
Tak satu pun dari mereka berasal dari keluarga dokter. Namun hari itu, enam dokter berdiri tegak di podium sumpah, mengenakan jas putih dengan mata berkaca-kaca. Ini bukan sekadar pencapaian, melainkan keajaiban Tuhan—buah dari kerja keras dan doa yang tak pernah henti.
Tagar.co – Aula Dekanat Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tak sekadar menjadi ruang seremoni pagi itu. Ia menjelma menjadi ruang sakral tempat harapan, perjuangan, dan air mata menyatu dalam satu peristiwa: pengambilan Sumpah Dokter Periode LXIX
Enam dokter berdiri tegak, mengenakan jas putih dengan mata berkaca-kaca. Di antara mereka, M. Abdul Latif Khamdilah maju mewakili sejawatnya menyampaikan pesan penuh makna. Dengan suara mantap namun getar emosi yang sulit ditutupi, ia membuka sambutan dengan penghormatan tulus kepada para pendidik.
“Tak henti-hentinya panjenengan membimbing dan mengajarkan kami. Setiap ilmu, motivasi, dan keteladanan panjenengan adalah cahaya yang mengantarkan kami sampai di titik ini. Jasa-jasamu tidak akan pernah kami lupakan,” ucapnya dengan nada hormat, menujukan apresiasi kepada para dosen dan konsulen.
Baca juga: Anak Guru Madrasah Jadi Dokter: Cerita Haru dari Pelosok Lamongan
Tak hanya guru di kampus, Latif juga mengangkat peran besar para pasien dalam proses belajar. “Ada pepatah tua yang mengatakan: ‘Guru terbaik seorang dokter adalah pasien.’ Dari mereka kami belajar bukan hanya tentang penyakit, tetapi juga tentang kehidupan, pengharapan, dan kehilangan,” katanya.
Puncak rasa syukur dan terima kasih ia tujukan kepada orang tua. “Gelar ini kami persembahkan untuk Bapak dan Ibu. Namun kami sadar, gelar yang paling mulia di mata orang tua adalah menjadi anak yang berbakti. Terima kasih atas doa, peluh, dan cinta yang tak pernah surut.”
Latif juga menyingkap fakta menarik tentang latar belakang para sejawatnya. “Tak satupun dari kami berlatar belakang keluarga dokter. Sejak kecil kami tidak mengenal selang infus, suntikan, atau meja operasi. Kini kami berdiri dengan jas putih. Ini keajaiban yang Tuhan tunjukkan melalui kerja keras.”
Ia pun mengajak para dokter muda untuk selalu mengingat nilai-nilai yang diwariskan para guru. “Dulu, seorang dosen pernah berkata: ‘Kon oleh aweh obat sekarepmu nang pasienmu, tapi kon kudu ngerti alasane.’ Kita boleh memilih terapi apa pun, tapi harus tahu mengapa dan untuk apa. Setiap tindakan medis harus berdasarkan ilmu dan etika.”
Sebagai penutup, Latif menyampaikan pesan yang menggugah tentang pentingnya ilmu sebagai fondasi praktik. Ia mengutip pernyataan tokoh revolusi Vladimir Lenin: “Without revolutionary theory, there can be no revolutionary movement” — tanpa teori revolusioner, tidak akan ada gerakan revolusioner.
Dari kutipan itu, ia lalu merangkainya dalam konteks profesi dokter: “Without medical theory, there can be no medical therapy, there can be no medical practice.” Tanpa teori kedokteran, tak akan ada terapi medis, tak akan ada praktik kedokteran yang benar.
Kalimat itu tak sekadar retorika. Ia mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya alat, tapi arah. Bahwa pengabdian tanpa dasar pengetahuan bisa kehilangan tujuan, dan bahwa setiap tindakan seorang dokter harus berpijak pada teori yang kuat dan etika yang luhur.

Suara Orang Tua
Dari sisi orang tua, suara yang tak kalah mengharukan datang dari Jahri, ayah dari Machfira Bulantrisna. Ia berdiri mewakili para wali mahasiswa dengan suara yang sarat emosi.
“Kami menyaksikan mereka belajar hingga larut, jaga dengan waktu tidur minim, dan menangis dalam diam. Tapi kami tetap mendoakan tanpa henti, karena kami tahu, mereka sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.
Ia pun mengungkapkan rasa terima kasih kepada para dosen. “Terima kasih karena telah menjadi bukan hanya pengajar, tapi juga pembimbing jiwa. Ketika anak-anak kami lelah, Bapak-Ibu hadir sebagai penyemangat.”
Di akhir sambutan, ia menyampaikan harapan tulus, “Jangan hanya menjadi dokter yang hebat dalam ilmu, tapi jadilah manusia yang hadir secara utuh: dengan empati, kasih sayang, dan hati yang mendengar.”
Hari itu tak hanya menjadi tonggak akademik, tetapi juga momen spiritual dan moral. Sumpah dokter yang diucapkan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan janji kepada Tuhan dan kemanusiaan: bahwa setiap langkah mereka di dunia medis akan dilandasi ilmu, integritas, dan cinta kasih. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












