Sejarah

K.H. Ahmad Amar Syarif: Ulama Zuhud dari Wuluhan yang Mendidik dengan Teladan

1102
×

K.H. Ahmad Amar Syarif: Ulama Zuhud dari Wuluhan yang Mendidik dengan Teladan

Sebarkan artikel ini
K.H. Ahmad Amar Syarif bukan hanya guru pesantren, tapi juga panutan kehidupan. Dari Gontor hingga Persis Bangil, ia menanamkan ilmu, adab, dan keteladanan—diamnya menyala, amalnya kekal dikenang.
Ustadz Ahmad Amar bin Muhammad Syarif (Tagar.co/Sitimewa)

K.H. Ahmad Amar Syarif bukan hanya guru pesantren, tapi juga panutan kehidupan. Dari Gontor, Persis Bangil, hingga Pesantren Al-Ikhlash, ia menanamkan ilmu, adab, dan keteladanan—diamnya menyala, amalnya kekal dikenang.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jatim

Tagar.co – Di tengah gemuruh perkembangan zaman, masih ada sosok yang membuktikan bahwa keikhlasan, ketekunan, dan kesederhanaan mampu menjadi pilar utama dalam membangun peradaban ilmu dan dakwah. Salah satunya adalah Ahmad Amar bin Muhammad Syarif, ulama karismatik asal Wuluhan, Jember, Jawa Timur. Meski namanya tidak setenar tokoh nasional, pengaruhnya begitu kuat di lingkungannya—bahkan hingga hari ini.

Lahir pada 29 Agustus 1942, K.H. Amar (selanjutnya ditulis demikian) adalah putra dari K.H. Muhammad Syarif dan Nyai Siti Romlah. Latar belakang keluarganya penuh dengan spirit keilmuan dan dakwah. Ibunya merupakan saudari dari istri K.H. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Artinya, K.H. Amar adalah keponakan dari tokoh besar pesantren tersebut. Jalinan darah dan keilmuan itu membentuk fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

Jejak Kependidikan

Perjalanan intelektual K.H. Amar dimulai dari Sekolah Rakyat (SR). Kemudian ia melanjutkan ke PGA (Pendidikan Guru Agama). Meski tidak menamatkan jenjang PGA ini, pada 1956 beliau memilih untuk mendalami ilmu agama lebih dalam di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di pesantren yang melahirkan banyak ulama besar inilah ia mengasah karakter dan dasar-dasar keilmuan Islam secara modern dan sistematis.

Saat di Gontor, K.H. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU 1999–2010) adalah kakak kelasnya satu tahun. Keduanya pernah sekamar di kamar Sighor. Selain itu, K.H. Amar juga aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). K.H. Hasyim Muzadi pun pernah aktif di PII pada 1960–1964.

Enam tahun K.H. Amar belajar di KMI Gontor hingga lulus pada 1962. Setelah menjalani pengabdian selama satu tahun, beliau melanjutkan studi ke IPD (Institut Pendidikan Darussalam) Gontor—kini dikenal sebagai UNIDA Gontor—dan lulus pada 1965.

Baca Juga:  Menuju Puncak Salat: Menapaki Empat Tingkatan

Perjalanan keilmuannya tidak berhenti di bangku kuliah. K.H. Amar kemudian menimba ilmu fikih di Pondok Pesantren Persis Bangil di bawah bimbingan Ustaz Abdul Qodir Hassan—ulama fikih kenamaan dan putra dari A. Hassan, Guru Utama Persis. Di Persis Bangil, K.H. Amar kemudian ikut mengajar selama beberapa tahun dan memiliki banyak murid.

Ada catatan lain: K.H. Amar juga pernah berguru kepada Kiai Juwaini Nuh dari Tretek, Pare, Kediri. Kiai ini adalah salah satu murid kesayangan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Di bawah bimbingan Kiai Juwaini, K.H. Amar tidak hanya belajar fikih, tapi juga mendalami hadis dan tasawuf. Ia mengambil tahassus (pengkhususan) dalam mempelajari Shahih Bukhari-Muslim serta kitab Ihya’ ‘Ulumuddin.

Kenangan di Musala Persis Putra Bangil. Dari kiri; Wildan Shalihy, Amar Syarif, Ghazie A.Q., dan Hud A.M. (Tagar.co/Istimewa)

Mengajar dan Mengabdi

Pada 1968, K.H. Amar mulai aktif mengajar dan membantu mengelola pondok pesantren yang didirikan ayahnya, K.H. Muhammad Syarif. Lembaga itu bernama Pondok Pesantren Al-Ikhwan. Dengan visi pembaruan dan semangat modernisasi pendidikan, K.H. Amar mengembangkan pesantren tersebut dan mengubah namanya menjadi Pondok Pesantren Al-Ikhlash.

Nama baru ini tidak hanya menjadi simbol perubahan sistem, tetapi juga mencerminkan nilai dasar kehidupan dan pengajaran beliau: ikhlas dalam beramal, tulus dalam mengajar, dan sabar dalam membina umat.

Pesantren Al-Ikhlash memiliki banyak catatan menarik. Misalnya, pertemuan alumni pada 2014 yang dihadiri K.H. Hasyim Muzadi dan K.H. Syuhada Bahri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia 2007–2015). Pada tahun yang sama, pesantren ini menerima kunjungan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, salah satu pimpinan Gontor. Kemudian pada 2015, datang pula kunjungan asatiz dari Persis Bangil, seperti Ustaz Lutfi Abdullah Ismail, Ustaz Umar Fanani, Ustaz Bahaudin, dan Ustaz Nur Adi S.

