Feature

Kurban Jadi Jalan Dakwah: PRM, Pemuda, dan Aisyiyah Bahu Membahu di Sendangagung

32
×

Kurban Jadi Jalan Dakwah: PRM, Pemuda, dan Aisyiyah Bahu Membahu di Sendangagung

Sebarkan artikel ini
Daging kurban yang sudah siap dikemas oleh panitia kurban (Tagar.co/Alimin Jaal)

Di Masjid An-Nur Sendangagung, kurban tak sekadar ibadah. Tiga pilar Muhammadiyah—PRM, Pemuda Muhammadiyah, dan ‘Aisyiyah—bersinergi membagikan 1.300 bungkus daging, memasak, dan mempererat ukhuwah.

Tagar.co – Sabtu (7/6/25) pagi, halaman Masjid An-Nur berubah menjadi pusat aktivitas penuh makna. Tak sekadar tempat ibadah, masjid milik Muhammadiyah di Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur itu menjelma ruang kebersamaan saat ratusan warga bergotong-royong menyembelih, membungkus, dan mendistribusikan daging kurban.

Bismillah, Allahuakbar …” ucap Musrofin, M.Pd.I.,—anggota aktif Muhammadiyah yang juga mengajar di MA Maskumambang dan menjabat Kepala MI Putra Maskumambang Gresik—saat menyembelih seekor sapi. Tangannya mantap, suaranya tenang, melaksanakan syariat dengan penuh tanggung jawab.

Ahmad Muhtar, M.Pd., Ketua Takmir Masjid An-Nur menjelaskan alasan pemilihan hari Sabtu untuk penyembelihan. “Kami sengaja tidak melakukannya di hari Jumat agar tidak mengganggu aktivitas salat Jumat. Jumlah hewan kurban tahun ini cukup banyak dan prosesnya memakan waktu panjang. Semua kami laksanakan sesuai syariat,” ujarnya.

Tahun ini, tercatat 7 ekor sapi, 25 ekor domba, dan 8 ekor kambing yang dikurbankan oleh para shohibul kurban melalui PRM Sendangagung.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Penyembelihan dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Para anggota Pemuda Muhammadiyah turut serta, bergotong-royong menguliti, memotong, menimbang, hingga membungkus daging. Setiap bungkus berisi 1,1 kilogram daging bersih, yang kemudian didistribusikan kepada warga Muhammadiyah, Nahdliyin, siswa-siswi PG, TK A dan B, MI Muhammadiyah 13, SMP Muhammadiyah 12, hingga IPM. Total 1.300 bungkus daging berhasil dibagikan.

Salah satu penerima daging kurban, Mbah Arsyah (75), warga Kampung Lebak Sendangagung dari kalangan Nahdliyin, menyampaikan rasa terima kasihnya dengan wajah sumringah, “Matur suwun, ben tahun iki isih dijatah daging kurban.”

Makan Bersama

Menjelang pukul 12.30 WIB, pendistribusian nyaris rampung. Dari arah belakang masjid, aroma masakan khas Iduladha mulai menyeruak—rawon dan asem-asem balungan sapi dan kambing menggoda siapa pun yang lewat. Dapur ‘Aisyiyah, yang dikoordinasi oleh Titin Zuliana, pimpinan Ranting Aisyiyah Sendangagung, sibuk melayani permintaan makan siang.

Letih karena seharian berjibaku dengan proses penyembelihan dan distribusi, panitia tampak sabar mengantre giliran makan. Menu yang ditawarkan sederhana, tetapi nikmat: rawon sapi atau asem-asem balungan kambing dan sapi, dilengkapi buah segar seperti semangka, jeruk, dan melon, serta es teh yang menyegarkan.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Momentum Iduladha di Sendangagung tak sekadar ritual penyembelihan. Ia menjadi potret nyata sinergi antar unsur Muhammadiyah—bapak-bapak dari PRM, Pemuda Muhammadiyah, dan ibu-ibu dari Aisyiyah—yang bahu membahu dalam semangat kebersamaan.

Meski secara jumlah warga Muhammadiyah di Sendangagung tak besar, kualitas dan kekompakan mereka menjelma sebagai kekuatan. Dalam kesederhanaan, mereka menunjukkan bahwa kebersamaan dan pengabdian adalah ruh dari gerakan dakwah yang terus tumbuh dari kampung kecil, untuk kemaslahatan umat. (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni