
Pernah diterjang luapan Bengawan Solo, Masjid Darussalam kini dibangun kembali di lahan baru. Semangat warga Kalimondo membuktikan: jika iman jadi fondasi, tak ada bencana yang mampu meruntuhkan harapan.
Tagar.co — Di tepian Bengawan Solo, tepat di ujung selatan Desa Pelangwot, Kacamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur—yang akrab disebut Kalimondo—sedang dibangun sebuah masjid megah bernama Masjid Darussalam.
Tak banyak yang tahu, rumah ibadah yang dirancang menampung lebih dari 750 jemaah itu berawal dari sebuah langgar kecil berbahan bambu, tempat anak-anak desa menimba ilmu agama dan belajar membaca Al-Qur’an.
Baca juga: MIM 8 Pelangwot: Dari Tepi Bengawan Lahir Guru Besar Ilmu Al-Qur’an
“Dulu sebelum ada madrasah MIM 8, anak-anak dari berbagai desa seperti Bulutigo, Sukorjo, Sawo Gendong, dan Pelangwot mengaji di langgar kecil itu,” tutur Umiyati, 65 tahun, mengenang masa kecilnya.
Dari Bambu ke Batu Bata
Sekitar tahun 1970, masyarakat setempat berinisiatif memperbaiki langgar bambu tersebut menjadi bangunan yang lebih kokoh. Materialnya sederhana: perpaduan kayu jati dan batu bata.
Lokasinya bergeser sedikit dari tempat semula, berdiri di tengah rimbunnya pepohonan sawo, mangga, dan kawis, dikelilingi kolam (jublang) yang menjadi tempat mandi dan wudu.
Subuh-subuh kami bangun lebih dulu, bukan untuk tahajud, tapi untuk mencari buah kawis yang jatuh di sekitar langgar.
Lahirnya Masjid Darussalam
Memasuki tahun 1980-an, bangunan itu diperluas dan diresmikan dengan nama Masjid Darussalam, yang berarti kampung damai.
Nama itu bukan sekadar doa, melainkan cita-cita Haji Munawar, tokoh agama sekaligus penggerak masyarakat saat itu, agar masyarakat Kalimondo yang dulunya dikenal “abangan” perlahan berubah menjadi masyarakat religius.
Masjid Darussalam tumbuh menjadi simbol persatuan. Ia berdiri di atas semua golongan, melampaui sekat organisasi, dan menjadi tempat berteduh spiritual bagi siapa pun yang datang untuk beribadah.
Diterpa Banjir Bengawan
Namun, perjuangan panjang itu tidak lepas dari ujian. Karena berdiri di tepian Bengawan Solo, masjid tersebut sering tergenang banjir saat air sungai meluap, terutama ketika tanggul bagian selatan —yang dikenal dengan sebutan tanggul wedok— jebol. Bahkan, pada tahun 2006, banjir besar melanda lagi, memperparah kondisi bangunan.
Meski begitu, jemaah tetap setia menjaga masjid mereka. Selama sepuluh tahun mereka bertahan dalam kondisi seperti itu.

Semangat Gotong Royong Membangun Kembali
Titik balik terjadi pada Juni 2016. Dengan modal awal hanya Rp55 juta hasil urunan jemaah, takmir Masjid Darussalam membeli sebidang tanah milik Haji Fadlan di sebelah barat masjid lama. Di sanalah dimulai pembangunan Masjid Darussalam yang baru—lebih luas, lebih kokoh, dan lebih indah.
Proses pembangunannya menjadi bukti nyata semangat gotong royong warga Kalimondo. Tak ada sekat organisasi; semua bergandengan tangan dalam kerja bakti, bahu-membahu menyumbangkan tenaga, waktu, dan rezeki.
Kini, masjid itu di atas lahan yang aman dari banjir, dengan arsitektur yang lapang dan lantai dua yang mampu menampung lebih dari 750 jemaah.
Rumah Damai yang Menyatukan
Masjid Darussalam bukan sekadar tempat salat, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan spiritual warga. Di sinilah anak-anak kembali belajar mengaji, para remaja berdiskusi, dan masyarakat bersilaturahmi.
“Masjid ini milik semua,” kata salah satu takmir dengan bangga. “Dari sinilah kita belajar arti sesungguhnya dari Darussalam — rumah kedamaian.” (#)
Jurnalis Malikan Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni












