
Perpustakaan adalah taman ilmu yang menumbuhkan budaya membaca, membentuk karakter, dan menguatkan dakwah. Di tengah dunia yang berubah cepat, ruang baca menjadi benteng peradaban dan jembatan menuju masyarakat yang tercerahkan.
Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Dakwah Jatim.
Tagar.co – Dalam Islam, ilmu dan dakwah adalah dua sayap yang tidak dapat dipisahkan. Dakwah memerlukan ilmu, dan ilmu akan bernilai ketika digunakan untuk dakwah dan kemaslahatan umat. Salah satu sarana penting yang menopang keduanya adalah ruang baca perpustakaan sekolah dan pesantren—tempat ilmu disemai, akhlak ditanam, dan semangat dakwah dipupuk.
M. Natsir menegaskan bahwa dakwah harus bersandar pada ilmu dan memahami perubahan zaman. Ia menulis bahwa dai mesti “berpikir luas dan ilmiah” serta “mampu membaca keadaan masyarakat” (M. Natsir, Fiqhud Dakwah, 1987).
Baca juga: Banjir Kayu Gelondongan, Dosa Ekologi, dan Korban yang Dilupakan
Maknanya, dakwah bukan sekadar menyeru dengan lisan, tetapi juga membangun kesadaran ilmiah dan pemikiran Islam di tengah umat. Karena itu, seorang aktivis dakwah harus menjadikan membaca sebagai kebutuhan utama. M. Natsir menulis bahwa dakwah yang kuat lahir dari pemikiran yang matang dan ilmu yang luas, dan ilmu tidak dapat diraih tanpa budaya membaca.
Selanjutnya, M. Natsir menekankan pentingnya dai yang berilmu dan berpikir luas, bukan hanya pandai berbicara. Karena itu, membaca menjadi jembatan antara idealisme dakwah dan realitas masyarakat.
Kekuatan Besar
Dakwah tidak boleh buta terhadap perkembangan dunia. Ia harus hadir dengan pandangan luas, berpijak pada ilmu, dan berjiwa pembaharu.
Di tengah dunia yang semakin bising dan cepat berubah, ruang baca sering terlihat sederhana—hanya beberapa rak buku, kursi, dan meja belajar. Namun, di balik kesederhanaan itu tersembunyi kekuatan besar yang mampu membuka cakrawala, menumbuhkan akhlak, dan membangun peradaban.
Melalui ruang baca, seseorang dapat melihat dunia: mengenal sejarah umat, memahami karakter manusia, menyelami ilmu, bahkan memaknai diri sendiri.
Dalam tradisi Islam, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah ibadah, perintah wahyu pertama, dan fondasi kemuliaan umat. Oleh karena itu, membangun budaya membaca berarti membangun masa depan.
Pusat Dakwah Ilmiah
Pesantren memiliki misi besar: mencetak ulama yang berilmu dan berakhlak. Dalam konteks ini, perpustakaan pesantren memegang peranan penting sebagai pusat literasi dakwah.
Melalui kitab-kitab turats, buku tafsir, hadis, fikih, dan sejarah Islam, santri mempelajari cara berdakwah yang berilmu dan beradab. Dari perpustakaan, lahir gagasan dan khutbah yang mencerahkan masyarakat.
Raghib As-Sirjani menegaskan bahwa perpustakaan di masa lalu bukan hanya tempat membaca, tetapi juga tempat berdiskusi dan menyebarkan ilmu. Semangat inilah yang perlu dihidupkan di pesantren dan sekolah Islam masa kini (Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, 2011: 236).
Perpustakaan memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam. Pada masa keemasan Islam, perpustakaan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Berikut beberapa perpustakaan terkenal dalam tradisi Islam:
-
Bait Al-Hikmah (Bagdad, Irak): Didirikan pada abad ke-8 M oleh Khalifah Al-Ma’mun, menjadi pusat terjemahan dan penelitian ilmu pengetahuan.
-
Perpustakaan Kordoba (Kordoba, Spanyol): Didirikan pada abad ke-10 M, dengan koleksi sekitar 400.000 judul buku.
-
Perpustakaan Fatimiyah (Kairo, Mesir): Didirikan pada abad ke-10 M, menyimpan koleksi buku yang sangat berharga termasuk naskah-naskah kuno.
-
Perpustakaan Nizamiyah (Bagdad, Irak): Didirikan pada abad ke-11 M, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Perpustakaan-perpustakaan ini berperan penting dalam melestarikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta menjadi pusat kegiatan ilmiah dan kebudayaan.
Jika mengacu pada Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017, luas gedung perpustakaan yang dibutuhkan paling sedikit 0,4 m² × jumlah siswa. Ada juga acuan lama (SNP) yang menyebutkan:
-
untuk 13–18 rombongan belajar, luas minimal 224 m²;
-
untuk 19–27 rombongan belajar, minimal 280 m².
Jumlah koleksi buku untuk 1.000 murid atau santri minimal 5.000–10.000 judul atau lebih, agar tersedia variasi koleksi yang mencukupi—termasuk buku teks, buku pengayaan (nonfiksi dan fiksi), referensi, kitab keagamaan, serta bacaan umum.
Dari Perpustakaan ke Masyarakat
Sekolah dan pesantren yang memiliki perpustakaan aktif sesungguhnya sedang berdakwah kepada masyarakat. Buku yang dibaca santri akan menjadi ilmu yang diamalkan; ilmu yang ditulis guru menjadi bahan khutbah dan ceramah yang menghidupkan hati umat.
Perpustakaan sekolah dan pesantren adalah taman dakwah dan ilmu. Di sanalah generasi muda Islam belajar berpikir, beradab, dan berdakwah dengan pena. Menghidupkan perpustakaan berarti menyalakan kembali obor ilmu dan akhlak di tengah masyarakat.
Demikian pula ruang baca atau perpustakaan di rumah dapat meningkatkan minat baca, memotivasi anggota keluarga untuk membaca lebih banyak, dan memperluas sumber pengetahuan mereka. Ruang baca memungkinkan setiap anggota keluarga belajar, meningkatkan wawasan, berpikir kreatif, dan mengembangkan ide-ide baru.
Dengan demikian, ruang baca atau perpustakaan rumah dapat menjadi investasi yang berharga bagi keluarga. Ia dapat menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan serta memungkinkan anggota keluarga menikmati waktu bersama dan meningkatkan kebahagiaan mereka.
Menata Masa Depan
Ruang baca mungkin tidak luas, tetapi ia mampu memperluas hati, pikiran, dan akhlak manusia. Ketika rumah, sekolah, dan masyarakat membangun ruang baca, mereka sesungguhnya sedang membangun masa depan umat.
Melihat dunia dalam ruang baca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga perjalanan spiritual: melihat kebesaran Allah melalui ilmu-Nya, melihat diri melalui renungan, dan melihat dunia melalui hikmah yang termaktub dalam buku.
Semoga ruang baca kita menjadi tempat tumbuhnya generasi yang beradab, berilmu, dan berakhlak mulia. Wallahua’lam. (#)
Rewwin, 11 Desember 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












