Opini

Gratis Tak Selalu Manis

1137
×

Gratis Tak Selalu Manis

Sebarkan artikel ini
Gratis tak selalu manis adalah gambaran program MBG. Daerah dengan penduduk menengah ke atas makanan yang dibagikan terasa hambar. Daerah miskin butuh intervensi ini.
Menu MBG

Gratis tak selalu manis adalah gambaran program MBG. Daerah dengan penduduk menengah ke atas makanan yang dibagikan terasa hambar. Daerah miskin butuh intervensi ini.

Oleh Eka Mei Tasari, Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kepala SD Muhammadiyah Kompleks Gresik Kampus A.

Tagar.co – ”Bu, hari ini lauknya cuma tempe sama sayur bening.”

Kalimat lugas itu terlontar dari siswa SD di Gresik saat jam makan siang di sekolahnya. Ia tampak senang menerima jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, meski menunya sangat sederhana.

Sementara ada beberapa orang tua di sekolah lain malah memilih menolak program ini, karena merasa lebih yakin menyiapkan bekal sendiri untuk anak-anaknya.

Potret kecil ini mencerminkan dua sisi dari satu kebijakan besar. Niat baik yang dihadapkan pada realita beragam di lapangan.

Awal tahun 2025 pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai 6 Januari 2025, sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut pemerintah, program ini tidak sekadar bagi-bagi makanan gratis, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Baca Juga:  Puluhan Siswa SDN 01 Kalibaru Tertabrak Mobil MBG, Kemendikdasmen Beri Santunan

Melalui MBG, anak-anak diharapkan memperoleh gizi seimbang. Sementara pelaku UMKM lokal ikut diberdayakan karena bahan pangan yang digunakan bersumber dari produk daerah.

Di atas kertas, MBG adalah program yang ideal. Namun dalam praktiknya, pelaksanaannya tidak selalu semudah yang direncanakan.

Beberapa sekolah di kota besar, terutama yang siswanya berasal dari keluarga menengah ke atas, menilai program ini kurang relevan.

Mereka merasa lebih tepat jika dana MBG dialihkan untuk operasional sekolah atau kesejahteraan guru.

Di wilayah pesisir dan pelosok, program ini seperti berkah. Anak-anak di sana kerap datang ke sekolah tanpa sarapan. Ada yang hanya minum air putih sebelum belajar. Di titik-titik inilah MBG benar-benar menyentuh hati.

Artinya, kebijakan ini perlu disesuaikan dengan konteks lokal. Tidak bisa disamaratakan antara sekolah di kota besar dengan sekolah di daerah rentan gizi.

Seleksi Daerah

Dalam pelaksanaannya, pemerintah sebaiknya menganalisis kebutuhan daerah secara detail. Wilayah dengan tingkat kecukupan pangan tinggi, lebih membutuhkan dukungan operasional pendidikan daripada makanan. Daerah lain yang memerlukan intervensi gizi langsung dijalankan program MBG ini.

Baca Juga:  Dari Nol ke Jago Live: Sakatek Bekali UMKM Tulungagung Kuasai Digital Marketing

Pendekatan yang seragam bisa membuat kebijakan kehilangan arah. Namun pendekatan yang fleksibel dan berbasis data nyata justru bisa membuat program ini berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Salah satu ide yang patut dipertimbangkan adalah mengelola MBG melalui dapur sekolah. Dengan melibatkan wali murid dan UMKM lokal dalam proses pengolahan, program ini bisa menjadi wadah gotong royong nyata di lingkungan pendidikan.

Selain menambah lapangan kerja, dapur sekolah juga bisa menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. Contohnya, belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan pentingnya pola makan sehat.

Akan tetapi, pemerintah harus memastikan pengawasan gizi dan kebersihan tetap dilakukan oleh tenaga ahli, agar kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa daerah tidak terulang.

Pengawasan

Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dari perubahan nyata dalam kesehatan dan perkembangan anak-anak.

Peran Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) serta Inspektorat Utama sangat penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.

Baca Juga:  Mugeb Primary School Sambut Hangat Menu Makan Bergizi Gratis

Pemerintah perlu monitoring lapangan dan evaluasi berkala agar pelaksanaan program ini tidak keluar dari tujuannya.

Program Makan Bergizi Gratis adalah langkah visioner yang patut diapresiasi. Ia lahir dari niat baik untuk menghapus ketimpangan gizi di negeri ini.

Namun, setiap niat baik memerlukan pengelolaan yang bijak dan pengawasan yang ketat.

Karena pada akhirnya, gizi yang baik tidak hanya datang dari makanan, tetapi juga dari kebijakan yang bergizi, adil, transparan, dan berpihak pada yang membutuhkan.

Anak-anak tidak butuh menu mewah. Mereka hanya butuh makanan sehat yang datang tepat waktu dan dari hati yang peduli.

Jika dikelola dengan baik, MBG bisa menjadi resep untuk masa depan Indonesia. Namun jika tidak, program ini hanya akan menjadi menu seremonial yang hambar.

Penuh harapan, tapi kurang kenyang manfaatnya. Gratis tak selalu manis. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto