
Di Pusat Layanan Terpadu Aisyiyah Gresik, anak-anak dan remaja disabilitas tuli di belajar membaca Al-Qur’an melalui gerakan jemari. Lewat bahasa isyarat, huruf-huruf Hijaiah dirangkai dengan sabar. Bagi mereka, tangan adalah lisan yang mempertemukan hening dengan kalamullah.
Tagar.co — Beberapa remaja dan anak-anak tampak tekun menirukan gerakan jemari tangan kanan membentuk rangkaian huruf-huruf Hijaiah. Sesekali terdengar celetukan suara pelan.
Tatapan mata mereka tajam, mengikuti bentuk-bentuk isyarat tangan yang merangkai lafal ayat suci Al-Qur’an. Jemari mereka menari lincah, seolah menggantikan merdunya lantunan kalam suci.
Baca juga: Kreatif! Pop-up Tiga Dimensi Siswa Smamsatu Ungkap Misteri Rekaman Proklamasi
Setiap huruf memiliki isyarat sendiri—lengkap hingga detail titik di atas atau di tengah—dan tak satu pun huruf terlewat. Membaca ayat Al-Qur’an melalui bahasa isyarat memang bukan perkara mudah, tetapi mereka melakukannya dengan sabar.
Begitulah suasana di Aula Lantai 2 Pusat Layanan Terpadu Aisyiyah (PLTA) Kabupaten Gresik, di Jalan Ikan Gurami Nomor 4 BP Kulon, Ahad (15/6/2025).
Semangat Dulu, Membaca Kemudian
Sebelum pembelajaran dimulai, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik, Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I., menyapa satu per satu peserta. Dengan hangat, dia mengajak anak-anak dan remaja penyandang disabilitas tuli berbincang, sesekali menyelipkan isyarat tangan.
Ia kemudian memperkenalkan pendamping yang datang bersamanya. “Namanya Bu Estu,” ucapnya sambil memperagakan isyarat huruf E, S, T, dan U dengan jemari, merujuk nama saya, yang hadir sebagai Wakil Ketua Majelis PAUD Dasmen PDA Gresik.
Tak lupa, Bu Innik, sapaannya, juga mengingatkan mereka untuk tetap rajin mengaji. Tangannya membuat isyarat seperti jemari yang saling mengatup menghadap ke atas di depan dada, menyerupai dampar kayu tempat meletakkan mushaf.
“Jangan lupa salat,” pesannya sambil memperagakan gerakan takbiratul ihram dan bersedekap. Serempak, para peserta membalas dengan anggukan dan jempol kanan teracung.
“Membaca Al-Qur’an ini supaya kita mendapat pahala dari Allah. Setiap huruf yang dibaca, dapat sepuluh pahala dari Allah,” tuturnya.
Bu Innik mengangkat kedua tangan sejajar pundak sambil mengepalkannya. “Jadi kalian harus semangat, ya!”

Menunggu Mood
Namun, tak semua peserta langsung antusias maju ke depan. Beberapa anak tampak enggan, bahkan cemberut sejak datang. Ibu mereka tetap sabar menenangkan, sambil ikut mencermati materi isyarat Hijaiah.
“Tidak apa-apa ya, Bunda. Nanti bisa ditularkan ilmunya ke anak di rumah,” ujar Bu Innik menyemangati para ibu.
Sesi latihan pun berlangsung bergantian. Bunda-bunda yang mengantar, satu per satu memberanikan diri membaca dengan isyarat tangan di depan. Melihat keberanian para ibu, anak-anak yang semula malu pun mulai berebut maju.
Mereka menirukan gambar isyarat tangan: digerakkan ke kanan, ke bawah, atau diputar, yang dengan sabar saya dampingi, , yang tak lepas tersenyum.
Suasana semakin riuh ketika anak-anak menilai isyarat para peserta. Bu Innik sengaja meminta saya, yang baru pertama belajar, memperagakan bacaan.
Ternyata, isyarat huruf ra saya kurang menghadap ke atas dan belum diputar sebagai tanda tasydid.
“Yang normal ternyata belum tentu benar kalau yang menilai disabilitas, he…,” kata Bu Innik terkekeh.
Menurutnya, inilah indahnya belajar bersama: saling membetulkan dan saling memahami, tanpa sekat siapa normal dan siapa disabilitas.

Ada PR-nya
Menjelang penutupan, Bu Innik memberi “pekerjaan rumah” bagi para peserta untuk pertemuan bulan depan.
“Yaitu membaca Al-Qur’an dengan isyarat, mulai surat Al-Fatihah,” ujarnya sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dada lalu mengangkatnya ke atas sambil dibuka.
“Lalu surat An-Nas,” tambahnya, memperagakan tangan kiri di dada dan tangan kanan seolah mencubit lalu digerakkan sedikit ke atas.
“Jadi, nanti di rumah tetap belajar, sambil melemaskan jari-jemari,” ujarnya.
Meski kata-kata mereka terbatasi, jemari mereka berkata lebih lantang: semua berhak membaca Kalamullah dengan caranya masing-masing. (#)
Jurnalis Estu Rahayu Penyunting Mohammad Nurfatoni












