Sejarah

Salahuddin Al-Ayyubi dan Jalan Panjang Pembebasan Baitulmaqdis

307
×

Salahuddin Al-Ayyubi dan Jalan Panjang Pembebasan Baitulmaqdis

Sebarkan artikel ini
Salahuddin Al-Ayyubi (Ilustrasi AI)

Pembebasan Baitulmaqdis bukan sekadar kemenangan militer, melainkan puncak revolusi iman, persatuan, dan kepemimpinan berakhlak yang ditempa melalui perjuangan panjang umat Islam.

Oleh Kemas Adil Mastjik; Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jawa Timur

Tagar.co – Dalam setiap peristiwa besar peradaban Islam, selalu ada momentum spiritual yang menandai perubahan arah sejarah umat.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (At-Taubah: 36)

Dalam Islam, bulan-bulan suci yang tidak boleh dilanggar kehormatannya adalah Zulqaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Empat bulan ini merupakan periode dalam kalender Islam ketika peperangan dilarang, kecuali sebagai bentuk pembelaan terhadap agresi.

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah peradaban Islam yang terjadi pada bulan Rajab—bulan yang dimuliakan (al-asyhur al-hurum)—adalah pembebasan Baitulmaqdis oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

Setelah hampir 88 tahun berada di bawah pendudukan Tentara Salib sejak 492 Hijriah (1099 Masehi), kota suci itu akhirnya kembali ke pangkuan umat Islam. Penaklukan Tentara Salib sebelumnya diiringi pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Muslim dan Yahudi. Masjidilaqsa dinodai, ribuan nyawa melayang, dan Baitulmaqdis kehilangan kedamaian.

Baca Juga:  Siti Khadijah: Teladan Perempuan Mulia Sepanjang Zaman

Selama puluhan tahun itu, umat Islam terpecah, sibuk dengan konflik internal, dan jauh dari nilai persatuan. Salahuddin Al-Ayyubi hadir bukan sekadar sebagai panglima perang, melainkan sebagai pembaharu ruh umat.

Ia memulai perjuangannya dengan menyatukan kaum Muslim, membersihkan akidah, memperkuat pendidikan, dan menegakkan keadilan. Al-Quds dibebaskan dengan akhlak mulia, tanpa pembantaian.

Akidah, Persatuan Umat, dan Kepemimpinan

Pembebasan Baitulmaqdis oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 583 Hijriah atau 1187 Masehi merupakan puncak dari proses panjang perbaikan akidah, persatuan umat, dan kepemimpinan yang berakhlak.

Peristiwa ini sering disederhanakan sebagai kemenangan militer atas Tentara Salib. Padahal, menurut sumber-sumber sejarah klasik, kemenangan itu lahir dari revolusi moral dan spiritual yang mendahuluinya.

Ibnu Al-Atsir menggambarkan kondisi umat Islam sebelum masa Salahuddin sebagai keadaan yang rapuh dan terpecah. Wilayah-wilayah Islam saling bermusuhan, para penguasa sibuk mempertahankan kekuasaan lokal, sementara Baitul Maqdis berada di bawah pendudukan Tentara Salib hampir satu abad.

Dalam situasi ini, Salahuddin memahami bahwa pembebasan Al-Quds tidak mungkin dicapai hanya dengan kekuatan senjata. Langkah awalnya bukanlah perang terbuka, melainkan pembenahan internal umat.

Ia memperkuat akidah Ahlusunah, mendukung peran ulama, membangun madrasah, serta menata kehidupan sosial dan politik agar lebih adil. Inilah bentuk nyata dari firman Allah bahwa perubahan nasib suatu kaum bergantung pada perubahan diri mereka sendiri (Ar-Ra‘d: 11).

Baca Juga:  Melihat Dunia dalam Ruang Baca di Perpustakaan

Langkah berikutnya adalah menyatukan kekuatan politik umat Islam. Abu Syamah Al-Maqdisi mencatat bahwa keberhasilan Salahuddin menyatukan Mesir dan Syam menjadi fondasi utama kebangkitan kaum Muslim. Persatuan ini mengakhiri konflik internal yang selama ini melemahkan umat dan membuka jalan bagi perlawanan terorganisasi terhadap Tentara Salib.

Puncaknya adalah kemenangan dalam Perang Hittin tahun 583 H. Ibnu Katsir menegaskan bahwa kekalahan Tentara Salib di Hittin bukan sekadar kekalahan militer, melainkan kehancuran moral dan politik mereka di Palestina. Dari sinilah jalan menuju pembebasan Baitul Maqdis terbuka.

Yang paling mengesankan bukan hanya kemenangan perang, tetapi sikap Salahuddin setelah memasuki kota suci itu. Ibnu Syaddad mencatat bahwa ia memberikan jaminan keselamatan bagi penduduk Kristen, membolehkan mereka menebus diri secara manusiawi, bahkan memaafkan banyak pihak—sikap yang sangat kontras dengan pembantaian yang dilakukan Tentara Salib pada 1099 Masehi.

Perilaku ini menegaskan bahwa jihad dalam Islam bukan ekspresi kebencian, melainkan sarana menegakkan keadilan dan rahmat, sebagaimana misi Rasulullah Saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiya: 107).

Politik, Integritas Moral, dan Dakwah

Keteladanan Salahuddin juga tampak dalam kehidupan pribadinya. Ibnu Syaddad meriwayatkan bahwa ketika ia wafat, hampir tidak ada harta yang ditinggalkannya. Bahkan biaya pemakamannya harus dibantu orang lain.

Baca Juga:  Rajab dan Seni Memaafkan: Merawat Hati di Tengah Luka Relasi

Kekuasaan tidak menjadikannya kaya, tetapi semakin meneguhkan sifat zuhud dan amanah. Ibnu Khaldun kemudian mengabadikannya sebagai teladan pemimpin ideal yang memadukan kekuatan politik dengan integritas moral.

Pembebasan Baitulmaqdis adalah pesan sejarah yang terus berbicara kepada umat Islam hari ini: bahwa kemuliaan tidak diraih dengan kemarahan, tetapi dengan iman; bukan dengan kebencian, melainkan dengan keadilan; bukan dengan kezaliman, melainkan dengan akhlak.

Jika dahulu Baitulmaqdis dibebaskan dengan persatuan dan kesalehan, maka kebangkitan umat hari ini pun harus dimulai dari tempat yang sama: perbaikan diri, keluarga, pendidikan, dan persaudaraan umat.

Kemenangan besar tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari kesalehan kolektif, persatuan umat, dan kepemimpinan yang berakhlak. Baitul Maqdis tidak dibebaskan dalam satu malam, tetapi melalui proses panjang tarbiyah, dakwah, dan kesabaran lintas generasi.

Sejarah Salahuddin Al-Ayyubi seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam masa kini. Jika ingin bangkit dan bermartabat, maka jalan itu dimulai dari pembinaan iman, persatuan, dan akhlak, seraya meyakini janji Allah:

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kamu dan meneguhkan kedudukan kamu.” (Muhammad: 7). Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni