratif kepada siswa-siswi SD Muhammadiyah 10 Surabaya di masjid Jendral A. Yani Sidoyoso (Tagar.co/Moh Ali)

Kisah Nabi, pelukan hangat, dan tradisi saling memaafkan mewarnai halalbihalal SD Mumtas. Momen penuh cinta itu jadi pelajaran berharga tentang empati dan akhlak mulia bagi siswa.

Tagar.co – Rabu pagi, 9 April 2025, suasana Masjid Jenderal Ahmad Yani di Jalan Sidoyoso V/29, Surabaya, terasa berbeda. Tawa riang dan wajah-wajah ceria memenuhi halaman masjid. SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) menggelar kegiatan halalbihalal yang tak biasa: mendongeng bersama Qurrotu A’yun, S.H.I., pendongeng inspiratif yang akrab disapa Bunda A’yun, ditemani boneka lucunya, Adek Dina.

Dengan suara lembut dan penuh semangat, Bunda A’yun mengajak para siswa menyelami kisah-kisah sarat makna dari masa Rasulullah Saw. Acara dibagi menjadi dua sesi: sesi pertama pukul 07.30–09.00 untuk siswa kelas 1–3, dan sesi kedua pukul 09.00–10.15 untuk kelas 4–6.

Baca juga: Safari Berbagi: SD Mumtas dan Ikwam Hadirkan Senyum di Panti Putat Jaya

Pada sesi pertama, Bunda A’yun mengisahkan tentang seorang anak yatim yang bersedih di hari raya Idulfitri karena tak memiliki orang tua untuk merayakan lebaran. Dalam kisah itu, Rasulullah Saw. datang menghampiri sang anak, memeluknya, dan berkata, “Mulai hari ini, aku adalah ayahmu.” Suasana pun menjadi haru. Banyak siswa yang terdiam, larut dalam nilai-nilai kasih sayang dan empati yang mengalir dari cerita tersebut.

Baca Juga:  Mengetuk Langit, Menegakkan Bumi Pendidikan

Sesi kedua tak kalah menggugah. Kali ini, kisah Ukasyah bin Muhshin—seorang sahabat Rasul yang dikenal jujur dan berani—menjadi sorotan. Ukasyah, yang merasa pernah tersakiti, datang kepada Rasulullah untuk meminta keadilan. Rasulullah, dengan rendah hati, mempersilakan Ukasyah membalas. Namun, justru karena keadilan dan keteladanan Rasulullah, Ukasyah luluh, memilih memaafkan, dan menunjukkan rasa cintanya kepada Nabi.

“Saya ingin anak-anak belajar bahwa keberanian bukan hanya soal melawan, tetapi juga tentang kejujuran dan memaafkan,” tutur Bunda A’yun usai sesi mendongeng.

Kegiatan tak berhenti sampai di sana. Anak-anak kemudian menikmati kue lebaran bersama teman-teman sekelas. Gelak tawa dan senyum merekah di setiap sudut kelas. Dalam kebersamaan yang hangat itu, nilai-nilai silaturahmi dan persaudaraan tumbuh alami.

Momen yang paling menyentuh hadir saat para siswa saling bermaafan. Dengan tangan kecil yang menjabat erat, mereka menunduk sopan sembari mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Tradisi sederhana namun sarat makna ini mengajarkan pentingnya saling memaafkan sejak dini.

Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni awal masuk sekolah, tetapi bagian dari pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai Islam.

Baca Juga:  Sehari di Taif: Edukasi, Kontemplasi, dan Dingin yang Menguatkan Iman

“Kami ingin menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak perlu mengenal sosok Rasulullah dan para sahabatnya tidak hanya lewat buku, tapi juga melalui kisah-kisah yang menyentuh hati,” ujarnya.

Ia berharap, kegiatan seperti ini dapat menjadi bekal yang membentuk pribadi anak-anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.

“Semoga semangat berbagi, empati, dan keteladanan yang ditanam hari ini tumbuh menjadi kebiasaan baik bagi mereka di masa depan,” tambahnya, yang juga merupakan anggota Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Halalbihalal ceria ala SD Mumtas ini membuktikan bahwa mengawali hari dengan kisah penuh cinta bisa menjadi fondasi penting dalam pendidikan generasi masa depan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni