
Suatu hari, khotib Jumat tidak datang. Takmir masjid tidak ada yang berani naik mimbar. Siswanto menunjuk Mat Naim jadi khotib. Lalu dia langsung azan setelah khotib membuka salam. Usai salat Jumat, takmir langsung heboh protes tata cara salat Jumat yang berubah.
Tagar.co – Perintis dakwah PCM Lakarsantri Surabaya, Siswanto (71), wafat, Senin (6/10/2025) pukul 21.00 WIB.
Hari Ahad (5/10/2025) sore kesehatannya drop. Keluarganya langsung melarikan ke RS Randegansari Husada. Setelah opname sehari kondisinya terus memburuk hingga meninggal dunia.
Siswanto pernah menjabat Ketua PCM Lakarsantri dua periode mulai 2012-2015 dan 2015-2022. Di periode sekarang menjabat wakil ketua PCM Lakarsantri bidang pengkaderan.
Jenazahnya dimakamkan di pekuburan Sepat Lidah Kulon malam itu juga pukul 24.00 setelah disalatkan di Masjid Bahrul Ulum.
Pemakamannya diantarkan tetangga, kerabat, dan aktivis PCM Lakarsantri. Siswanto meninggalkan tiga putri yang sudah menikah semua. Istrinya, Sulinah, sudah wafat lima tahun lalu.
Anak pertama Siti Rofikoh menuturkan, ayahnya sudah dua tahun ini kesehatannya terganggu. ”Keluhan yang dirasakan lambungnya. Ini menyebabkan tidak nafsu makan dan mudah lelah,” kata Susi, sapaan akrabnya.
Aktivitasnya mulai berkurang. Ketika kondisinya fit berangkat salat berjamaah di Musala Hidayataur-Rahman dekat rumahnya Raya Lidah Kulon 115.
Kadang masih bisa menghadiri rapat PCM. Juga pengajian Ahad PCM dan pengajian di Masjid Al-Qohhar Lidah Kulon.
Kursus Mubalig
Siswanto adalah perintis dakwah Muhammadiyah di Lakarsantri. Dia yang mendirikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Lidah Kulon tahun 1992.
Saat itu PRM Lidah Kulon masih bergabung dengan PCM Karangpilang. Kemudian berpindah ikut PCM Wiyung, lalu PCM Sambikerep.
Tahun 2012 mendirikan PCM Lakarsantri dengan bergabungnya PRM Lidah Kulon, Lakarsantri, dan Sumurwelut. Dia juga yang terpilih menjadi ketua PCM.
PCM Lakarsantri mempunyai amal usaha TK Aisyiyah 59, MI Muhammadiyah 28, Masjid Al-Qohhar, Masjid Bahrul Ulum, Masjid Baitul Halim, Musala Hidayatur-Rahman, dan pengajian.
Lelaki kelahiran Kendal, 22 Juli 1958 ini di masa kecil belajar mengaji Al-Quran di musala desanya, Dusun Truko Desa Surokonto Kecamatan Pageruyung Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Setelah tamat SMA, dia hijrah ke Surabaya pada tahun 1972. Awalnya bekerja sebagai perawat anak di Jl. Dr Sutomo. Lalu November 1974 menikah dengan Sulinah, perempuan Sepat Lidah Kulon.
Sejak itu tinggal di rumah istrinya dan bekerja di toko bahan bangunan Haji Thohir di Wonocolo 76 Sepanjang Sidoarjo.
Tinggal di Lidah Kulon, Siswanto aktif salat jemaah di Langgar Al-Qohar yang berada di halaman rumah Kiai Abdurrohim yang juga pengasuh pengajian Ahad sore Al-Hidayah. Materi kajian Quran, hadis, nahwu dan sharaf.
Kiai Rohim ini Syuriah NU Lakarsantri tapi dekat dengan Muhammadiyah, karena kenal dengan Ahmad Shodiq, Ketua Majelis Tabligh PCM Karangpilang di zaman itu.
Ketika berbincang-bincang santai dengan anggota PCM Lakarsantri, Siswanto pernah bercerita, sewaktu Majelis Tabligh PCM Karangpilang mengadakan Kursus Mubalig Muhammadiyah tahun 1980 malah Kiai Rohim yang menyuruh Siswanto ikut.
Dari kursus mubaligh ini dia mendalami ilmu tauhid, fikih, teknik ceramah, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Selepas kursus itu dia mulai berani ceramah, khotbah Jumat, dan menjadi perintis dakwah Muhammadiyah di Lakarsantri.
Heboh Salat Jumat
Sekitar tahun 1980-an warga Lidah Kulon kalau salat Jumat di Masjid Hidayatul Islamiyah di Lidah Kulon III.
Tata cara salatnya pakai mazhab Syafiiyah. Siswanto juga punya jadwal khotbah di masjid ini tiap Jumat Pon.
Di suatu hari Jumat, khotib tidak datang. Takmir masjid tidak ada yang berani maju menggantikan jadi khotib.
Di antara jemaah ada Mat Naim yang bisa ceramah. Maka Siswanto mengambil inisiatif mempersilakan Mat Naim langsung naik mimbar untuk khotbah.
Setelah Mat Naim mengucapkan salam di atas mimbar, Siswanto azan. Tidak pakai bilal seperti biasanya. Habis salat Jumat, takmir langsung heboh. Mereka protes kepada Siswanto. Kenapa tata cara salat Jumat berubah.
Masalah ini ternyata menjadi besar. Takmir sampai mendatangkan Abah Maswan, tokoh dan modin Lidah Wetan dalam rapat memutuskan peristiwa ini.
Hasil keputusannya, Abah Maswan mengatakan,”Wong Muhammadiyah kongkon nggawe Jumatan dhewe.”
Siswanto dalam kesempatan bincang santai bercerita,”Tanpa sadar waktu itu saya kok langsung terbawa cara Muhammadiyah, karena Mat Naim yang jadi khotib. Padahal saya kadang juga jadi bilal di masjid itu.”
Setelah keputusan rapat itu, Siswanto lalu menemui Kiai Rohim di Langgar Al-Qohhar. Dia ceritakan peristiwa salat Jumat dan pengusiran tak boleh lagi Jumatan di masjid itu.
Respon Kiai Rohim tenang-tenang saja. ”Wis gak papa, Jumatan nang kene ae,” ujar Kiai Rohim menyilakan mengadakan salat Jumat di langgarnya.
Maka menjelang hari Jumat berikutnya Siswanto dibantu Suwarno, Ahmad Wahyudi, Marsito, Sumadi, Edy Santoso mengadakan salat Jumat sendiri di Langgar Al-Qohhar Jln. Raya Lidah Kulon.
Khotibnya dia sendiri. Ada 20 orang yang ikut salat berjemaah. Zaman itu langgarnya masih kecil. Dinding gedek dan lantai plesteran semen.
Jumat berikutnya jemaahnya bertambah. Lama-lama jemaahnya memenuhi langgar. Sebab pengendara yang melintas jalan berhenti dan ikut salat ketika mendengar azan Jumat di langgar itu. Tidak sampai setahun jemaah salat Jumat sudah meluber hingga halaman.
Sejak diadakan salat Jumat di Langgar Al-Qohhar, Siswanto jadi tahu ternyata orang yang sepaham dengan Muhammadiyah banyak juga di Lidah Kulon.
Tahun 1985, Langgar Al-Qohhar dibongkar lalu dibangun masjid lebih besar dari tembok. Sejak saat itu Masjid Al-Qohhar menjadi pusat dakwah Muhammadiyah wilayah Lakarsantri.
Sayangnya, masjid ini bakal terkena pelebaran jalan raya. Tahun anggaran 2025-2026 bakal habis digusur. Anak-anak Kiai Abdurrohim ternyata tidak mau menyerahkan tanah itu sebagai wakaf kepada takmir masjid. (#)
Jurnalis/Penyunting Sugeng Purwanto












