Feature

Guru Honorer Bisa Masuk Delapan Asnaf, Tafsir Mendikdasmen

79
×

Guru Honorer Bisa Masuk Delapan Asnaf, Tafsir Mendikdasmen

Sebarkan artikel ini
Guru Honorer Bisa Masuk Delapan Asnaf, Tafsir Mendikdasmen
Mendikdasmen Abdul Mu’ti ceramah di milad Lazismu.

Guru honorer bisa secara eksplisit masuk delapan asnaf dalam kelompok fi sabilillah itu  akan punya berdampak besar. Karena beasiswa untuk murid banyak, tapi beasiswa untuk guru sangat sedikit.

Tagar.co – Suasana Aula KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, tampak penuh, Selasa (23/7/2025).

Kursi-kursi terisi penuh. Ratusan orang memadati ruangan para pegiat filantropi, relawan zakat, tokoh persyarikatan, dan tamu-tamu penting lainnya. Mereka hadir dalam perinagatan milad Lazismu 23 tahun.

Hari itu, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, hadir. Dalam sambutannya, ia menyampaikan selamat milad ke-23 untuk Lazismu.

“Mudah-mudahan Lazismu bisa terus menjadi lembaga zakat dan sedekah yang sesuai dengan slogannya: senantiasa memberi untuk negeri,” ucap Sekretaris PP Muhammadiyah itu.

Mu’ti lalu menegaskan, berderma adalah bagian dari DNA warga Muhammadiyah.

“Organisasi ini ketika lahir pertama kali tahun 1912, salah satu yang dilakukan adalah charity, atau membantu mereka yang menjadi korban dari berbagai macam persoalan sosial,” ujarnya.

Ia merujuk pada sejarah berdirinya PKO Muhammadiyah, Penolong Kesengsaraan Oemoem, sebagai cikal bakal tradisi filantropi Muhammadiyah.

Baca Juga:  Idulfitri 20 Maret, Ini Tempat Salat Id di Lumajang

Menurutnya, ini bukan sekadar sejarah, tapi napas yang terus berdenyut hingga hari ini.

“Kalau kita melihat di Muhammadiyah ini, sering kali yang muncul memang anggotanya tidak banyak, tapi insyaallah bangunannya banyak,” katanya disambut senyum hadirin.

Budaya Muhammadiyah

Mu’ti melanjutkan, budaya memberi di Muhammadiyah begitu mengakar. Setiap ada acara, selalu ada iuran. Selalu ada infak yang dibagikan kepada jamaah. Itu bukan sekadar kebiasaan, tapi semangat.

“Di situlah kehebatan orang Muhammadiyah itu senantiasa memberi, senantiasa berderma. Karena meyakini bahwa harta yang kita infakkan di jalan Allah itu menimbulkan berkah dan ketenangan dalam kehidupan kita semua,” lanjutnya.

Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa doa dari penerima sedekah bisa membuat si pemberi merasa tenteram.

Karena itu, menurutnya, membangun gerakan zakat bukan sekadar panggilan iman, tapi bagian dari gerakan kebudayaan.

Mu’ti juga menyebut dalam Islam terdapat enam sumber filantropi: zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, dan hadiah.

“Kalau itu dikelola dan dihimpun, akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa,” katanya.

Baca Juga:  Lazismu Jatim Tinggalkan Pola Manual, Simziska Jadi Pilar Tata Kelola Ziska Modern

Namun di sisi lain, ia mengkritisi bahwa sebagian besar umat masih memberi secara pribadi. Masih ada relasi emosional antara pemberi dan penerima. Masih ada rasa kurang puas kalau yang dibantu tidak tampak langsung.

“Ini tantangan kultural kita. Soal psikologi dan culture yang memang harus kita bangun bersama-sama,” ujar Mu’ti.

Ia menegaskan bahwa trust, atau kepercayaan, adalah pilar utama. Tidak boleh ada sepeser pun dana zakat yang diselewengkan.

“Tidak ada serupiah pun yang dikorupsi. Tentu setiap tahun harus diaudit, harus WTP. Ini luar biasa dan harus terus dijaga agar kepercayaan masyarakat semakin kuat,” tegasnya.

Asnaf fi Sabillah

Satu hal penting yang ia garis bawahi: bagaimana agar delapan asnaf, kelompok yang berhak menerima zakat didefinisikan lebih nyata. Salah satunya asnaf fi sabilillah.

“Kalau bisa eksplisit saja bahwa di dalamnya termasuk guru honorer, itu saya kira akan punya dampak besar. Karena beasiswa untuk murid banyak, tapi beasiswa untuk guru sangat sedikit,” ucapnya.

Ia menekankan, jika definisi asnaf itu dibuat lebih konkret dengan tafsir-tafsir transformatif, maka orang-orang tak akan ragu untuk membantu.

Baca Juga:  Zakat: Ketika Kesalehan Spiritual Menjadi Keadilan Sosial

“Karena guru bisa mencerdaskan murid-murid kita. Oleh karena itu asnaf itu kita buat lebih konkret lagi, dengan tafsir-tafsir transformatif,” tegasnya.

“Karena itu sebagai sebuah gerakan, kalau diorganisasi lagi, akan menjadi luar biasa. Sehingga kita tidak hanya menyebut potensi, tapi realisasinya juga nyata. Karena banyak orang yang memberi itu masih nafsi-nafsi,” lanjutnya.

“Tetapi kalau gerakannya nyata, orang akan semakin banyak memberi dan semakin banyak yang melihat bahwa zakat, infak, dan sedekah bisa memberikan perubahan besar di masyarakat. Saya kira soal zakat menjadi sebuah gerakan dan budaya itu tinggal soal waktu saja,” pungkasnya.

Di situlah harapan itu tumbuh bahwa zakat bukan sekadar angka dan tabel laporan, tetapi menjadi denyut perubahan sosial yang bisa diorganisasi, dihidupkan, dan diwariskan lintas generasi. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto