Feature

Jurnalis Dadakan dalam 3600 Detik: Ibu-Ibu Aisyiyah Sidoarjo Salurkan Bakat Terpendam

16
×

Jurnalis Dadakan dalam 3600 Detik: Ibu-Ibu Aisyiyah Sidoarjo Salurkan Bakat Terpendam

Sebarkan artikel ini
Dalam 3600 detik, ibu-ibu Aisyiyah Sidoarjo berubah jadi jurnalis dadakan dengan semangat menulis yang menginspirasi.
Para peserta pelatihan kepemimpinan Majelis Kader PDA Sidoarjo (Darul Setiawan/Tagar.co)

Dalam 3600 detik, ibu-ibu Aisyiyah Sidoarjo berubah jadi jurnalis dadakan dengan semangat menulis yang menginspirasi.

Tagar.co — Mendung menggelayut manja di langit sembari mengamati langkah penuh semangat ibu-ibu Aisyiyah Sidoarjo menuju ruang rapat lantai 2 DP3AKB Kab. Sidoajo, Senin (9/6/25).

Kegiatan yang diselenggarakan Majelis Kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo dengan mengusung tema “Pelatihan Kepemimpinan dalam Membentuk Pemimpin Perempuan yang Kapabel”.

Acara dihadiri perwakilan dari Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Sidoarjo sebanyak lima orang. Selain itu juga ada dari unsur AMM seperti PDNA, IPM, dan IMM.

Kegiatan pelatihan dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Aisyiyah. Sambutan PDA Sidoarjo disampaikan Umayani, M.Pd.I yang dilanjutkan perwakilan dari Dinas P3AKB.

Materi pertama yang disampaikan Redaktur Tagar.co Darul Setiawan, S.Pd, yakni tentang jurnalistik yang bertagline “ 3.600 detik menjadi jurnalis” mampu menarik perhatian peserta pelatihan.

Salah seorang peserta Afifah Hanik dari PCA Krian mengatakan, “Pertama masuk ruangan, mata saya langsung tertuju ke tulisan di layar monitor tentang “3600 Detik Jadi Jurnalis”. Menurut saya itu judul materi yang sangat wow. Karena dengan waktu sejam kita langsung bisa jadi jurnalis,” ujarnya.

Baca Juga:  Aisyiyah Ajak Lansia Tetap Bergerak di Usia Senja

Padahal, kata dia, selama ini ketika menulis untuk status di medsos saja sering tulis-hapus, tulis-hapus. “Lah ini langsung jadi jurnalis,” ungkapnya.

Jurnalis Dadakan

Afifah mengaku, untuk jadi jurnalis itu tidak begitu sulit, syaratnya hanya 3M yaitu menulis, menulis, dan menulis. Terbukti saat diberi waktu hanya lima menit, para peserta jadi pandai menulis, karena dengan adanya kemauan untuk menulis.

“Kegiatan pelatihan kepemimpinan ini begitu sangat menyenangkan, karena dengan tidak sadar kami bisa mengeluarkan bakat-bakat yang terpendam selama ini, yaitu jadi jurnalistik dadakan,” tuturnya penuh semangat.

Sementara menurut Ifa Madjid, kata-kata yang paling bermakna hari ini menurutnya adalah memindahkan ucapan lisan menjadi tulisan. “Dalam sekali artinya,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut dia, di awal disampaikan juga dalam surat An-Nahl 97, ‘Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan’. “Maka, menjadikan kegiatan menulis yang bermanfaat pastinya berpahala,” tambahnya.

Baca Juga:  Praktik Liputan Jurnalistik MDMC, Peserta Blusukan ke Kebun Teh

Di sisi lain, Luh Himmatul Khoiro dari MKS PCA Wonoayun mengatakan, materi Jurnalistik disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh audiens dengan pemaparan sederhana jelas, singkat, dan padat.

“Pada akhir sesi peserta diberi kesempatan selama lima menit untuk mempraktikkan secara langsung membuat tulisan berita menggunakan kalimat sederhana dengan berpedoman pada 5W+1H. Tugas tersebut terkoneksi dalam sebuah grup WA,” jelasnya. (#)

Jurnalis Ifa Madjid, Afifah Hanik, Luh Himmatul Khoiro. Penyunting Darul Setiawan.