
Delapan dekade Indonesia merdeka bertemu dengan presiden kedelapan yang membawa simbol 08 sejak masa mudanya. Apakah ini sekadar kebetulan, atau isyarat perjalanan baru bangsa menuju Indonesia Emas 2045?
Oleh Mahfudz Efendi, Guru SD Almadany Gresik, Jawa Timur.
Tagar.co – Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, dan kali ini bangsa ini kembali berdiri dengan kepala tegak di hadapan dunia. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti arus, melainkan mulai menentukan arah.
Refleksi itu muncul bukan hanya dari berita di layar kaca, tetapi juga dari pengalaman pribadi. Beberapa waktu lalu, saya dalam masa pemulihan pascaoperasi batu ginjal. Waktu lebih banyak saya habiskan di rumah, ditemani televisi yang menyiarkan berbagai agenda kenegaraan. Dari ruang sakit itu, rasa bangga justru menguat: melihat Indonesia yang saya cintai, kini benar-benar diperhitungkan dunia.
Baca juga: Anggaran Pendidikan 2026 Tertinggi dalam Sejarah, Efektivitas Jadi Tantangan
Diplomasi internasional Prabowo terasa berbeda. Dari Washington, Moskow, Beijing, hingga Paris, para pemimpin dunia memberi ruang. Apalagi negara-negara berkembang seperti Brasil, Peru, dan mitra-mitra ASEAN, mereka semakin merapat. Indonesia seolah naik kelas dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Dampaknya langsung dirasakan di Tanah Air. Sesaat setelah Presiden menyampaikan pidato kenegaraan di MPR dan DPR, IHSG meroket ke 8.000—rekor tertinggi dunia. Sementara banyak negara lain justru jatuh ke angka merah akibat diplomasi dagang yang gagal dengan Amerika Serikat.
Pidato kenegaraan pada Jumat, 15 Agustus 2025 itu menjadi penguat arah. Dengan bahasa lugas, Prabowo menempatkan pendidikan, kesehatan, dan keadilan sosial sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Ia juga memaparkan capaian 299 hari pemerintahannya: Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, hingga pengentasan kemiskinan.
“Kita semua punya tanggung jawab sejarah untuk memastikan bahwa 100 tahun Indonesia Merdeka akan menjadi titik puncak kejayaan bangsa pada 2045,” tegasnya.
Angka 80 dan 08: Sebuah Simbol
Momentum kemerdekaan ke-80 ini terasa semakin sarat makna. Di Istana Negara, Presiden Prabowo berdiri sebagai inspektur upacara. Angka 8 tampaknya memang sudah ditakdirkan melekat erat dengan dirinya.
Ia adalah presiden kedelapan Republik Indonesia, dilantik pada 20 Oktober 2024 bersama Gibran Rakabuming Raka. Namun jauh sebelumnya, angka 08 sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Saat bertugas di Satgultor-81 Kopassus pada 1981, Prabowo dipercaya sebagai wakil komandan dengan kode 08. Komandannya kala itu, Luhut Binsar Pandjaitan, menyandang kode 07. Kini, puluhan tahun kemudian, keduanya kembali berdampingan: Prabowo memimpin negara, Luhut duduk sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI.
Di titik inilah angka 80 dan 08 seakan bertemu: kemerdekaan yang matang, dan kepemimpinan yang lahir dari pengalaman panjang.
Muhammadiyah dan Jalan Panjang Pengabdian
Di kabinet Prabowo, banyak pejabat berasal dari kader Muhammadiyah. Organisasi ini memang selalu hadir dalam denyut perjalanan bangsa. Dari mendampingi nelayan, menolong korban bencana, membangun sekolah, menggerakkan olahraga, hingga menyebarkan kebaikan—Muhammadiyah tetap tegak berdiri, memberi arti pada kemerdekaan.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar pesta seremonial. Ia adalah perjalanan panjang, yang ditempuh bersama demi memajukan bangsa.
Selamat ulang tahun ke-80 Republik Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku! (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












