
Dalam setiap helaan napas dan langkah kehidupan, seorang hamba kerap diuji dengan rasa cemas dan khawatir yang berlebihan. Artikel ini mengajak kita merenungkan kembali pentingnya membersihkan hati dari prasangka buruk kepada Allah.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tagar.co – Dalam kehidupan yang penuh gejolak ini, sering kali hati manusia diselimuti rasa cemas, gelisah, dan prasangka buruk terhadap takdir yang Allah tetapkan. Padahal, setiap helaan napas dan tiap kejadian yang menimpa tidak pernah lepas dari ilmu, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya.
Sebuah renungan mendalam datang dari seorang ulama agung, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ketika beliau ditanya, “Bagaimanakah bentuk suuzan (buruk sangka) kepada Allah?” beliau menjawab:
-
Rasa waswas,
-
Selalu khawatir akan terjadi musibah,
-
Khawatir akan hilangnya nikmat dari dirinya.
Semua itu, menurut beliau, adalah bentuk buruk sangka kepada Allah, Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Hilyatul Auliya’, 9/123).
Betapa banyak orang yang lisannya mengaku beriman, tetapi hatinya dipenuhi kekhawatiran, seolah-olah Allah akan menelantarkannya. Ia takut rezeki tidak akan datang, takut kehilangan orang yang dicintai, takut masa depan tidak seperti yang diharapkan. Ia hidup dalam bayang-bayang prasangka terhadap Tuhannya, padahal Rabb-nya telah berfirman:
وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Mā’idah: 23)
Tawakal bukan sekadar menunggu dan berpangku tangan, tetapi keyakinan bulat bahwa Allah adalah sebaik-baik Penolong. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada-Nya, tidak akan pernah dikecewakan. Ketika seseorang yakin bahwa Allah mengatur segala sesuatu dengan penuh kasih dan hikmah, tidak ada celah dalam hatinya untuk rasa cemas yang berlebihan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَإِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman: Aku tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan; dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.” (H.R. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Muslim)
Siapa pun yang dalam hatinya yakin bahwa Allah akan mengatur yang terbaik untuknya, maka itulah yang akan ia dapatkan. Namun, siapa yang hatinya penuh keluhan dan keraguan terhadap keputusan Allah, ia akan terombang-ambing dalam lautan kegelisahan yang tak berujung.
Ketika Nabi Musa ‘alaihisalam dan kaumnya berada di depan Laut Merah, sementara di belakang mereka pasukan Fir‘aun mengejar, orang-orang berkata, “Kita pasti akan tertangkap!” Namun Nabi Musa tidak ragu sedikit pun. Ia berkata:
كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu‘arā’: 62)
Beginilah cara seorang hamba yang mengenal Tuhannya berpikir. Ia tidak takut apa pun selama Allah bersamanya. Ia tidak mencemaskan apa yang belum terjadi, karena keyakinannya kepada Allah lebih besar daripada rasa takutnya terhadap masa depan.
Saudaraku, berprasangka baik kepada Allah bukan hanya menyangka bahwa kebaikan akan datang, tetapi juga menerima dengan lapang dada jika yang datang adalah ujian. Seorang mukmin sejati tahu bahwa setiap ujian dari Allah adalah tanda cinta-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang ridha, baginya keridaan (Allah); dan siapa yang marah, baginya kemurkaan (Allah).” (H.R. Tirmidzi, hasan)
Mari kita belajar membersihkan hati dari prasangka buruk kepada Allah. Ketahuilah, prasangka buruk hanya melemahkan semangat, menumpulkan doa, dan membinasakan harapan. Sebaliknya, prasangka baik kepada Allah melapangkan dada, menguatkan langkah, dan menenangkan jiwa. Sebab kita percaya bahwa rencana Allah lebih indah dari segala impian. Dan bahwa,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (At-Taubah: 120)
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita keyakinan yang kuat kepada-Nya, membersihkan dada dari rasa takut yang tak beralasan, dan mengokohkan kita di jalan tawakal yang hakiki. Jangan takut terhadap masa depan, karena masa depan itu milik Allah. Jangan risau akan kehilangan, karena segala sesuatu yang pergi berada dalam kuasa-Nya.
Dan jangan pernah ragu bahwa Allah Maha Tahu isi hatimu, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertakwa dan berserah diri kepada-Nya.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (At-Thalaq: 2–3) Wallahu a‘lam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












