Feature

Tiga Golongan Manusia, Khotbah Idulfitri di PCM Lakarsantri

73
×

Tiga Golongan Manusia, Khotbah Idulfitri di PCM Lakarsantri

Sebarkan artikel ini
Tiga golongan manusia
Ustaz Zaini Abror khotbah Idulfitri di halaman MIM 28 Lakarsantri Surabaya. (Tagar.co/Muamar Khadafi)

Tiga golongan manusia setelah diberi kitab menunjukkan sikap berbeda menjadi pesan khotbah Idulfitri Ustaz Zaini Abror di Muhammadiyah Lakarsantri.

Tagar.coSalat Idulfitri digelar di halaman MI Muhammadiyah Jln. Raya Bangkingan 46 Surabaya, Jumat (20/3/2026).

Salat Id yang dihadiri ratusan jemaah ini dilaksanakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lakarsantri. Hadir sebagai imam dan khatib Zaini Abror, S.Pd.

Dalam khotbahnya Zaini Abror menjelaskan, orang yang berpuasa menemukan dua kegembiraan sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi Allah ta’ala berfirman:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasai).

Dijelaskan, orang berpuasa sehari lalu berbuka dengan minum air menemukan kegembiraan karena haus yang mengeringkan tenggorokan telah basah oleh air menyegarkan.

Berpuasa itu untuk Allah, karena itu dilaksanakan dengan keikhlasan dan keimanan menjalankan perintahnya. Dengan keikhlasan itu mereka bergembira ketika bisa bertemu dengan Tuhannya ketika di akhirat.

Baca Juga:  Muhammadiyah Kota Pasuruan Siapkan 6 Lokasi Salat Idulfitri 20 Maret 2026

Orang mukmin itu hidupnya beribadah kepada Allah. Mengimani hanya Allah Tuhan yang patut disembah sebab Dia yang menciptakan segala sesuatu dan memberi rezeki.

”Karena itu jangan sampai mempunyai iman paradoks. Ada orang yang beriman kepada Allah, tapi masih meminta rezeki kepada selain Allah. Seperti minta penglaris dagangan kepada dukun,” tuturnya.

Dia berpesan untuk selalu taat kepada Allah dan Rasulnya saja supaya kita dimasukkan ke dalam kelompok orang yang diberi nikmat. Seperti disebutkan dalam surah An-Nisa: 69.

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Salat Idulfitri 1447 H di Halaman MIM 28 Bangkingan Lakarsantri Surabaya. (Tagar.co/Muamar Khadafi)

Kemudian dia berpesan untuk memahami tiga golongan manusia yang setelah mereka diberi kitab mempunyai sikap zalimi nafsi, muqtashid, dan sabiqun bilkhairati. Seperti disebutkan dalam surah Fathir: 32.

Baca Juga:  Idulfitri 20 Maret, Ini Tempat Salat Id di Lumajang

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang berlomba dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

Golongan ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ adalah menzalimi diri sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikanny. Golongan وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ atau pertengahan ialah orang yang kebaikannya berimbang dengan kesalahannya.

Sedang golongan  سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ (orang-orang yang berlomba dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah) ialah orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan.

”Mereka adalah orang lebih dulu berbuat kebaikan kepada orang lain. Bersilaturahmi lebih dulu walaupun orang tidak mau bersilaturahmi kepadanya,” tandasnya. (#)

Jurnalis Muamar Khadafi  Penyunting Sugeng Purwanto