
Genap berusia 60 tahun, Innik Hikmatin memilih merayakan ulang tahun di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-5 PDM Gresik. Bukan pesta, melainkan pengabdian—menjadi dewan hakim cabang disabilitas yang justru menghadirkan magnet dakwah inklusif dan menyentuh banyak hati.
Tagar.co – Suasana sore di Perguruan Muhammadiyah Cerme, Gresik, Sabtu (11/10/2025), begitu semarak. Panggung utama bertuliskan MTQ #5 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik berdiri megah di tengah lapangan, dihiasi bendera merah putih dan bendera Muhammadiyah beserta tujuh panji ortom Muhammadiyah yang berjajar rapi. Rangkaian bunga segar di sekeliling panggung menambah nuansa estetis sekaligus khidmat.
Namun, di balik kemegahan itu, ada cerita yang menyentuh: kisah para peserta cabang disabilitas yang menjadi magnet tersendiri di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-5 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik.
Baca juga: Ketua Ikatan Pentashih Mushaf Al-Qur’an Puji Inovasi PDM Gresik dalam Lomba Tartil Isyarat
Salah satu yang paling berkesan adalah kehadiran Innik Hikmatin, M.Pd.I., Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik. Hari itu, ia duduk di barisan kanan panggung, datang lebih awal dari jadwal acara. Tanggal itu, 11 Oktober 2025, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-60. Dan bagi Innik, menjadi dewan hakim cabang disabilitas adalah hadiah paling indah di usianya yang matang.
“Hari ini hari yang sangat spesial bagi saya,” ujarnya sambil tersenyum hangat.
Sebagai pendamping dan penggerak dakwah inklusi di Muhammadiyah Gresik, Innik merasa bangga melihat ruang baru bagi para penyandang disabilitas untuk tampil dan berkompetisi dalam membaca Al-Qur’an.
“MTQ ini luar biasa karena memberi tempat bagi teman-teman disabilitas untuk menunjukkan potensi mereka,” tuturnya.

Magnet Dakwah Inklusif
Innik bercerita bahwa semangat inklusi di MTQ kali ini membawa efek berantai. Salah satu di antaranya datang dari Hanifah Hertanti, perwakilan Dompet Duafa, yang awalnya hanya ingin bersilaturahmi dan menjajaki kerja sama program dakwah inklusi.
“Begitu tahu saya sedang berada di MTQ, Mbak Hanifah langsung penasaran dan memutuskan datang ke lokasi,” kenang Innik.
Hanifah pun hadir sejak awal pembukaan hingga acara berakhir. Ia terpukau oleh antusiasme peserta dan penonton.
“Paginya, beliau bahkan masih ikut menyimak prosesi MTQ sampai hampir pukul 11 siang sebelum pamit,” tambah Innik.
Kehadiran Dompet Duafa memberi warna baru bagi kegiatan keagamaan ini. Bagi Innik, sinergi semacam ini membuka peluang besar bagi dakwah inklusif—dakwah yang memberi ruang bagi setiap insan untuk mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa batas kemampuan fisik.

Kehadiran Baznas yang Tak Terencana
Tak hanya Dompet Duafa, momentum itu juga dihadiri oleh perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Gresik. Dr. Riyadlotus Solichah, M.Si., atau akrab disapa Oli, hadir secara spontan dan langsung terkesan dengan cabang disabilitas.
Da menyampaikan pesan penuh semangat kepada para peserta. “Teman tuli jangan melewatkan kesempatan menjadi yang terbaik dalam belajar Al-Qur’an,” katanya. “Kondisi bukanlah batasan, justru peluang untuk menunjukkan kemampuan.”
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi pintu baru bagi anak-anak disabilitas agar lebih dikenal masyarakat dan mendapat ruang untuk mengembangkan diri.
“Ini pintu baru bagi anak-anak untuk semakin dikenal, dan mengenal lebih luas apa yang menjadi keinginan mereka,” ujarnya.
Cabang disabilitas di MTQ Ke-5 PDM Gresik bukan hanya memperluas makna musabaqah, tetapi juga menghadirkan pesan moral yang kuat: bahwa kemuliaan Al-Qur’an terbuka bagi semua insan tanpa kecuali. (#)
Reporter Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












