Cerpen

Luka Batin Imran

31
×

Luka Batin Imran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/freepik.com premium

Di balik kenakalan Imran, tersimpan luka yang dalam. Kekerasan di rumah, kebencian di sekolah. Mampukah Ratih, sang guru, mengembalikan senyum di wajah Imran?

Luka Batin Imran; Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Imran, anak laki-laki tampan dengan kulit sawo matang. Usianya masih lima tahun, tapi tutur kata dan tingkahnya tidak seperti anak seusianya. Bicaranya kasar, sedikit menantang dan tidak sopan. Tidak ada yang membuatnya takut ataupun segan.

“Saya sudah pasrah, Bunda. Imran ini nakalnya bukan main, tidak bisa diatur. Tidak ada yang ditakuti sama sekali,” tutur Fatimah, nenek Imran kepada Ratih, guru kelas Imran saat menjemput Imran ke sekolah.

Baca juga cerpen Nadhirotul Mawaddah: Guru untuk Akbar

“Apa di rumah ada masalah, Nek?” Tanya Ratih pada Nenek Fatimah. “Tidak ada Bunda, semua baik-baik saja,” jawab Nenek Fatimah. Namun Ratih membaca raut wajah wanita paruh baya itu seperti menyembunyikan sesuatu di balik ucapannya.

Tiada hari tanpa suara tangisan dari para korban Imran. Ada yang mengadu karena ditendang, ada yang mengadu karena dipukul, ada yang mengadu karena didorong sampai jatuh. Seperti sudah jadi makanan sehari-hari, nasihat dari Ratih tidak pernah digubris oleh Imran.

“Bunda, bukuku dirobek Imran…Imran nakal…” teriak Indira sambil memperlihatkan buku yang sudah koyak kepada Ratih. Indira mendekati Ratih sambil menangis. Ratih menghela nafas, entah sudah berapa kali Imran membuat ulah. Setiap gerakannya selalu saja memakan korban.

“Imran, kalau berbuat salah harus mau minta maaf. Itu tanda anak hebat,” ucapan Ratih seolah angin lalu bagi Imran.

Indira masih saja menangis. Ratih mendekati Indira dan mewakili Imran untuk meminta maaf.

“Maaf ya Indira, mungkin Imran masih belum tahu cara minta maaf. Kita doakan semoga Imran jadi anak yang baik dan mau minta maaf jika berbuat salah ya,” pinta Ratih pada Indira.

“Kenapa Bunda selalu bela Imran, Imran kan nakal,” Indira memprotes tindakan Ratih. Dia merasa Imran selalu mendapatkan pembelaan di setiap kesalahannya.

“Baiklah, jika besok Imran berbuat jahil pada Indira, Indira boleh kok balas perbuatan Imran,” Ratih memperbolehkan Indira membalas perbuatan Imran jika lain kali Imran berbuat ulah lagi padanya. Hal ini untuk menyenangkan hati Indira. Indira pun mengangguk tanda mengerti.

Ratih mendekati Imran yang sibuk dengan mainannya. Ditatapnya wajah polos Imran sambil memutar otak bagaimana cara membuat Imran berubah. Imran memalingkan muka, seolah tahu kalau dia sedang diawasi.

“Imran, tahu tidak Bunda itu sayaaaaaang banget sama Imran,” ucap Ratih pada Imran, berharap Imran mau mendengarkan ucapannya. Namun, Imran tetap tak bergeming dari tempat duduknya. Sorot matanya tajam ke arah Ratih, seperti ada kemarahan yang tersimpan.

“Saking sayangnya Bunda sama Imran, Bunda nggak mau lihat Imran dibenci sama teman-teman,” Ratih melanjutkan ucapannya. Imran tetap tidak bereaksi. Hanya matanya yang menatap Ratih tajam.

“Ya sudah, kalau hari ini Imran masih belum bisa, mungkin besok Imran bisa ya,” pinta Ratih pada Imran.

Baca Juga:  Fania dan Ketakutan-Ketakutan Kecil

“Bunda tidak akan pernah bosan doakan Imran, semoga Imran jadi anak yang baik, suka bantu temannya, mau bermain dengan baik sama temannya….”

“Pyaaar……!!!” Belum selesai Ratih bicara pada Imran, jam dinding yang semula menempel sempurna tiba-tiba jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Rupanya Imran melempar jam dinding dengan balok yang dipegangnya.

“Aaaaaaaaaaaaa…..” Dion berteriak kesakitan. Kepalanya mengeluarkan darah segar. Anak-anak yang lain berhamburan mendekati Dion. Di sebelah Dion, ada Cantika yang menangis kencang. Hidung Cantika juga berdarah terkena pecahan kaca dari jam dinding yang jatuh.

Baca juga cerpen Nadhirotul Mawaddah: Sekar

Mendengar suara gaduh di kelas Ratih, Dewi guru di kelas sebelah datang memberikan pertolongan. Kedua anak yang terluka segera dibawa ke klinik terdekat. Kepala sekolah segera menghubungi orang tua dari Dion dan Cantika.

Keesokan harinya, Ratih dipanggil oleh kepala sekolah untuk menghadap ke kantor. Di kantor sudah menunggu orang tua Dena dan Cantika. Melihat Ratih masuk ke dalam ruangan, orang tua Dena dan Cantika langsung mencecar Ratih dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan.

“Kenapa bisa terjadi hal seperti ini sih, Bunda?” Protes Ibu Dena, orang tua Dion. “Saya tidak terima anak saya bisa terluka seperti itu. Bagaimana bisa seorang guru tidak bisa menjaga keamanan anak didiknya? Dua loh korbannya,” kemarahan Ibu Dena semakin menjadi-jadi. Ratih hanya bisa tertunduk dan meminta maaf atas kejadian ini.

“Cantika bilang Imran pelakunya,” Ibu Reyna ikut berbicara. “Benar begitu, Bunda?” Tanya Ibu Reyna orang tua Cantika kepada Ratih. Ratih tidak bisa menyembunyikan kejadian ini karena sudah terjadi korban, dan Imran memang harus bertanggung jawab.

“Mohon maaf, Imran tidak sengaja melakukan itu, Ma. Ini terjadi di luar kendali saya,” tutur Ratih berharap kedua orang tua itu tidak sepenuhnya menyalahkan Imran atas kejadian yang menimpa anak-anaknya.

“Sebagai guru kelas, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang menimpa Dion dan Cantika. Saya juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pendampingan kepada Imran,” terang Ratih.

“Sudah tahu Imran itu nakal, masih saja dibela. Kembalikan saja dia kepada orang tuanya. Orang tua macam apa tidak bisa mendidik anaknya dengan baik,” Ibu Dena masih saja meluapkan emosinya.

“Panggil dong orang tuanya ke sekolah, suruh mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada anak-anak kami,” timpal Ibu Reyna tidak kalah sengit.

“Mohon maaf, kami sudah menghubungi orang tua Imran tapi rupanya orang tua Imran berhalangan hadir, jadi selama Imran di sekolah dia menjadi tanggung jawab saya,” kata Ratih dengan tetap merendah.

Dalam hati Ratih juga bertanya-tanya mengapa orang tua Imran tidak pernah sekalipun datang ke sekolah walaupun sudah berkali-kali dipanggil. Setiap Ratih berkeinginan untuk berkunjung ke rumah pun selalu ditolak oleh orang tua Imran dengan alasan sibuk bekerja.

Baca Juga:  Kue Lebaran Tersaji di Kelas, Momen Indah Halalbihalal di TK  Handayani

“Sekali lagi saya selaku guru kelas Imran, memohon maaf atas kejadian yang menimpa Dion dan Cantika, semoga ke depannya tidak terulang lagi kejadian yang sama seperti ini,” kembali Ratih meminta maaf atas nama Imran.

“Kami pegang janjinya, kami tidak segan-segan melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib kalau sampai terulang lagi,” Ibu Dena memberikan peringatan kepada Ratih. Walaupun kepala sekolah sudah memberikan masukan tetap kedua orang tua tersebut tidak bisa terima.

Merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi, Ibu Dena dan Ibu Reyna undur diri dengan masih menyimpan amarah.

Sepeninggal orang tua Dion dan Cantika, Ratih berdiskusi dengan kepala sekolah.

“Sebaiknya Bu Ratih berkunjung ke rumah Imran. Sampaikan kepada mereka tentang perilaku anaknya di sekolah,” usul kepala sekolah kepada Ratih.

“Baik Pak Amar, nanti sepulang sekolah saya akan mengunjungi rumah Imran. Semoga ada solusi atas semua permasalahan yang terjadi pada Imran,” tutur Ratih.

Baca juga cerpen Nadhirotul Mawaddah: Panggilan Jiwa

Ratih keluar dari kantor dengan langkah gontai. Tanpa disadarinya, Imran ada di balik pintu kantor mendengarkan semua perbincangan Ratih dengan orang tua Dion dan Cantika, bahkan perbincangan Ratih dengan Pak Amar, sang kepala sekolah pun dia dengarkan.

Merasa ada yang berat, Ratih menghentikan langkahnya. Rupanya Imran memegang lengan baju Ratih dari belakang. Ratih menoleh, Imran memandanginya dengan tatapan memelas. Belum pernah sekalipun Imran menampakkan wajah seperti itu. Biasanya terlihat garang dan tanpa rasa takut. Kali ini berbeda, Imran seolah kehilangan kekuatan yang selama ini menguasai dirinya.

“Ada apa, Imran?” Ratih duduk menyejajarkan tubuhnya dengan Imran. Dia pandangi wajah polos Imran dengan penuh perhatian, tanpa rasa marah.

Imran menunduk, menyembunyikan wajahnya. Namun Ratih bisa memahami ada penyesalan pada diri Imran. Hanya saja Imran belum bisa mengungkapkannya.

Imran menangis, mengeluarkan semua emosi yang selama ini dia pendam. Ratih tidak kuasa melihat Imran yang diliputi rasa bersalah. Dipeluknya Imran dengan pelukan hangat. Pelukan Ratih membuat tangisan Imran semakin menjadi. Ratih seolah ikut larut dalam kepedihan Imran.

