Feature

Guru SMP Meka Wokshop Membuat Soal dengan Pendekatan Deep Learning dan Bantuan AI

36
×

Guru SMP Meka Wokshop Membuat Soal dengan Pendekatan Deep Learning dan Bantuan AI

Sebarkan artikel ini
Guru SMP Muhammadiyah 6 Krian dalam workshop penyusunan soal, Kamis (30/1/2025). (Tagar.co/Aniwati)

Inovasi pendidikan di SMP Muhammadiyah 6 Krian Sidoarjo (SMP Meka): guru belajar deep learning dan AI untuk ciptakan soal yang asah kemampuan berpikir kritis siswa.

Tagar.co – Dulu, guru bikin soal ujian bikin pusing. Sekarang? Mereka justru asyik ‘bermain’ dengan AI dengan pendekatan deep learning. Di SMP Muhammadiyah 6 Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, perubahan ini bukan lagi mimpi, tapi kenyataan.

Semua itu berlangsung saat 25 guru dari berbagai mata pelajaran SMP Muhammadiyah 6 Krian mengikuti Workshop Penyusunan Soal pada Kamis, 30 Januari 2025.

Baca juga: Petualangan dan Penguatan Iman: Mabit Seru SMP Meka

Kegiatan ini  dipandu oleh Adri Pranoto Edi, pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. Fokus utama dari workshop ini adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan soal serta penerapan deep learning dalam pembelajaran.

Inovasi dalam Penyusunan Soal: Sentuhan AI dan Deep Learning

Kepala SMP Muhammadiyah 6 Krian/SMP Meka, Muhammad Taufiqqurrohman, M.Pd., membuka acara dengan menekankan pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan, terutama dalam penyusunan soal yang tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga mampu mengasah pemikiran kritis siswa.

“Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, kreatif, dan mampu menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Salah satu langkah penting dalam mewujudkan hal tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam atau deep learning, termasuk dalam proses penyusunan soal,” jelasnya.

Baca Juga:  Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan

Adri Pranoto Edi kemudian memperkenalkan konsep kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pembuatan soal. Dia menjelaskan bagaimana AI dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi guru dalam menyusun soal yang lebih beragam, adaptif, dan sesuai dengan tingkat kognitif siswa.

AI tidak hanya mempercepat proses penyusunan soal, tetapi juga memungkinkan pembuatan soal yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, sehingga setiap siswa mendapatkan tantangan yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Deep Learning: Lebih dari Sekadar Menghafal

Inti dari workshop ini adalah pemahaman tentang konsep deep learning dalam pembelajaran. Adri Pranoto Edi menjelaskan deep learning bukanlah sekadar menghafal materi, tetapi lebih dari itu, yaitu pemahaman mendalam, analisis, serta penerapan konsep dalam berbagai konteks kehidupan nyata.

“Deep learning itu tentang bagaimana siswa benar-benar memahami ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ suatu konsep bekerja, bukan hanya sekadar ‘apa’,” ujarnya.

Dia memaparkan tiga prinsip utama dalam deep learning: berpusat pada siswa, berorientasi pada proses, dan berkaitan dengan dunia nyata. Pembelajaran harus lebih fokus pada keterlibatan aktif siswa dalam menggali pengetahuan, menekankan proses berpikir, eksplorasi, dan refleksi dalam memahami suatu konsep, serta mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dan permasalahan dunia nyata agar siswa lebih memahami relevansi ilmu yang dipelajari.

Baca Juga:  Menjaga Relevansi Islam melalui Ijtihad

Implementasi Deep Learning dalam Pembelajaran

Adri Pranoto Edi juga memberikan panduan praktis tentang tahapan implementasi deep learning di kelas. Beberapa langkah utama yang dapat diterapkan oleh guru antara lain: merancang pertanyaan kritis yang mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif, mendorong diskusi dan refleksi untuk memberikan ruang bagi siswa untuk bertukar pikiran dan merenungkan pemahaman mereka, menggunakan proyek dan studi kasus yang membantu siswa memahami bagaimana suatu konsep diterapkan dalam kehidupan nyata, serta memberikan umpan balik yang membangun dan berfokus pada peningkatan pemahaman siswa, bukan sekadar memberikan nilai.

Transformasi Peran Guru: Fasilitator dan Mentor

Dalam sesi terakhir, dibahas mengenai transformasi peran guru dalam ekosistem deep learning. Guru tidak lagi hanya menjadi pemberi informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, mentor, dan motivator bagi siswa.

Guru harus mampu membimbing siswa dalam proses eksplorasi ilmu serta menanamkan kebiasaan berpikir kritis dan analitis. “Guru di era deep learning adalah arsitek pembelajaran, yang merancang pengalaman belajar yang memberdayakan siswa,” kata Adri Pranoto Edi.

Baca Juga:  RAT Koperasi Bina Pemuda Krian Perkuat Kepercayaan Anggota lewat Laporan Transparan

Harapan Baru untuk Pendidikan yang Lebih Baik

Workshop ini memberikan wawasan baru bagi para guru SMP Muhammadiyah 6 Krian tentang bagaimana penyusunan soal dapat dikembangkan dengan bantuan teknologi AI serta pendekatan deep learning. Dengan memahami prinsip dan tahapan implementasi deep learning, para guru diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif, di mana para guru dapat bertukar pengalaman serta berbagi strategi dalam menerapkan pembelajaran mendalam di kelas masing-masing. Dengan adanya workshop ini, diharapkan terjadi perubahan positif dalam metode pembelajaran yang lebih inovatif dan efektif, demi kemajuan pendidikan di Indonesia. (#)

Jurnalis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni