
Tangis pecah saat anak-anak SD Almadany menjabat tangan orang tua, memohon restu untuk ujian. Malam Abata mengubah sekolah jadi ruang spiritual yang menyentuh hati.
Tagar.co – Sepertiga malam terakhir di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Gresik, menjadi saksi bisu haru-biru yang membalut halaman sekolah. Di bawah langit April yang bening, puluhan siswa duduk bersimpuh di samping orang tuanya. Mereka berdoa, memohon kepada Allah agar diberikan kelancaran menghadapi asesmen puncak di akhir dan awal Mei mendatang.
Itulah suasana Malam Abata—akronim dari Almadany Bina Iman dan Takwa—yang digelar pada 17–18 April 2025. Bukan sekadar acara keagamaan, Malam Abata menjadi ruang perjumpaan batin antara anak dan orang tua, antara usaha dan doa, antara harapan dan air mata.
Baca juga: Kebahagiaan Ganda: Kakak Beradik Ini Juara di Lomba Milad SD Almadany
Acara dimulai dengan lantunan doa bersama yang dipimpin oleh Mahfudz Efendi, Waka Humas sekaligus wali kelas VI. Dengan suara lembut dan musik pengiring yang menyentuh, ia mengajak semua yang hadir merenungi perjalanan belajar para siswa. Sebuah tayangan video turut diputar, menghadirkan kilasan kenangan masa-masa sekolah, mengaduk perasaan. Tak sedikit yang meneteskan air mata—baik siswa, orang tua, maupun guru.
Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika para siswa berdiri, menjabat tangan orang tua mereka sambil meminta maaf dan memohon doa. Pelukan hangat menjadi pelabuhan rindu dan restu. Di sela isakan tangis, terdengar bisikan lembut doa dari orang tua yang menggema penuh cinta dan harapan.

Usai sesi muhasabah, rangkaian kegiatan berlanjut dengan motivasi keislaman oleh Ustaz Adi Mustofa, M.Pd.I., seorang da’i muda yang tampil sederhana namun penuh semangat. Dalam tausiyah bertema “Libatkan Allah dalam setiap Urusanmu”, ia mengingatkan para siswa tentang kesempurnaan ciptaan Allah.
“Coba lihat tubuh kita,” ujarnya sambil menunjuk kepala. “Adanya rambut, gusi tempat menempelnya gigi, dan lubang hidung yang mengarah ke bawah—semua bukan kebetulan. Itu bukti Allah menciptakan kita sebagai makhluk paling sempurna, sebagaimana disebut dalam surah At-Tiin.”
Ustaz Adi mengajak siswa untuk terus berpikir, mendengar, dan melihat dengan hati yang selalu melibatkan Allah. “Gunakan otakmu untuk berpikir, telingamu untuk mendengar, matamu untuk melihat, tapi jangan pernah tinggalkan Allah dalam tindakanmu,” serunya penuh semangat.
Acara ditutup dengan pekikan yel-yel khas SD Almadany yang menggema bersama semangat malam itu:
“SD Almadany?”
“Allah the First, Allah Now, Allah Forever!”
Di malam yang syahdu itu, tak ada yang lebih indah selain doa yang melangit, tangan yang saling menggenggam, dan hati yang bertaut dalam cinta serta harapan. Malam Abata bukan sekadar kegiatan sekolah. Ia adalah malam penguatan jiwa—malam ketika anak-anak belajar percaya bahwa segala usaha akan bermakna bila dimulai dan diakhiri dengan menyebut nama-Nya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












