Rileks

Ketika Hati Tertawan di Pulau Sultan

39
×

Ketika Hati Tertawan di Pulau Sultan

Sebarkan artikel ini
Ternate, pulau para Sultan

Pulau Sultan, apa itu? Itu, julukan untuk Ternate. Memang, Ternate dikenal sebagai Pulau Sultan karena sejarahnya yang kaya dengan kesultanan.

Ketika Hati Tertawan di Pulau Sultan; Oleh Akhmad Saikhu, ASN Kemenkes tinggal di Madiun

Tagar.co – Terletak di Maluku Utara, Ternate adalah pusat dari Kesultanan Ternate, salah satu kerajaan Islam tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Kesultanan ini memainkan peran penting dalam perdagangan rempah-rempah, terutama cengkeh, yang menarik minat pedagang dari seluruh dunia seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Baca juga: Makam Hamzah, Menapaki Jejak Perang Uhud

Selain itu, para sultan Ternate juga berkontribusi dalam penyebaran Islam dan memiliki pengaruh besar dalam politik dan budaya. Itulah sebabnya Ternate mendapatkan julukan yang istimewa, Pulau Sultan.

Berkah Tugas

Di pagi yang cerah di Ternate, pada 16 Mei 2017, pesawat Garuda yang terbang dari Jakarta sejak tengah malam mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Babullah. Setelah perjalanan udara sekitar 3,5 jam, saya tiba di Ternate pada pukul 07.40 waktu setempat.

Kali ini, tujuan saya adalah untuk melakukan supervisi Riset Nasional Tanaman Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan. Tujuannya, untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai jenis tanaman obat dan pemanfaatannya di berbagai suku di Indonesia.

Ristoja di Maluku Utara sudah berlangsung sejak 2012, dengan total 16 titik pengamatan di suku-suku seperti Galela, Sula, Ternate, Togutil, Moratai hingga Patani. Namun, kali ini saya hanya akan mengunjungi titik pengamatan di suku Galela yang terletak di Desa Simau, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara.

Baca Juga:  Healing Sejati
Menyeberangi Laut Maluku dari Ternate ke Sofifi dengan speedboat

Kuliner Beken

Sesampainya di bandara, saya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu di Rumah Makan Al-Hikmah milik Hj. Inah Basamalah yang terkenal dengan menu nasi kuning dan lontong sayur serta ikan tongkol. Rumah makan ini hanya beberapa kilometer dari bandara, dan kata orang, belum sah datang ke Ternate kalau belum mencicipi nasi kuning di sini.

Nasi kuningnya benar-benar menggugah selera, dengan rasa gurih dan rempah-rempah yang kaya. Saya pun teringat sejarah panjang rempah-rempah Maluku yang menjadi daya tarik utama bagi bangsa penjajah untuk datang ke Indonesia.

Setelah kenyang, saya melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ternate untuk menaiki kapal menuju Sofifi, ibu kota Maluku Utara. Sementara menunggu kapal, saya berhenti sejenak di tepi laut untuk berfoto dengan latar belakang Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Pemandangan itu mengingatkan saya pada desain uang kertas pecahan Rp 1.000,- yang menggambarkan keindahan dua pulau tersebut.

Perjalanan laut menuju Sofifi menggunakan speedboat berlangsung cukup seru. Motoris yang mengemudikan boat dengan tiga mesin menyusuri Laut Maluku dengan lancar. Setelah 30 menit, saya pun tiba di Pelabuhan Sofifi.

Baca Juga:  Healing Sejati

Di sana, angkutan darat sudah siap mengantarkan saya ke Tobelo, kota terdekat sebelum menuju Desa Simau. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar 3,5 jam, melewati jalan berkelok-kelok yang tetap menyuguhkan pemandangan laut yang indah sepanjang perjalanan.

Selama perjalanan, saya duduk di samping sopir yang bercerita tentang tragedi mengerikan yang terjadi di Tobelo pada tahun 1999. Kerusuhan hebat yang melibatkan pemeluk agama Kristen dan Islam itu mengakibatkan banyak korban jiwa dan harta.

Bangunan-bangunan yang rusak dan bekas-bekas kerusuhan masih tampak jelas, memberikan gambaran betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Konflik ini berawal dari ketegangan antaragama, dan meskipun sudah 18 tahun berlalu, dampaknya masih terasa di beberapa tempat.

Halaman depan Museum Keraton Sultan Ternate

Belajar Sejarah

Sesampai di Tobelo, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Simau. Di sana, saya bertemu dengan tim yang sudah lebih dulu datang untuk melaksanakan penelitian Ristoja. Dua hari penuh saya melakukan supervisi sebelum kembali ke Ternate pada hari ketiga.

Sebelumnya, saya berencana mengunjungi tim peneliti di Pulau Morotai, namun cuaca buruk membuat perjalanan ke pulau itu terpaksa dibatalkan. Pulau Morotai terlihat dari kejauhan bila berdiri di pinggir Pantai Desa Simau, yang dipisahkan oleh Selat Morotai.

Pada hari terakhir di Ternate, saya memutuskan untuk mengunjungi Museum Keraton Kesultanan Ternate. Museum ini menyimpan banyak artefak bersejarah, termasuk peninggalan Sultan Babullah yang terkenal dengan keberaniannya melawan penjajah Portugis.

Baca Juga:  Healing Sejati

Saya menyusuri ruang-ruang pamer yang penuh dengan benda-benda bersejarah, mulai dari senjata tradisional hingga pakaian kebesaran sultan. Selain itu, galeri seni budaya Ternate yang ada di museum ini menunjukkan betapa kaya budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Penulis di Masjid Apung Ternate

Kesan Kuat

Masih di Kota Ternate, saya juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Apung Al-Munawar. Masjid yang dibangun di atas laut ini memang sangat unik. Sebagian besar tiangnya ditancapkan di atas air, sehingga terlihat seperti mengapung di laut.

Masjid ini bisa menampung hingga 15.000 jemaah dan menjadi salah satu ikon kota Ternate. Di sana, saya pun melaksanakan shalat dhuhur dan meresapi betapa indahnya harmoni yang tercipta antara alam, arsitektur, dan agama.

Keesokan harinya, setelah menikmati segala keindahan dan sejarah yang ditawarkan Ternate, saya kembali ke Jakarta. Alhasil, perjalanan kali ini penuh dengan pengalaman berharga, mulai dari supervisi penelitian hingga merenung di tengah sejarah dan kebudayaan yang kaya.

Hati saya tertawan. Ternate, dengan segala pesonanya, telah meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Alhamdulillah. (#)

Senin 27 Januari 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni