Feature

Magelang Memanggil! Guru-Guru SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran Menjelajah dengan VW

25
×

Magelang Memanggil! Guru-Guru SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran Menjelajah dengan VW

Sebarkan artikel ini
Acara fun trip dengan mobil VW (Tagar.co/Istimewa)

Magelang Memanggil! Family Gathering SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur di Magelang Jawa Tengah penuh dengan cerita. Berpetualang naik VW hingga belajar sejarah di Bukit Menoreh.

Tagar.co – Magelang memanggil! Rabu-Jumat (1-3/1/2025), menjadi hari kebersamaan dan keceriaan keluarga besar SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Mereka berhimpun dalam kehangatan Family Gathering Goes to Yogyakarta. Sebuah perjalanan yang tak hanya melepas penat, tetapi juga merajut kenangan manis. Pada Jumat (3/1/2025), eksotisme Magelang menjadi destinasi pilihan yang memikat hati.

Pagi itu, mentari baru saja menyapa, rombongan telah check out dari Hotel Ramada di Jalan Magelang, Sleman, Yogyakarta. Tepat pukul 09.00 WIB, dua bus yang mengangkut 63 jiwa itu bergerak meninggalkan hiruk-pikuk Kota Pelajar, menuju petualangan baru di Magelang Safari VW.

Berbeda dengan perjalanan biasa, kali ini rombongan diajak merasakan sensasi fun trip yang istimewa. Mereka menaiki mobil VW klasik yang ikonik, beriringan menyusuri hamparan sawah yang menghijau, menikmati sejuknya udara pedesaan yang membelai wajah. Sebuah pengalaman yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian.

Baca juga: Wisata Religi, PRA Sendangagung Kunjungi Masjid-Masjid

Petualangan seru ini membawa mereka singgah di sentra oleh-oleh ‘Rengginang Bu Yatin’ yang berada di Dusun 8, Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Yogyakarta. Di sini, para guru dan keluarga besar SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran disambut dengan aneka olahan ketan yang menggoda selera.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Tak hanya memanjakan lidah, mereka pun diajak untuk turut serta dalam proses pembuatan rengginang. Kuswaji, ST, MPd, sang Waka Kurikulum, tampak bersemangat mencetak rengginang menjadi bentuk lote-lote. Di sisi lain, M Faris, SPd, guru Bahasa Inggris, tak mau ketinggalan, mencoba membuat rengginang berbentuk mangkok dengan bimbingan Jariyah, instruktur ‘Rengginang Bu Yatin’.

“Wah, ini contoh suami sayang istri, ya! Besok pasti mau bikinkan istrinya di rumah,” celetuk Lisa Rahmawati, M.E., M.Pd., guru IPA, yang seketika memecah suasana dengan tawa riang. Keakraban dan kehangatan keluarga begitu terasa. Pantas saja, banyak dari mereka yang memborong rengginang Bu Yatin sebagai buah tangan untuk keluarga tercinta.

Menelusuri Jejak Perjuangan di Bukit Menoreh

Puas dengan wisata kuliner, rombongan kembali menaiki mobil VW klasik, melanjutkan perjalanan menuju Lapangan Randualas, Desa Wisata Tuk Songo. Di tempat ini, panorama alam yang memesona terbentang luas.

Dengan latar belakang Bukit Menoreh yang menjulang tinggi, mereka seolah diajak untuk menelusuri jejak sejarah. Konon, di bukit inilah Jenderal Sudirman menyusun strategi dan bergerilya melawan penjajah Belanda.

Di bawah komando Heni Fahruddin, owner Biro Travel MSDP Tour, rombongan berpose dengan berbagai gaya, mengabadikan momen tak terlupakan dengan latar belakang Bukit Menoreh yang sarat nilai sejarah. Semangat mereka kian berkobar, diiringi yel-yel yang menggema, memecah keheningan perbukitan.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan
Rombongan family gathering dengan background Bukit Menoreh (Tagar.co/Istimewa))

Petualangan berlanjut ke Ashfa Madu Borobudur, destinasi wisata edukasi yang mengenalkan dunia lebah dan madu. Sebanyak 45 mobil VW aneka warna membawa rombongan menuju lokasi ini.

Di sini, mereka mendapatkan segudang pengetahuan baru tentang lebah, dari cara beternak hingga ragam jenis madu yang dihasilkan. Tak hanya itu, mereka juga dipersilakan mencicipi tester madu dan menikmati teh tawar atau manis yang telah disediakan.

Selepas dari Ashfa Madu Borobudur, rombongan bergegas menuju pemberhentian mobil VW pada pukul 10.45 WIB. Perjalanan dilanjutkan dengan menunaikan salat Jumat di Masjid An-Nur, Magelang.

Masjid ini memukau rombongan dengan arsitektur modernnya yang megah dan menawan. “Tempat wudunya nyaman, suara gemericik airnya menenangkan, dan tempat pijakan kakinya pun pas sekali. Benar-benar recommended,” ungkap Krista Irmala, guru Bahasa Inggris SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran, menggambarkan kekagumannya.

Rombongan naik VW (Tagar.co/Istimewa)

Malioboro yang Ikonik

Perjalanan dilanjutkan menuju pusat oleh-oleh legendaris, Bakpia Pathok 25. Walau sudah sering disambangi, tempat ini tetap menjadi primadona bagi para wisatawan, termasuk rombongan dari Paciran. “Kalau ke Yogya, rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir ke Bakpia Pathok 25,” ujar Wahyuni, istri Aminuddin, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran, yang diamini oleh banyak pengunjung lainnya.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Sebagai penutup rangkaian perjalanan, rombongan diajak menikmati suasana senja di Malioboro, ikon Kota Yogyakarta yang selalu ramai dan penuh cerita. Kini, Malioboro tampil lebih tertib dan nyaman tanpa pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan.

Para pelancong, termasuk rombongan dari Paciran, dapat leluasa berjalan kaki, menikmati suasana, berbelanja di toko-toko, atau sekadar duduk santai menikmati lalu lalang manusia. Di sepanjang trotoar, sayup-sayup terdengar alunan gending Jawa yang syahdu, menambah suasana syahdu dan romantis.

Senja pun kian merona, langit mulai menggelap, menandakan berakhirnya petualangan hari kedua. Rombongan family gathering kemudian masuk ke dalam bus yang terparkir di area Abu Bakar Ali, bersiap untuk kembali ke Paciran.

Perjalanan Family Gathering Goes to Yogyakarta ini meninggalkan kesan mendalam, mempererat tali silaturahmi keluarga besar SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran. Dengan hati yang riang dan semangat yang terbarukan, para guru siap kembali mengabdi, mencerdaskan generasi penerus bangsa, Sri (4/1/2025). Semangat! (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni