Feature

Gempa Hancurkan Desa, Semangat Kurban di Tanah Kaliuling Tak Runtuh

35
×

Gempa Hancurkan Desa, Semangat Kurban di Tanah Kaliuling Tak Runtuh

Sebarkan artikel ini
Gempa dahsyat pernah melanda desa ini tahun 2021, namun tiap tahun warga desa bisa menabung untuk merayakan Idulkurban,
Warga Muhammadiyah Ranting Kaliuling memotong daging hewan kurban. (Tagar.co/Kuswantoro)

Gempa dahsyat pernah melanda desa ini tahun 2021, namun tiap tahun warga desa bisa menabung untuk merayakan Idulkurban.

Tagar.co – Suasana Iduladha 1446 H di Dusun Iburojo-Halimo, Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari, Lumajang, Sabtu (7/6/2025) berlangsung penuh semangat dan kebersamaan.

Warga Ranting Muhammadiyah Kaliuling menyelenggarakan pemotongan hewan kurban seekor sapi dan 1 ekor kambing.

Penyembelihan kurban ini bukti semangat dan kekompakan warga masih kuat meskipun dua dusun itu pernah hancur kena gempa tahun April 2021 lalu.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kaliuling, Giman Wiyono, mengenang kembali musibah gempa dahsyat berkekuatan 7,5 SR yang mengguncang daerah itu pada tahun 2021.

Saat itu lebih dari 450 rumah warga runtuh, termasuk Masjid Muhammadiyah yang menjadi pusat kegiatan warga. Desa Kaliuling lumpuh khususnya Dusun Iburojo-Halimo, namun semangat kurban warganya tidak ikut runtuh tiap Iduladha datang.

”Setelah gempa, kami sadar bahwa yang menyelamatkan bukan hanya bantuan, tapi rasa kebersamaan. Dari situlah kami mulai bangkit,” kata Giman.

Dia bersyukur tahun ini warga bisa kurban bersama secara patungan antarwarga ranting. Ada satu ekor sapi dan satu ekor kambing yang berhasil kami kumpulkan.

Baca Juga:  Kado Ramadan Lazismu Lumajang Dibagi Dua Tahap

Kegiatan kurban ini tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah antarwarga.

Mulai dari pengumpulan dana, pembelian hewan, penyembelihan, hingga pembagian daging semua dilakukan secara gotong royong.

Tak hanya kaum bapak, ibu-ibu Aisyiyah dan para pemuda juga turut aktif dalam proses distribusi daging kepada warga, terutama yang membutuhkan.

Wajah anak-anak yang gembira, tawa para relawan, dan aroma khas daging kurban yang dimasak bersama menjadi penanda bahwa Kaliuling telah pulih, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara jiwa.

Inilah buah manis dari semangat persyarikatan dan nilai-nilai Islam yang terus dihidupkan oleh Muhammadiyah di desa pelosok ini.

Lebih dari sekadar acara tahunan, kurban di Kaliuling menjadi simbol harapan. Sebuah pesan bahwa dari reruntuhan, bisa tumbuh kembali kehidupan  lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih bermakna.

Sebuah kisah kecil dari desa terpencil yang patut menjadi inspirasi gerakan dakwah sosial di mana pun. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto