Feature

Membaca Respons Hamas atas Tawaran Damai Donald Trump

38
×

Membaca Respons Hamas atas Tawaran Damai Donald Trump

Sebarkan artikel ini
Pasukan Hamas (Sumber foto ndtv.com)

Jawaban Hamas atas tawaran damai Donald Trump bukan sekadar ya atau tidak. Di balik penerimaan parsial itu, tersimpan strategi politik yang hati-hati sekaligus penuh tanda tanya.

Oleh Fahmi Salim: Direktur Baitul Maqdis Institute

Tagar.co – Hamas akhirnya menjawab usulan “Rencana Trump”, tepat pada Jumat 3 Oktober 2025 di hari terakhir tenggat yang diminta Donald Trump, Presiden AS. Usulan “rencana damai” Trump untuk Gaza memuat sejumlah poin kontroversial, termasuk pelucutan senjata Hamas, amnesti bagi para pejuangnya, serta penempatan pasukan internasional di Gaza.

Namun, dalam respons awal yang beredar, Hamas justru hanya menyinggung aspek kemanusiaan: penghentian perang, pertukaran tawanan, masuknya bantuan, rekonstruksi, serta opsi menyerahkan administrasi sipil Gaza kepada badan teknokrat independen Palestina dengan dukungan negara-negara Arab dan Islam.

Baca teks lengkap jawaban Hamas di sini

Fakta bahwa Hamas tidak menyebut sama sekali isu pelucutan senjata, amnesti, dan pasukan internasional—tiga isu paling sensitif dalam proposal damai itu—menimbulkan tanda tanya: apa makna di balik “diam” tersebut?

Baca Juga:  Prediksi Prof. Jiang Xueqin tentang Kekalahan Amerika

Bagi Hamas, menerima gencatan senjata, arus bantuan, dan rekonstruksi adalah langkah rasional sekaligus populis. Hal itu memberi sinyal kepada rakyat Gaza bahwa mereka bukan penghalang perdamaian, melainkan pihak yang peduli penderitaan warga.

1. Prioritas Kemanusiaan

Hamas tampaknya menekankan isu-isu yang paling mendesak bagi warga Gaza: gencatan senjata, distribusi bantuan, dan rekonstruksi. Gaza sudah mengalami kehancuran luar biasa sejak Oktober 2023: puluhan ribu korban jiwa, blokade total, hingga ancaman relokasi massal.

Dengan menyuarakan hal ini, mereka ingin menunjukkan peran sebagai aktor politik yang responsif terhadap krisis kemanusiaan, bukan sekadar kelompok militer yang zero-sum game.

2. Menghindari Kehilangan Legitimasi

Pelucutan senjata adalah salah satu isu paling sensitif bagi Hamas. Jika mereka menyebutnya secara eksplisit, apalagi dalam kerangka penerimaan, itu bisa dipersepsikan sebagai pengakuan kekalahan.
Isu pelucutan senjata adalah garis merah.

Baca juga: Strategi Dua Lapis Hamas Hadapi Tawaran Trump

Menyebutnya sama saja dengan mengakui Hamas sebagai pihak kalah perang. Dengan memilih diam, Hamas menjaga legitimasi di mata pendukungnya, sekaligus tetap memberi ruang diplomasi.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Nilai Board of Peace sebagai Nekolim Gaya Baru

3. Pemisahan Sipil dan Militer

Dengan menawarkan opsi teknokrat untuk mengelola Gaza, Hamas mengirimkan sinyal kesiapan mengurangi keterlibatan dalam urusan sipil. Namun, absennya pembahasan mengenai sayap militer menunjukkan bahwa aspek pertahanan tetap mereka anggap sebagai domain yang tidak bisa dinegosiasikan.

Dengan menyatakan kesediaan menyerahkan administrasi Gaza kepada teknokrat independen, Hamas seolah berkata: urusan sipil bisa ditransfer, tetapi urusan militer tetap mereka pegang. Model ini mirip dengan pola Hizbullah di Lebanon.

4. Penolakan Implisit atas Amnesti dan Pasukan Internasional

Bagi Hamas, amnesti mengandung konotasi kriminalisasi terhadap para pejuang, sementara pasukan internasional kerap dipersepsikan sebagai bentuk pendudukan baru. Sikap diam terhadap dua isu ini dapat dibaca sebagai bentuk penolakan tidak langsung.

5. Strategi Negosiasi

Secara keseluruhan, sikap ini menunjukkan pola “selektif”: menerima bagian-bagian yang menguntungkan secara kemanusiaan dan politis, sambil mengabaikan atau menolak secara implisit bagian yang berpotensi melemahkan posisi perlawanan.

Sikap Hamas bisa dibaca sebagai taktik klasik: mengambil poin-poin yang bisa memperkuat posisi mereka (gencatan senjata, bantuan, teknokrat sipil), dan menolak secara diam-diam bagian beracun (pelucutan senjata, amnesti, pasukan internasional).

Baca Juga:  Siklus Sejarah di Balik Prediksi Keruntuhan Israel

Penutup

Respons Hamas yang menekankan isu kemanusiaan, namun menghindari pembahasan pelucutan senjata, merefleksikan strategi politik dua arah: menjaga kredibilitas internasional sebagai pihak yang mau bernegosiasi, sekaligus mempertahankan legitimasi internal sebagai gerakan perlawanan.

Dengan demikian, “diam” di sini bukanlah tanda penerimaan, melainkan bentuk penegasan posisi tanpa konfrontasi terbuka.

Kita akan melihat perkembangan lanjutan, bagaimana tanggapan para pihak terhadap jawaban Hamas atas “ultimatum Trump”. Hari-hari ke depan akan semakin menarik untuk dicermati. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni