Telaah

Istikamah dalam Kebaikan tanpa Takut Penilaian Manusia

74
×

Istikamah dalam Kebaikan tanpa Takut Penilaian Manusia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi oleh Mohammad Nurfatoni/AI

Al-Qur’an dan hadis menegaskan satu prinsip utama: kebaikan tidak boleh berhenti hanya karena takut pada penilaian manusia.

Oleh Malikan Saputra

Tagar.co – Di usia ke-58, Senin 15 Desember 2025, saya duduk sejenak dalam suasana santai, menikmati secangkir kopi. Tidak ada perayaan besar, tidak pula hingar-bingar ucapan selamat. Hanya ruang sunyi yang menghadirkan renungan.

Pada momen itulah, sebuah nasihat lama kembali mengetuk kesadaran—nasihat sederhana dari orang tua dan guru saya: “Lakukan yang terbaik. Jangan pedulikan apa kata manusia, selama yang kamu lakukan adalah kebaikan.”

Baca juga: Jujur, Modal Sunyi Menuju Kebahagiaan Hakiki

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun, justru dalam kesederhanaannya tersimpan kekuatan yang luar biasa. Nasihat tersebut menjadi kompas dalam menjalani kehidupan—menjaga langkah agar tetap lurus, niat tetap bersih, dan tujuan tetap bermuara pada rida Allah Swt.

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita dihadapkan pada penilaian, komentar, bahkan celaan manusia. Jika hati terlalu sibuk mengejar pengakuan, kita mudah goyah. Namun, Al-Qur’an sejak awal telah mengajarkan orientasi hidup yang berbeda: bukan pada penilaian manusia, melainkan pada pengawasan Allah.

Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Taubah 105: “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’”

Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal, sekecil apa pun, berada dalam penglihatan Allah. Yang dinilai bukan sekadar hasil, tetapi kejujuran niat dan kesungguhan ikhtiar. Karena itu, bekerja dan berbuat baik bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Prinsip tersebut diperkuat dalam Surah Al-Baqarah ayat 195: “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Allah menyukai ihsan—kebaikan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Kebaikan yang tidak menunggu tepuk tangan, tidak bergantung pada pujian, dan tidak surut hanya karena cibiran.

Dalam ayat lain, Allah juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak mengikuti hawa nafsu dan opini yang menyesatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (As-Shad: 26)

Petunjuk Ilahi ini sejalan dengan ajaran Rasulullah saw. yang diwariskan kepada kita melalui hadis-hadis sahih. Salah satunya diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra.:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah citra lahiriah, melainkan kedalaman niat dan kualitas amal. Bahkan Rasulullah saw. secara tegas mengingatkan agar seorang mukmin tidak berhenti berbuat baik hanya karena takut terhadap penilaian manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri ra., beliau bersabda:

“Janganlah kamu meninggalkan kebaikan karena takut celaan manusia, dan janganlah kamu melakukan kejahatan karena takut celaan manusia.” (Tirmizi)

Inilah pelajaran penting yang diajarkan oleh orang tua, guru, dan para pendahulu kita: keteguhan dalam kebaikan memerlukan keberanian. Keberanian untuk tetap lurus meski sendirian, tetap berbuat baik meski disalahpahami, dan tetap ikhlas meski tak dihargai.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang membungkam semua suara manusia, melainkan tentang memastikan bahwa langkah kita selaras dengan nilai-nilai kebenaran. Selama niat dijaga, ikhtiar dilakukan dengan cara yang baik, dan tujuan diarahkan kepada Allah, maka tidak ada alasan untuk ragu.

Semoga ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. ini terus menjadi penguat bagi kita semua: agar tetap melakukan yang terbaik, tanpa gentar oleh penilaian manusia, selama yang kita lakukan adalah kebaikan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni