
Perlahan menyusuri Sungai Sekonyer, rombongan diajak berburu kunang-kunang di kawasan pohon nipah. Makan malam digelar berteman kerlip kunang-kunang. Setelahnya, mereka menerima kejutan menantang dalam kegelapan yang tak terduga.
Tagar.co — Malam kedua sekaligus malam terakhir berwisata dengan kelotok mengarungi Sungai Sekonyer di Taman Nasional Tanjung Puting, Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, bulan sabit bersinar malu-malu. Kadang tampak jelas, kadang menyelinap di balik awan.
Malam itu tidak seterang kemarin—kami pikir akan kecewa. Ternyata tidak. Meski bintang-bintang terlihat tak sebanyak malam sebelumnya, kerlip serupa datang dari pucuk pepohonan yang gelap.
Seekor kunang-kunang menyapa kami, hinggap sebentar di kelotok. Seperti pembawa kabar bahwa kami akan memasuki kawasan cahaya rahasia. Perlahan, kelip-kelip kecil serupa mulai muncul di pucuk pohon. Satu… dua… lalu banyak. Di rooftop kelotok, kami berteriak girang seperti anak kecil setiap menemui pohon yang bercahaya. Ini pemandangan langka.
Mata saya yang mulai terbiasa dengan gelap pun ikut menari, mencari kilau itu. Kadang, saat teman-teman menunjuk, saya masih celingukan. Sampai kelotok sudah terlalu dekat—atau terlalu jauh. Mungkin saya perlu ganti kacamata, hehe.

Makan Malam Bercahaya
Kami perlahan menyusuri sungai, mencari pohon tempat kunang-kunang tinggal yang bisa kami gunakan untuk parkir sebentar. Dua kru sesekali mengarahkan senter ke pohon nipah di ujung tikungan.
Tiap kelotok yang bersandar di tepi sungai, terlihat bersanding dengan kelip lampu alami. Mereka makan malam ditemani pohon bercahaya.
Kami pun menanti giliran hingga akhirnya menemukan satu pohon berselimut kunang-kunang, tanpa kelotok lain. Hanya kami dan pohon itu. Saya sempat berpikir… mungkinkah inspirasi pohon Natal bersinar berasal dari sini?
Rombongan open trip kami segera mengeluarkan ponsel dengan daya terbatas, bersiap lenyap. Maklum, di sana selain minim sinyal juga minim listrik. Terlebih jika tidak ada panas matahari, baterai panel surya tidak bisa terisi. Listrik pun mati.
Saya tidak termasuk tim yang mengabadikan cahaya kunang-kunang. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena baterai ponsel saya sudah habis. Saya membatin, di saat inilah mata dengan segala kecanggihannya bisa saya andalkan. Daya masih penuh maksimal untuk mengantarkan sinyal ke otak, menyimpan memori indah sebanyak-banyaknya.
Sama seperti malam sebelumnya, pertunjukan alam ini kami nikmati sekitar pukul 21.00 WIB. Perihal waktu, di sini masih menggunakan WIB, jadi tidak ada perbedaan waktu meski berbeda pulau dengan tempat tinggal saya di Gresik, Jawa Timur.
Alhamdulillah, langit cerah. Bintang muncul kembali. Bulan sabit tersenyum sebentar. Dan permukaan sungai… ikut bercahaya. Semua hal malam itu bercahaya. Termasuk hati saya, yang diam-diam belajar: keindahan sejati sering kali datang… bukan dari hal yang kita siapkan, tetapi dari kejutan-kejutan sunyi yang penuh makna.
Cahaya yang Tak Padam
Setelah puas bertualang sepanjang hari—dari burung enggang yang melintas diam, bikin ketupat tulak bala bersama Acil Masnih, hingga kerlip kunang-kunang di pucuk pepohonan—malam benar-benar datang. Tubuh kami lelah, tetapi hati sangat penuh.
Saya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Kelotok kami mengapung tenang di pinggir sungai yang gelap. Di dalam kamar, hangatnya udara menetap, membuat tubuh gerah.
Malam itu, tantangan kecil menyapa. Saya baru menyadari, semua lampu telah padam. Ponsel saya pun mati, kehabisan daya. Artinya, tidak bisa pakai senter untuk ke kamar mandi.
Saya sendirian. Tanpa cahaya. Tanpa suara. Hanya saya dan gelap. Namun, saya memutuskan untuk tetap bersih diri. Membiarkan diri bersatu kembali dengan alam.
Cahaya tipis menerobos dari jendela kamar mandi. Bukan dari lampu, tetapi dari pantulan langit di atas pohon nipah. Sejujurnya tidak cukup untuk memberi arah. Tidak terang. Tapi saya berusaha mengingat lokasi kran dan segala di dalam kamar mandi full kayu itu.
Di sanalah saya teringat keyakinan Zarah—tokoh utama novel Partikel karya Dee Lestari yang juga menceritakan penangkaran orangutan di Kalimantan—ketika menjelajah jantung hutan di Bukit Jambul. Dalam novel fiksi ilmiah itu diceritakan, mata kita bisa beradaptasi dengan gelap dan tak ada yang perlu ditakutkan ketika kita kembali bersatu dengan alam.
Saya pejamkan mata sebentar sambil menikmati ayunan kapal yang bergoyang ringan terkena ombak. Menarik napas dalam dan panjang. Malam itu, saya memilih untuk menerima gelap dengan damai. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












