
Tagar.co – Malam mulai turun di Telaga Sewu. Udara dingin terasa menusuk, namun suasana justru hangat ketika ratusan siswa SD Muhammadiyah 1 (SD Muri) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, berdiri melingkar di halaman terbuka, di kawasan wisata edukatif Telaga Sewu, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis malam (30/10/25).
Nyala api unggun menari di tengah lingkaran, memantulkan cahaya oranye di wajah-wajah kecil yang dipenuhi tawa dan keceriaan.
Baca juga: Deg-degan tapi Seru! Flying Fox Jadi Kelas Keberanian bagi Siswa SD Muri
Kegiatan api unggun ini menjadi penutup manis rangkaian Outdoor Education dan Science Camp SD Muri, yang sebelumnya diisi dengan senam pagi, permainan outbound ketangkasan, flying fox, menangkap ikan, hingga menanam padi di sawah.
“Malam ini bukan sekadar menyalakan api. Tapi tentang menyalakan semangat, kebersamaan, dan kenangan yang akan terus hidup di hati anak-anak,” ujar Umamah, Wakil Kepala Urusan Kurikulum SD Muri, dalam sambutannya.
Tawa dan Sorak di Bawah Langit Berbintang
Begitu api unggun menyala, tepuk tangan dan sorak anak-anak menggema. Lagu-lagu ceria berkumandang di bawah langit berbintang, diiringi yel-yel kelompok dan pentas seni sederhana yang menampilkan kreativitas siswa.
Ada yang membawakan drama lucu tentang pengalaman mereka di alam, ada pula yang memimpin yel-yel dengan penuh semangat.
“Kami capek tapi bahagia. Api unggun ini bikin suasananya seperti camping sungguhan!” seru Dzakky Mubarok, siswa kelas 6, penuh tawa.
Ketika Lagu “Bunda” Menghadirkan Haru
Namun suasana riuh itu tiba-tiba berubah hening ketika guru pendamping mengajak seluruh siswa berdiri melingkar, menyanyikan lagu Bunda ciptaan Melly Goeslaw. Dalam temaram api yang bergoyang lembut, suara anak-anak terdengar lirih, menyatu dengan desir angin malam.
Wajah-wajah kecil itu tampak serius, beberapa menunduk, dan tak sedikit yang menitikkan air mata. Lagu yang bercerita tentang kasih sayang seorang ibu itu menggugah perasaan rindu rumah.
“Aku jadi ingat Bunda di rumah… pengin peluk,” ucap Alya Patiroi, siswa kelas 6, dengan suara pelan sambil mengusap matanya.
Guru-guru pun ikut terbawa suasana. Tak ada kata panjang, hanya rasa haru yang menyelimuti lingkaran itu. Di antara nyala api yang hangat, anak-anak belajar tentang cinta yang tulus dan doa yang tak pernah putus dari seorang ibu.

Renungan dalam Cahaya Api
Setelah lagu usai, suasana kembali diwarnai kehangatan. Guru mengajak anak-anak merenungkan arti kasih sayang, rasa syukur, dan kebersamaan. Dalam cahaya api yang berpendar, suasana berubah khidmat dan penuh makna.
“Api unggun ini seperti semangat belajar kita. Kadang kecil, kadang besar, tapi kalau dijaga bersama, nyalanya tak akan padam,” ucap Gatot Wibisono, salah satu guru pembina, dengan lembut.
Anak-anak mendengarkan dengan saksama. Malam itu mereka tidak hanya belajar tentang petualangan, tetapi juga tentang cinta, empati, dan rasa terima kasih — nilai-nilai yang akan mereka bawa pulang.
Bara yang Tak Pernah Padam
Menjelang akhir acara, api perlahan meredup. Anak-anak saling berpelukan, berfoto bersama guru, dan bernyanyi sambil menatap bara terakhir yang masih menyala kecil. Beberapa terlihat enggan beranjak, seolah ingin waktu berhenti sejenak.
“Sedih mau pulang, tapi senang banget bisa bareng-bareng teman dan ustaz-ustazah. Ini pengalaman yang nggak bakal dilupain,” kata Haris, siswa kelas 6.
Kegiatan api unggun bukan hanya menutup hari, tetapi juga menutup perjalanan dengan makna. Di tengah dinginnya malam, anak-anak SD Muri menemukan kehangatan sejati—kehangatan persahabatan, cinta, dan kebersamaan yang akan terus menyala di hati mereka.
“Api mungkin padam, tapi semangat dan kasih sayang anak-anak SD Muri terhadap sesama akan terus menyala terang,” tutup Saidah Yuliana Wahyuni, Ketua Panitia Outdoor dan Science Camp 2025, dengan senyum bangga. (#)
Jurnalis Abdul Rokhim Ashari Penyunting Mohammad Nurfatoni












