Feature

Jejak Panjang Salon Rosana Ponorogo: Dari Duka Menjadi Warisan Berkah

68
×

Jejak Panjang Salon Rosana Ponorogo: Dari Duka Menjadi Warisan Berkah

Sebarkan artikel ini

 

Salon Rosana di Jetis Ponorogo, Jawa Timur (Tagar.c/Sadidatul Azka)

Di sudut Jetis, Ponorogo, Salon Rosana menyimpan cerita tentang Hj. Harmini, seorang janda muda yang mengubah duka menjadi berkah, membangun usaha dan rumah bagi anak-anak yang membutuhkan.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian Akademi Da’wah Indonesia Jatim

Tagar.co – Di sudut Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, berdiri sebuah salon yang namanya tetap bertahan lintas generasi: Salon Rosana. Usaha ini lahir pada 1978 dari tekad seorang perempuan tangguh, Hj. Harmini, janda muda yang harus menghidupi empat anaknya setelah ditinggal suami pada 1977.

Sebelumnya, sejak menikah pada 1971, Hj. Harmini tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Hidupnya sederhana, sampai takdir memisahkan mereka. Menjelang wafatnya sang suami, ia sempat mengikuti kursus singkat dua hari, tetapi kecelakaan saat naik motor dengan kebaya membuatnya tak bisa melanjutkan.

Baca juga: Mencari Rida Allah di Jalan Dakwah

Setelah masa berkabung yang getir, ayahnya meminta Hj. Harmini kembali ke Ponorogo bersama anak-anak. Di tanah kelahirannya, ia memulai babak baru: membuka toko sembako di lokasi strategis. Namun persaingan ketat memaksanya berpikir ulang. Dari sinilah ide yang mengubah hidupnya lahir: menambah layanan salon.

Baca Juga:  Menata Ulang Etika Berdiskusi

Kala itu, salon masih langka—bahkan bisa dikatakan satu-satunya di kawasan tersebut. Dengan keberanian dan doa, Hj. Harmini membuka layanan perawatan rambut, tata rias, hingga perawatan kulit. Nama “Rosana” diambil dari anak pertamanya, seolah menyiratkan harapan agar usaha itu tumbuh selaras dengan kasih seorang ibu.

Usaha pun berjalan lancar. Trend rambut keriting menjadi layanan yang paling diminati dan sumber pemasukan terbesar. Lambat laun, nama Salon Rosana dikenal masyarakat.

Namun perjalanan Hj. Harmini tak berhenti pada salon dan toko kelontong. Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, ia aktif dalam Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), menampung anak-anak yang membutuhkan tempat tinggal, sekolah, dan pembinaan. Anak-anak itu mendapat makan, uang saku, dan pendidikan tanpa biaya di asrama dekat salon.

Sebagian orang sempat menuduhnya melakukan pemerasan, tetapi sejatinya anak-anak itu dititipkan untuk dibina, bukan dieksploitasi. Mereka boleh sekolah sambil membantu pekerjaan salon, agar kelak menjadi pribadi mandiri, trampil, dan siap menghadapi kehidupan ekonomi. Batas usia anak asuh adalah lulusan SMP, usia di mana seseorang mulai memahami tanggung jawab.

Baca Juga:  Ramadan di Ujung Waktu: Belajar Menahan, Belajar Bertahan

Setiap malam setelah salon tutup, Hj. Harmini menghadirkan ustaz dan ustazah untuk mengajar mereka, bukan hanya pelajaran umum, tetapi juga bekal ilmu agama. Ia ingin anak-anak itu tumbuh pintar sekaligus berakhlak mulia.

Generasi Kini

Seiring waktu, tongkat usaha diwariskan kepada anaknya, Hj. Imanul Kholifah, yang juga Penanggung Jawab Daiah Pengabdian ADI Jatim 2025–2026 Ponorogo. Di tangannya, bisnis keluarga mendapat wajah baru. Toko sembako dialihkan menjadi suplier perlengkapan salon, memperluas jangkauan usaha.

Dengan keberanian mengambil pinjaman bank, Hj. Imanul mengembangkan usaha lebih besar. Order perlengkapan salon meningkat, memberinya bonus seminar dan perjalanan ke Surabaya, Bali, Jakarta, bahkan Thailand dan Singapura.

“Layanan smoothing rambut menjadi penggerak omset terbesar,” ungkap Hj. Imanul Kholifah saat ditemuai Tagar.co, 14 November 2025.

Menurutnya omset itu cukup membayar cicilan banksetiap bulan, sambil menjaga nama besar Salon Rosana yang diwariskan ibunya.

Kini, Salon Rosana bukan sekadar tempat perawatan kecantikan. Ia adalah jejak perjalanan perempuan tangguh, kisah duka yang bertransformasi menjadi berkah, dan bukti bahwa keberanian memulai kembali mampu mengubah hidup—bukan hanya keluarga, tetapi juga banyak orang yang pernah merasakan kebaikan Hj. Harmini dan anaknya. (#)

Baca Juga:  Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni