Telaah

Mencari Rida Allah di Jalan Dakwah

31
×

Mencari Rida Allah di Jalan Dakwah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

“Kalau kita ingin tenang, jangan sibuk mencari perhatian manusia, sibuklah mencari perhatian Allah. Karena pujian manusia itu fana, tapi rida Allah itu abadi.” — Buya Yahya

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian ADI Jatim

Tagar.co – Di era hiruk pikuk dunia maya, banyak orang berlomba mencari perhatian. Foto, status, hingga video dibuat semenarik mungkin demi mendapatkan pujian. Tidak jarang, bahkan kebaikan pun dipamerkan agar mendapat tepuk tangan publik.

Padahal, sebagaimana pesan Buya Yahya, ketenangan sejati tidak lahir dari sorotan manusia, melainkan dari perhatian Allah.

Dakwah: Amanah yang Berat

Dakwah bukanlah panggung untuk mencari popularitas. Ia merupakan amanah agung, warisan Rasulullah ﷺ yang harus terus dijalankan umatnya: menyeru kepada kebaikan (amar makruf) dan mencegah keburukan (nahi mungkar).

Baca juga: Menuju Puncak Salat: Menapaki Empat Tingkatan

Namun, jalan dakwah tidak pernah sepi dari ujian. Nabi Nuh As diejek, Nabi Musa As menghadapi tirani Fir‘aun, Rasulullah ﷺ dihina, dilempari, bahkan diusir dari Makkah.

Baca Juga:  Board of Peace: Ketika Kekecewaan Tak Harus Berujung Menyalahkan

Begitu pula para ulama setelah beliau: Imam Ahmad dipenjara, K.H. Hasyim Asy‘ari berhadapan dengan kolonial, K.H. Ahmad Dahlan ditentang lingkungannya sendiri. Semua itu menunjukkan bahwa perjuangan dakwah selalu penuh pengorbanan.

Ujian Sepanjang Zaman

Di masa kini, ujian dakwah hadir dengan wajah baru. Media sosial membuat dakwah bisa menjangkau jutaan orang, tetapi sekaligus menguji niat para dai. Tidak sedikit yang terjebak dalam hitungan viewer dan subscriber, hingga lebih sibuk menyesuaikan isi dakwah agar populer, bukan agar Allah rida.

Di sinilah pentingnya menata niat. Seorang dai sejati sadar bahwa pujian manusia tidak pernah abadi. Hari ini dipuja, esok bisa dihina. Tetapi rida Allah tidak pernah berubah, dan hanya itulah yang layak dikejar.

Dakwah dalam Kesederhanaan

Dakwah tidak selalu berarti khotbah di mimbar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (H.R. Bukhari). Artinya, setiap muslim punya peran. Dakwah bisa lewat akhlak mulia, menolong tetangga, menjaga lisan, atau sekadar senyum tulus. Perkara kecil, tetapi bernilai besar bila diniatkan karena Allah.

Baca Juga:  Tragedi Anak Usia 10 Tahun yang Kehilangan Harapan: Sebuah Refleksi

Selain itu, dakwah juga dapat hidup abadi melalui tulisan. Ada kalanya kita memahami suatu hukum Islam, tetapi kesulitan menyampaikannya secara lisan. Dalam kondisi demikian, tulisan bisa menjadi media dakwah: artikel pendek yang dibagikan melalui web, buletin, atau majalah.

Bertahan dengan Keikhlasan

Dakwah adalah jalan panjang, penuh duri dan kerikil. Ujian pasti datang, baik berupa hinaan maupun godaan pujian. Namun, semua itu hanyalah penentu: apakah kita berdakwah demi manusia, atau demi Allah semata?

Rida Allah adalah tujuan abadi. Itulah yang menenangkan jiwa, itulah yang menjadi bekal hingga akhirat. Maka, sebagaimana nasihat Buya Yahya, jangan sibuk mencari perhatian manusia. Karena pujian akan sirna, tetapi rida Allah akan kekal selamanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni