
Ustaz Hasan mengingatkan, penerima kurban seharusnya tak sekadar menerima, tapi meneruskan keberkahan—agar kurban tak membeku di freezer, melainkan mengalir sebagai amal sosial.
Tagar.co — Ibadah kurban tidak berhenti di tempat penyembelihan. Daging yang dibagikan punya jalan panjang: dari pengurban, lewat panitia, hingga ke tangan penerima.
Dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Wisma Sidojangkung Indah (WSI), Menganti, Gresik, Ahad (1/6/2025), Ustaz Hasan Abidin menyoroti peran penting pelaku terakhir: penerima kurban.
Sebelumnya, ia membahas keikhlasan pengurban dan amanah panitia. Kini giliran penerima mendapat sorotan: bagaimana seharusnya menyikapi pemberian dengan adab dan kesadaran sosial?
Baca juga: Bisa Kurban Sapi Rp25 Juta tapi Masih Meributkan Pembagian Daging 1 Kg?
Dengan gaya santai dan penuh humor, Ustaz Hasan membuka topik ini dengan cerita yang menggugah tawa sekaligus perenungan.
“Ibu-ibu menyimpan daging kurban berapa bulan?” tanyanya pada jemaah.
Ternyata para ibu tidak ada yang menjawab. Mereka hanya tersenyum, sampai seorang jemaah laki-laki menjawab, “Satu tahun.”
Mendengar jawaban itu, ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. dulu pernah melarang sahabat menyimpan daging lebih dari tiga hari.
“Kemudian dibolehkan. Para ulama menjelaskan, kenapa dulu tidak boleh? Karena orang-orang butuh makanan; saat itu kurban belum banyak dan terjadi musim paceklik. Jadi, yang kurban jangan menyimpan banyak-banyak. Kasihlah yang lain,” jelasnya.
Ustaz Hasan menyampaikan bahwa bila ada warga yang mendapat jatah daging banyak karena sebagai pengurban, maka hendaknya dibagikan kepada tetangga lain yang lebih membutuhkan—misalnya, yang dalam satu rumah hanya mendapat satu bungkus.
Baca juga: Tiga Syarat Jadi Panitia Kurban: Jangan Ada Lagi Kisah Kaki Sapi ‘Copot Sendiri’
Ia menyarankan agar daging tidak disimpan di freezer terlalu lama. “Jangan bangga bisa menyimpan setahun,” tuturnya. Menurutnya, daging kurban adalah nikmat atau rezeki yang bisa menjadi ladang kebaikan jika dibagikan.
Berkaitan dengan itu, ia mengaitkan dengan definisi rezeki. “Ada yang punya simpanan—tabungan atau emas? Apakah itu rezeki jenengan?” tanyanya pada jemaah.
Sambil mengingatkan bahwa kita harus berhati-hati karena kelak semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, Ustaz Hasan menjelaskan bahwa rezeki adalah apa yang kita miliki dan hasilkan manfaatnya secara nyata.
Ia lalu memberi contoh, “Kita punya tabungan Rp100 juta. Yang kita makan hari ini berapa? Rp50 ribu? Maka Rp50 ribu itulah rezeki kita. Dari Rp100 juta, kita sedekahkan Rp100 ribu. Maka Rp100 ribu itulah rezeki kita,” urainya.

Ilustrasi lain pun ia sampaikan. Misalnya seseorang punya simpanan kekayaan Rp1 miliar. Setelah ia meninggal dunia, anak-anaknya bertengkar soal warisan, sampai mengundang pengacara, dan akhirnya uangnya habis untuk biaya perkara.
Dalam konteks ilmu waris, ia menyebutkan bahwa harta itu kadang menjadi ironi. Kita mati-matian mengejarnya, lalu ketika meninggal, harta itu jadi rebutan. Ironisnya, jika ahli waris tidak mewarisi ilmu, maka harta itu habis tanpa manfaat.
Dengan ilustrasi ini, Kepala SMK Muhammadiyah 3 Cerme Gresik itu ingin menekankan bahwa uang Rp1 miliar tersebut bukan rezeki keluarga itu, melainkan rezeki orang lain.
Kembali pada soal daging kurban, Ustaz Hasan menegaskan bahwa banyak penerima kurban merasa cukup hanya menerima. Tapi, penerima yang baik adalah mereka yang bisa meneruskan keberkahan, bukan menyimpannya sendirian di freezer.
Hal itu sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Jika kita memasak dan baunya tercium sampai rumah tetangga, maka perbanyaklah kuahnya agar bisa dibagikan.
“Kalau dipraktikkan sekarang, bikin kuah rawon isi bonceng, tempe, dan daging seiris. Alhamdulillah,” katanya memberi contoh.
Jadi, menjadi penerima kurban yang baik adalah dengan tidak menyimpan sendiri, tetapi menyebarkan keberkahan seluas-luasnya. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












