
Bermula dari langgar bambu di tepi Bengawan Solo, MIM 8 Pelangwot tumbuh menjadi madrasah berprestasi yang melahirkan ribuan alumni. Dari desa kecil ini pula lahir Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag., Guru Besar Ilmu Al-Qur’an yang menjadi kebanggaan almamater dan masyarakat Lamongan.
Tagar.co — Waktu seolah berputar mundur ke tahun 1960-an. Di tepi Bengawan Solo yang tenang, di Dusun Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan tumbuh sebuah cita-cita besar: menghadirkan lembaga pendidikan Islam agar anak-anak desa tak perlu menyeberangi sungai ke Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sekaran—sekarang masuk Kecamatan Maduran hasil pemekaran—hanya untuk sekolah.
Cita-cita itu berawal dari sosok sederhana, H. Abdul Khodir, yang memiliki menantu muda bernama Moenawar, lulusan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor, Kabupaten Ponorogo.
Baca juga: Dusun Pilang Asri, Kisah Kampung Baru di Atas Tanah Lama
Setelah menikah pada 1959, Moenawar memiliki semangat mengajar dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dengan dukungan keluarga besar dan masyarakat Pelangwot, berdirilah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah—cikal bakal MIM 8 Pelangwot hari ini.
Dari Langgar ke Madrasah
Awalnya, madrasah itu berdiri di lingkungan RW 3, tak jauh dari rumah mertua Moenawar. Bangunan sederhana dari kayu dan bambu itu menjadi tempat menimba ilmu bagi anak-anak desa.
Kehadiran madrasah ini disambut dengan bahagia. Sejak itu, anak-anak Pelangwot tak perlu lagi menyeberangi Bengawan Solo untuk sekolah.
Pada tahun 1971, karena alasan tertentu, madrasah dipindahkan ke wilayah RW 1, menempati tanah milik keluarga besar H. Moenawar AH. Lembaga ini kemudian resmi diakui oleh Departemen Agama dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM).
Tahun 1971 pula, madrasah ini menamatkan lulusan pertamanya, meski saat itu masih bergabung administrasinya dengan MIM 1 Pangkatrejo.
Tonggak Kepemimpinan dan Masa Perjuangan
Selama lebih dari tiga dekade, H. Moenawar AH membina sekaligus memimpin madrasah itu dengan penuh ketekunan. Dari ruang kelas yang sederhana hingga masa serba terbatas, dia menjadi sosok guru, kepala madrasah, sekaligus penggerak masyarakat.
Setelah dia purna tugas pada 1993, tongkat estafet kepemimpinan diteruskan oleh para penerusnya:
-
Malikan Saputra (1993–2002)
-
Misbakus Surur, S.H. (2002–2007)
-
Wahid, S.Pd. (2007–2015)
-
Dra. Nur Inayati (2015–2023)
- Ali imron (2023 sampai sekarang)
Setiap pemimpin membawa warna dan dedikasi tersendiri, menjaga agar MIM 8 tetap bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Bertahan di Tengah Ujian Alam
Tahun 2006 menjadi masa sulit bagi MIM 8. Tanah longsor di tepi Bengawan Solo menyebabkan bangunan madrasah rusak berat. Namun, semangat warga tak surut. Hasil musyawarah wali murid dan pengurus akhirnya memutuskan untuk merelokasi madrasah ke Dusun Pilang Asri.
Dua tahun kemudian, pada 2008, MIM 8 resmi menempati gedung baru yang berdiri megah berkat swadaya masyarakat dan bantuan Pemerintah Kabupaten Lamongan.
Dari sanalah wajah baru madrasah mulai terbentuk—lebih kokoh, lebih luas, dan jauh lebih layak untuk menumbuhkan generasi penerus bangsa.
Jejek Alumni
Kini, MIM 8 Pilang Asri bukan lagi sekadar sekolah desa. Ia telah menamatkan ribuan siswa yang kini tersebar di berbagai bidang: ada yang menjadi kiai, guru, perawat, dokter, bahkan doktor dan profesor.
Salah satu alumninya yang lulus pada 1975 kini bergelar Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag., dan baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ulum Al-Qur’an (Ilmu Al-Qur’an) di Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Ponorogo.
Ada juga Dr. Mustakim, S.S., M.Si, yang kini menjabat sebagai Kepala UPT. Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Pengukuhan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar MIM 8 Pilang Asri. Ia menjadi bukti bahwa madrasah di pelosok Lamongan mampu menanamkan nilai ilmu, iman, dan ketekunan yang membuahkan prestasi akademik tertinggi di tingkat nasional. (#)
Jurnalis Malikan Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni












