Rileks

Menapaki Jejak Sejarah dan Sastra di Pulau Maskawin

31
×

Menapaki Jejak Sejarah dan Sastra di Pulau Maskawin

Sebarkan artikel ini
Makam Raja Ali Haji, pengarang Gurindam Dua Belas

Di Pulau Maskawin ada masjid yang dibangun pada 1832. Mulanya berdinding dan berlantai kayu. Pada perjalanan waktu, masyarakat bergotong royong memperbaikinya dengan dinding tembok. Uniknya tidak menggunakan semen, melainkan putih telur.

Menapaki Jejak Sejarah dan Sastra di Pulau Maskawin; Oleh Hasan Bisri BFC, jurnalis

Tagar.co – Rindu itu akhirnya terbayar. Setelah tahun 2018 urung, tahun 2019 saya berkesempatan menjejakkan kaki di Pulau Penyengat, pulau bersejarah yang menjadi saksi kejayaan sastra Melayu. Kesempatan ini saya dapatkan saat diundang kembali untuk menghadiri Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2019. Lebih dari sekadar menghadiri festival, perjalanan kali ini adalah tentang menapaki jejak Raja Ali Haji, sang pujangga Gurindam XII.

FSIGB, yang dihelat oleh Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau, Dinas Pariwisata dan Budaya Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, memang selalu menjadi magnet bagi para pegiat literasi. Ajang ini menjadi ruang diskusi sastra, peluncuran buku, pertunjukan, dan penganugerahan bagi insan sastra. Namun, bagi saya, daya tarik utamanya adalah kesempatan untuk berziarah ke lokasi bersejarah, khususnya Pulau Penyengat, tempat bersemayamnya Raja Ali Haji, pujangga pengarang Gurindam XII.

Baca juga: Pulau Kelapa: Memanjakan Mata dan Lidah di Sebagian Kepulauan Seribu

Bersama Bambang Widiatmoko, penyair dari Bekasi, dan beberapa pegiat literasi lainnya seperti Dato’ Rida K. Liamsi, kritikus sastra Prof. Maman S. Mahayana, dan Hasan Asfahani, saya terbang menuju Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang. Perjalanan ini menjadi semacam tapak tilas, menjejak kembali tempat-tempat yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya Melayu.

Lunas Sudah

Pada FSIGB I (2018), agenda padat dan keterbatasan waktu membuat saya urung mengunjungi Pulau Penyengat. Padahal, pulau itu merupakan destinasi “wajib” bagi para pegiat literasi, apalagi mengingat di sanalah makam Raja Ali Haji berada. Rasa penasaran itu terus menggantung, hingga akhirnya, pada FSIGB 2019, kesempatan itu datang.

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

Pada hari ketiga, 30 Oktober 2019, kami berziarah ke Pulau Penyengat. Dari Dermaga Penyengat, kami menyeberang dengan perahu pompong sekitar 5 menit. Melewati selasar beratap sepanjang 300 meter, kami tiba di perkampungan dan disambut dengan hidangan makan siang dan jajanan khas Pulau Penyengat. Suasana di warung makan itu seolah membawa saya kembali ke masa kejayaan raja-raja Melayu.

Usai makan siang, rombongan diajak mampir ke Masjid Sultan Riau—dikenal juga dengan nama Masjid Penyengat. Setelah menunaikan salat, kami menyempatkan diri berfoto bersama dengan latar belakang masjid yang megah itu. Kemudian kami berjalan menuju kompleks makam Raja Hamidah Engku Putri, istri Sultan Mahmud.

Pulau Penyengat ini juga disebut Pulau Maskawin karena pulau ini sebagai hadiah pernikahan dari Sultan Mahmud untuk Raja Hamidah Engku Putri. Di sini ada juga makam keluarga pahlawan nasional, yakni Raja Haji Fisabilillah, termasuk Raja Ali Haji, penggubah Gurindam XII yang sudah kita kenal sejak SMP itu. Kami mendoakan mereka.

Di depan pusara Raja Ali Haji, saya merenung sejenak. Betapa besar jasa beliau dalam dunia sastra dan budaya Melayu. Gurindam XII karyanya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan juga pedoman hidup yang sarat dengan nilai-nilai moral dan kearifan lokal. Hingga kini, nilai-nilai itu masih relevan dan penting untuk diresapi.

Selepas itu, kami berziarah ke makam Laksamana Raja Dilaut. Semula aku mengira, nama ini mitos atau legenda belaka. Nyatanya ada sumber sejarahnya. Mereka (empat anak cucu) adalah penguasa wilayah kerajaan Siak Sri Indrapura, pada 1835–1908. Kerajaan ini dominan dan pengaruhnya sampai menjangkau Trengganu, Jambi, Palembang, Lahat, Deli dan Serdang.

Masjid Raya Sultan Riau

Mendalami Sejarah di Hari Jumat

Meski sudah ziarah ke Masjid Penyengat, rasa penasaran saya belum sepenuhnya terpuaskan. Kunjungan singkat itu terasa kurang untuk menyelami kekayaan sejarah dan spiritual yang tersimpan di pulau ini. Maka, sehari setelahnya, di hari Jumat, saya memutuskan untuk kembali, hanya berdua dengan Bambang Widiatmoko.

Baca Juga:  Healing Sejati

Masjid Penyengat dibangun pada 1832. Mulanya berdinding dan berlantai kayu. Pada perjalanan waktu, masyarakat bergotong royong memperbaikinya dengan dinding tembok. Uniknya tidak menggunakan semen, melainkan putih telur.

Baca juga: Menjelajahi Gili Iyang: Pulau Oksigen dengan Sejuta Pesona

Luas keseluruhan kompleks 54,4 X 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29, 3 X 19, 5 meter yang ditopang empat tiang. Di atasnya terdapat 13 kubah dan dipercantik dengan 4 menara setinggi 18 meter. Jumlah kubah dan menara 17 yang melambangkan jumlah rakaat shalat.

Di kanan dan kiri masjid terdapat bangunan empat persegi panjang yang disebut sontoh. Sontoh sebagai madrasah dan tempat rapat penting. Di depan masjid, sisi kanan dan kiri, terdapat saung terbuka terbuat dari kayu (bale-bale). Bale-bale ini sebagai tempat muzakarah dan istirahat para tamu ataupun musafir. Situs Cagar Budaya ini berwarna kuning mencolok. Dari dermaga identitas masjid dan warnanya mudah dikenali.

Tiga Mata Uang dan Sebuah Refleksi

Siang itu, jemaah Jumat belum banyak yang datang. Di halaman yang tinggi, kami disambut pedagang. Mereka menawarkan fotokopi-an sejarah Pulau Penyengat termasuk masjidnya. Ada pula yang menawarkan perlengkapan shalat.

Memasuki ruang utama, kami disambut kotak kaca berisi mushaf besar tulisan tangan Abdurrahman Stambul. Ada pula dua lemari kaca berisi kitab–kitab kuno koleksi Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Melihat kitab-kitab tua itu, saya membayangkan betapa kayanya khazanah literasi dan keilmuan Islam di masa lampau. Sebuah pengingat bahwa tradisi literasi harus terus dijaga dan dilestarikan.

Baca juga: Derawan, Maratua, dan Pulau-Pulau Kecil di Kaltim nan Menawan

Di ruang utama tergantung lampu kristal hadiah dari Raja Prusia. Di mihrab, terdapat mimbar ukiran kayu dengan cat dominan kuning dan keemasan.

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

Sebelum khotbah dimulai, ada pengumuman dari pengurus masjid. Uniknya ketika mengumumkan penerimaan infak disebutkan jumlah dalam tiga mata uang, yakni rupiah, ringgit dan dollar. Hal ini tak mengherankan, mengingat Pulau Penyengat, dengan Masjid Sultan Riau-nya, telah menjadi destinasi wisata sejarah dan religi bagi wisatawan dari berbagai negara, khususnya dari negara serumpun Melayu seperti Malaysia dan Singapura.

Khotbah menggunakan Bahasa Indonesia dengan bumbu Melayu. Meski memasuki awal November, udara membuat gerah.

Mihrab Masjid Pulau Penyengat

Menyusuri Jejak, Menemukan Makna

Selepas salat Jumat, aku dan Bambang mengelilingi pulau menggunakan becak motor. Membelah rerimbunan pohon dan rumah–rumah penduduk. Jalanan masih berupa tanah berbatu.

Kami berhenti di Kampung Ladi, melihat sumur tua ajaib. Lokasinya di bawah rumah adat Melayu Indera Perkasa. Meski lokasinya sangat dekat dengan pinggir laut, tapi air sumur ini tawar. Konon, sumur ini menjadi sumber air tawar bagi penduduk pulau dan tak pernah kering meski di musim kemarau. Sebuah keajaiban alam yang menjadi simbol keberkahan bagi masyarakat Pulau Penyengat.

Perjalanan ke Pulau Penyengat ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual dan intelektual. Menapaki jejak para raja, ulama, dan pujangga di pulau ini, menyadarkan saya akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya.

Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu, seperti yang tertuang dalam Gurindam XII, harus terus digali dan diaktualisasikan dalam kehidupan masa kini. Pulau Penyengat, dengan segala kekayaan sejarah dan budayanya, adalah permata yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Semoga kelak, saya bisa kembali lagi, menimba inspirasi dan kearifan dari pulau maskawin ini. (#)

Bekasi, 18 Januairi 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni