
Peringatan Maulid Nabi Muhammad di SD Mumtas Surabaya berlangsung meriah. Kehadiran Bunda Atin bersama boneka Garjita menghadirkan tawa sekaligus teladan akhlak Nabi, lengkap dengan penghargaan bagi siswa berakhlak mulia.
Tagar.co – Senin (15/9/2025), Masjid Jenderal A. Yani Sidoyoso, Surabaya, berubah menjadi lautan putih. Ratusan siswa SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) hadir dengan busana serba putih, menghadirkan suasana syahdu sekaligus semarak dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.
Tahun ini, Mumtas mengemas peringatan dengan cara berbeda. Tidak sekadar lantunan Al-Qur’an dan tausiah, acara istimewa ini menghadirkan pendongeng anak Titin Supriatin, S.Pd.—akrab disapa Bunda Atin—bersama boneka mungilnya, Garjita. Kehadiran mereka membuat perayaan terasa hidup, penuh tawa sekaligus sarat pesan moral.
Baca juga: BIAS di Mumtas: Dari Tangis Jarum Suntik hingga Senyum Sehat Anak Negeri
Dengan jilbab cokelat dan mahkota mungil di kepalanya, Bunda Atin tampil anggun sekaligus ramah. Sementara Garjita—boneka berambut merah dengan topi hitam bertuliskan “Garjita”—tampak ekspresif, seakan hidup.
Setiap kali Garjita menimpali cerita, tawa anak-anak pun pecah. Kombinasi suara lembut Bunda Atin, gaya teatrikal, dan ekspresi Garjita menjadikan dongeng tentang keteladanan Rasulullah terasa nyata sekaligus menghibur.

Ratusan siswa duduk rapi memenuhi masjid, menyimak dengan mata berbinar. Nuansa putih dari busana mereka membuat ruangan terasa khidmat, sementara gelak tawa sesekali memecah keheningan saat Garjita melontarkan humor.
Anak-anak perempuan berjilbab putih dan pastel duduk berdampingan dengan teman-teman laki-laki bersongkok hitam, menciptakan pemandangan indah kebersamaan dan persaudaraan.
“Seru sekali, saya jadi ingin meniru sikap Nabi,” ungkap Leassha Uhibbuka Al, siswi kelas 2, sembari tersenyum malu-malu. Sorak, tepuk tangan, hingga tatapan penuh antusias dari ratusan siswa menjadi bukti betapa mereka menikmati dongeng tersebut.
Acara dibagi dalam dua sesi: kelas 1–3 di sesi pertama, sementara kelas 4–6 mengikuti di sesi kedua. Usai mendengarkan dongeng, para siswa diajak makan bersama dengan cara menukar bekal dengan sahabat di sampingnya. Kegiatan sederhana ini menumbuhkan rasa kebersamaan sekaligus melatih empati.

Tak berhenti di sana, Maulid Nabi di Mumtas juga menjadi ajang penghargaan. Sebanyak 18 siswa dari 18 rombongan belajar dinobatkan sebagai teladan berakhlak mulia. Penilaiannya tak hanya soal akademik, tetapi juga sikap sehari-hari: disiplin, hormat pada guru, rajin salat, berbakti pada orang tua, santun kepada teman, dan semangat belajar.
Kebersamaan itu makin lengkap dengan penghargaan bagi kelas 6 Al-Wahhab sebagai kelas terbaik dalam istikamah berinfak. Konsistensi mereka berbagi dinilai mampu menjadi inspirasi bagi kelas-kelas lain untuk menumbuhkan semangat kebaikan.
M. Khoirul Anam, M.Pd.I., Kepala SD Mumtas, menyampaikan apresiasi dan harapannya. “Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi momen menanamkan teladan Rasul kepada anak-anak. Kami berharap nilai-nilai akhlak mulia bisa mereka bawa pulang dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Perayaan Maulid Nabi di Mumtas tahun ini terasa lengkap: ada ilmu yang menginspirasi, kebersamaan yang menghangatkan, dan penghargaan yang memotivasi. Bagi siswa, ini bukan hanya sekadar acara tahunan, melainkan pengalaman berharga yang kelak membentuk karakter Islami mereka. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