“Tidak apa-apa Imran, menangislah…Bunda tahu apa yang Imran rasakan,” Ratih berusaha menenangkan Imran. “Nanti saat Dion dan Cantika masuk sekolah, Imran minta maaf ya, Nak,” pinta Ratih pada Imran saat tangisan Imran mulai reda. Imran pun mengangguk. Alhamdulillah, mungkin ini cara Allah memberikan jalan untuk Imran menjadi lebih baik, batin Ratih.

Jam sekolah usai. Satu per satu murid dijemput oleh orang tua masing-masing. Seperti biasa, Ratih melepas kepergian murid-muridnya di depan pintu gerbang sekolah.

“Imran tidak dijemput nenek?” tanya Ratih saat melihat Imran belum juga dijemput.

“Nenek sakit, Bunda,” jawab Imran. “Jadi Imran tidak ada yang jemput?” kembali Ratih bertanya kepada Imran. Imran menggelengkan kepala. “Baiklah, Bunda antar pulang ya…” Ratih menawarkan diri untuk mengantarkan Imran pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan Imran hanya terdiam. Ratih berusaha mengajak berbincang namun Imran lebih memilih untuk diam. Baiklah, mungkin Imran masih belum bisa terbuka saat ini, semoga nanti Imran bisa membuka hatinya dan mau berbagi cerita, gumam Ratih.

Baca Juga:  Sebelum Bel Itu Benar-Benar Berbunyi

Rumah yang mereka tuju tertutup rapat. Imran membuka pintu tanpa mempersilahkan Ratih masuk ke dalam. Dengan ragu Ratih mengikuti Imran dari belakang.

“Imran, orang tua Imran tidak ada di rumah?” tanya Ratih. “Tidak ada, Bunda,” jawab Imran lirih.

Terdengar suara batuk dari dalam. Rupanya nenek Imran ada di dalam kamar. Ratih masuk ke kamar nenek dengan perasaan tidak menentu.

“Nenek…” Ratih memeluk nenek Fatimah yang terkulai lemas di atas tempat tidur. Wajah sang nenek penuh lebam. Sudah bisa ditebak oleh Ratih ini pasti tindak kekerasan.

“Nenek harus ke rumah sakit, mari saya antar, Nek,” ajak Ratih. “Ndak usah Bunda, nanti sembuh sendiri kok, ndak usah repot-repot,” Nenek Fatimah berusaha menolak ajakan Ratih.

Nenek Fatimah berusaha duduk walaupun dengan susah payah. Akhirnya sang nenek bercerita kepada Ratih bahwa selama ini Imran terbiasa melihat kekerasan di rumahnya. Sang ayah, suka sekali pulang dalam keadaan mabuk berat dan tidak jarang melakukan kekerasan kepada ibu Imran.

Lambat laun ibu Imran merasa tidak kuat dan lari dari rumah, meninggalkan Imran dan Nenek Fatimah. Sepeninggal ibu Imran, Nenek Fatimah yang menjadi bulan-bulanan ayah Imran. Meskipun masalah sepele ayah Imran bisa marah luar biasa. Hal inilah yang memicu Imran bertindak kasar di sekolah.

“Mungkin tindakan Imran di sekolah adalah sebagai bentuk pelampiasan karena di rumah menyaksikan ayahnya seperti itu, Bunda,” terang Nenek Fatimah.

“Dia tidak bisa membalas kekerasan yang dilakukan ayahnya, jadi dia lampiaskan di sekolah,” lanjut nenek Fatimah.

“Betul begitu, Imran?” Tanya Ratih pada Imran yang ikut menemui Nenek Fatimah. Imran menunduk tanpa bersuara.

“Bunda tahu Imran anak yang baik, Imran tahu kan tindakan yang dilakukan ayah Imran itu tidak patut untuk dicontoh?” Suara Ratih terdengar sangat berat namun Ratih harus bisa menguatkan Imran.

“Imran harus selalu mendoakan ayah Imran, agar ayah Imran berubah menjadi baik. Allah pasti akan mengabulkan doa anak saleh, jadi Imran jangan patah semangat untuk selalu mendoakan ayah Imran ya,” pinta Ratih.

Imran kembali menangis tersedu-sedu. Ratih menjerit di dalam hati, betapa Imran sangat membutuhkan pertolongan. Di balik tingkahnya yang selalu membuat onar di dalam kelas, tersimpan luka yang begitu dalam.

Ratih berusaha membantu Imran agar bisa bangkit dari keterpurukan. Dia membuat laporan kepada komisi perlindungan anak. Ayah Imran akhirnya mendapatkan pembinaan dan lambat laun Imran berubah menjadi anak yang penurut dan ceria. Dia berkembang sebagaimana layaknya anak usia dini yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan. Tidak ada lagi keluh kesah dari teman-teman sebayanya karena diganggu oleh Imran. Yang ada hanya gelak tawa malaikat-malaikat kecil di kelas Ratih. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…