Feature

FEB UMM Ajak Mahasiswa Berinvestasi dengan Ilmu, Bukan Ikut Tren

35
×

FEB UMM Ajak Mahasiswa Berinvestasi dengan Ilmu, Bukan Ikut Tren

Sebarkan artikel ini
Venus Kusumawardana

Bukan sekadar cuan cepat, investasi butuh pengetahuan dan kesabaran. FEB UMM ajak mahasiswa memahami pasar modal dengan benar, bukan ikut tren tanpa arah.

Tagar.co Di tengah derasnya arus informasi soal cuan instan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba mengajak anak muda untuk melambat sejenak—lalu berpikir lebih dalam.

Pada seminar bertajuk “Level Up Finansial: Saatnya Melek Pasar Modal” yang digelar Rabu, 7 Mei 2025, mahasiswa diajak menyelami pasar modal bukan sebagai jalan pintas kekayaan, tetapi sebagai ruang belajar tanggung jawab finansial.

Baca juga: Kolokium FEB UMM Bahas Strategi Jitu Percepat Pertumbuhan UKM

Dihadiri dua narasumber kompeten, seminar ini membuka wacana tentang bagaimana investasi seharusnya dimaknai: bukan sekadar ikut tren, apalagi asal beli saham karena viral.

Trading Harian, Saham Gorengan, dan Ilusi Cuan

Venus Kusumawardana, S.E., M.M., membuka diskusi dengan pernyataan menohok. Menurutnya, banyak anak muda justru masuk ke dunia investasi dengan mentalitas konsumtif yang terselubung.

“Banyak investor pemula terjebak dalam pola konsumtif yang terselubung di balik istilah ‘trading harian’ atau ‘saham gorengan’. Kecenderungan generasi muda yang membeli saham berdasarkan popularitas atau viralitas semata. Jangan hanya terpaku pada harga saham murah. Saham murah bisa jadi tidak layak beli jika tidak ada fundamental yang jelas. Lihat laporan keuangan, perhatikan dividen, dan pahami sektor industrinya,” tegasnya.

Baca Juga:  Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat

Ia menekankan bahwa investasi adalah soal kesadaran jangka panjang dan kedewasaan dalam memahami risiko. Venus pun menyarankan mahasiswa memulai dengan langkah kecil namun konsisten, misalnya menanam Rp100 ribu per bulan—asal disertai riset dan perencanaan yang matang.

Banyak Akun, Minim Literasi

Masuk sebagai pembicara kedua, Hesty Tri Budihartati, S.E., M.M., memberikan paparan berbasis data yang cukup mencemaskan. Meski investor ritel di Indonesia telah menembus angka 16 juta, literasi pasar modal masih jauh tertinggal.

“Banyak yang punya akun efek tapi tidak tahu apa itu emiten, apa itu KSEI, bahkan tidak paham beda tabungan dan investasi. Inilah yang memicu mudahnya masyarakat terjebak dalam skema investasi bodong,” ungkap Hesty.

Ia menekankan bahwa investasi bukan sekadar tren, melainkan strategi menghadapi inflasi. Karena itu, setiap keputusan finansial perlu dilandasi pemahaman yang matang. Hesty juga menyinggung pentingnya disiplin alokasi keuangan, bahkan dari uang jajan. “Setidaknya 20 persen dari penghasilan sebaiknya dialokasikan untuk investasi dan dana darurat,” tambahnya.

Baca Juga:  Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Mahasiswa Ekonomi, Tapi Gaya Hidup Boros?

Dekan FEB UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, M.M., menutup acara dengan mengajak mahasiswa ekonomi agar sungguh-sungguh menerapkan prinsip ekonomis dalam hidup mereka.

“Literasi harus mendahului inklusi. Jangan terjun ke investasi hanya karena ikut tren tetapi, pahami dulu risikonya. Kita tidak bisa terus bergantung pada transfer orang tua. Jadikan penghasilan dari mereka sebagai modal untuk belajar mengelola keuangan secara bijak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa investasi bukan cuma soal uang, melainkan juga kedisiplinan, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan berdasarkan informasi yang valid.

Menanamkan Akal Sehat di Era Viral

Lewat seminar ini, FEB UMM tidak hanya membekali mahasiswa dengan wawasan teknis soal saham, tetapi juga membentuk nalar kritis dalam menyikapi gelombang viralitas yang membungkus dunia finansial.

Di era saat FOMO (fear of missing out) menjadi budaya populer, FEB UMM memilih membangun literasi sebelum inklusi, menekankan bahwa pengetahuan mendalam adalah tameng terbaik dari jebakan investasi bodong.

Seminar ini bukan sekadar ajakan untuk mulai berinvestasi. Ia adalah ajakan untuk berpikir lebih panjang. (*)

Baca Juga:  UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Penyunting Mohammad Nurfatoni