Kini, Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan dipimpin oleh Ustaz Hamzah Amali, salah satu putra K.H. Amar. Ia merupakan lulusan Persis Bangil dan juga alumni Universitas Al-Azhar, Mesir. Saat ini, santri putra berjumlah sekitar 90 orang dan santri putri sekitar 225 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Baca Juga:  100 Tahun Gontor: Saat Iwan Fals Menyanyi di Panggung Peradaban

Hingga wafat pada 17 April 2016, K.H. Amar tetap konsisten mengajar dan membimbing santri. Istrinya, Fardasah (lahir 1 Juli 1947), menyusul wafat pada 1 Januari 2021. Mereka meninggalkan delapan orang anak, mayoritas bergerak di bidang pendidikan sebagai penerus nilai-nilai sang ayah.

K.H. Ahmad Amar Syarif bukan hanya guru pesantren, tapi juga panutan kehidupan. Dari Gontor hingga Persis Bangil, ia menanamkan ilmu, adab, dan keteladanan—diamnya menyala, amalnya kekal dikenang.
Kunjungan asatidz Persis Bangil, 2015. Berdiri, dari kiri: Hamzah Amali (putra Ahmad Amar Syarif), Lutfi Abdullah Ismail, Nur Adi S, Umar Fanani, dan Bahaudin. Duduk: Ahmad Amar Syarif. (Tagar.co/Istimewa)

Sang Teladan

K.H. Amar dikenal sebagai pribadi penyabar, lembut, dan tidak mudah marah. Ia sangat menjaga adab dalam bertutur kata. Ketika terjadi perbedaan pendapat, beliau mampu menyampaikan pandangannya tanpa menyakiti lawan bicara. Kata-katanya baligh, tepat sasaran namun tetap santun. Beliau lebih memilih diam daripada menyanggah dengan keras, terutama ketika berhadapan dengan lelucon atau kabar yang tidak berdasar.

Kepribadian ini kemungkinan besar terbentuk dari gaya pendidikan khas Persis Bangil yang dipengaruhi Ustaz Abdul Qodir Hassan: tegas dalam prinsip dan argumentasi, namun disampaikan dengan lemah lembut. K.H. Amar menyerap karakter ini dan menjadikannya bagian dari kesehariannya.

Salah satu sisi kehidupan K.H. Amar yang paling menginspirasi adalah kezuhudan dan ketidakterikatannya pada dunia. Meski menjadi pengasuh dan pengajar utama pesantren, beliau tidak pernah mengambil gaji dari lembaga tersebut hingga wafat. Bahkan hadiah-hadiah dari tamu atau santri sering kali langsung beliau serahkan kepada pesantren melalui tenaga tata usaha.

Terkait tradisi Lebaran, kerendahan hati beliau tampak jelas. Bila umumnya kiai menerima tamu, K.H. Amar justru memilih berkunjung terlebih dahulu ke rumah para tetangga tanpa membedakan status sosial. Ia menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap sesama.

Kenangan tentang K.H. Amar datang dari berbagai arah. Misalnya, dari Rasyidah Hamid—lulusan Persis Bangil dan pendiri Kuttab Daarussalaam di Yogyakarta. Sebagai bentuk penghormatan, salah satu putranya diberi nama Amar.

Baca Juga:  Empat Pelajaran Hidup dari Tragedi Mutilasi Pacet Mojokerto

Kesaksian lain datang dari keponakan K.H. Amar, Ustaz Imron Efendi, dosen di Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Depok. “Di mata kami para keponakan, beliau seorang paman yang alim, saleh, sabar, zuhud—yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sulit mencari orang seperti beliau,” tutur Imron.

Kesaksian-kesaksian ini menjadi bukti bahwa K.H. Amar dihormati secara luas. Dihormati karena keilmuannya, juga—terutama—karena akhlak dan keteladanan hidupnya.

“Beliau seorang bapak yang mendidik kami dengan hikmah, sabar, dan teladan,” kenang Ustaz Hamzah Amali.

“Bapak menyiapkan kami agar siap hidup dan tahu arah hidup yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis yang dipahami Sahabat Nabi Saw., serta jauh dari fanatik kelompok/golongan,” tambahnya.

Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember (Tagar.co/Istimewa)

Tak Ternilai

Warisan K.H. Amar bukan hanya berupa lembaga pendidikan atau bangunan fisik, tetapi nilai-nilai dalam jiwa dan semangat santri-santrinya. Ia mewariskan nilai keikhlasan, kesungguhan dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam prinsip, dan kelembutan dalam bersikap.

Kini, Pesantren Al-Ikhlash terus berkembang, mengajarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan K.H. Amar. Banyak muridnya kini menjadi pengajar, pendakwah, dan pemimpin umat di berbagai daerah. Mereka membawa nilai-nilai keilmuan dan akhlak dari sang guru.

K.H. Amar mungkin tidak banyak bicara, tidak menulis buku, dan tidak tampil di layar kaca. Namun, kehidupannya telah menjadi kitab nyata yang dibaca oleh para santri. Perilakunya diteladani oleh keluarga dan dikenang oleh masyarakat.

Di era yang penuh “kebisingan”, kehadiran tokoh seperti K.H. Amar mengingatkan kita bahwa pengaruh sejati tidak selalu berasal dari panggung, tetapi dari ketulusan yang tak henti-henti.

Sungguh, dalam diamnya K.H. Amar menyala. Dalam kesederhanaannya, ia memberi. Dalam wafatnya tahun 2016, ia tetap hidup melalui ilmu, akhlak, dan jejak amalnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni