Feature

Disambut Riuh Santri Al-Ishlah, Anies Baswedan Titip Tiga Pesan Masa Depan

70
×

Disambut Riuh Santri Al-Ishlah, Anies Baswedan Titip Tiga Pesan Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Anies Baswedan bersilaturahmi ke Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Sabtu (27/9/2025), disambut hangat K.H. M. Dawam Saleh dan ribuan santri yang memenuhi masjid. (Tagar.co/Sri Asian)

Kehadiran Anies Baswedan di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, tak hanya memantik riuh santri, tetapi juga menyulut semangat dengan tiga pesan untk masa depan.

Tagar.co – Siang itu, Sabtu (27/9/2025), udara Paciran, Lamongan, Jawa Timur, terasa teduh meski matahari bersinar terang. Angin semilir menyusup ke dalam Masjid Jamik Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, tempat ribuan santri duduk bersila menanti tamu istimewa.

Tamu itu adalah Dr. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D., mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Usai menghadiri sebuah acara kebangsaan di GOR Lamongan, Anies menyempatkan diri bersilaturahmi ke Al-Ishlah.

Baca juga: Pesan Anies Baswedan: Jangan Sinis, Teruslah Mencintai Indonesia

Begitu Anies memasuki masjid bersama pengasuh pesantren, K.H.M. Dawam Saleh, suasana yang semula hening seketika pecah. Para santri bersorak dan bertepuk tangan riuh, menandai antusiasme yang meluap.

Dengan senyum ramah, Anies menyatukan kedua telapak tangan di dada sebagai tanda hormat. Kiai Dawam Saleh berdiri menyambutnya, sementara para santri merapat penuh semangat. Kehangatan itu menghadirkan suasana kekeluargaan, seolah pesantren sedang menyambut pulang seorang kerabat yang lama dinanti.

Baca Juga:  Kentungan Oranye Anies dan Politik yang Tak Lagi Berbisik
Anies Rosyid Baswedan berpose bersama dengan para hadirin di Masjid Jami’ Al-Ishlah(Tagar.co/Alimin Ja’al)

Semangat Perjuangan dan Mimpi Besar

Dalam sambutannya, Anies menyampaikan rasa syukur dapat kembali hadir di Al-Ishlah, setelah dua tahun lalu pernah singgah. “Masa berjuang sudah terlewati, tapi perjuangan untuk Indonesia harus terus dilanjutkan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ia menekankan pentingnya generasi muda Islam memiliki fondasi iman yang kuat, akhlak mulia, serta pengetahuan dan kompetensi mumpuni agar mampu menjadi pemenang di masa depan.

“Indonesia dan umat Islam menuju masa depan gemilang. Untuk itu, anak-anak muda harus punya pondasi iman yang kuat, akhlak yang baik, dan kompetensi yang lengkap,” tuturnya.

Dari situlah, Anies kemudian menitipkan tiga pesan yang ia anggap kunci bagi santri untuk menyongsong zaman baru. Dengan suara tenang namun penuh penekanan, ia mengajak mereka berani bermimpi tinggi.

“Tempat lahir boleh dari mana saja, tetapi mimpi kalian harus setinggi langit, bahkan melampaui yang paling tinggi sekalipun,” ucapnya.

Pesan berikutnya adalah tentang menguasai ilmu dan teknologi digital. Ia mengingatkan bahwa zaman bergerak cepat, dan para santri tidak boleh tertinggal.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

“Ikuti dan pelajari perkembangan teknologi. Gunakan artificial intelligence (AI) sebagai asisten. Jangan takut dengan perubahan, justru manfaatkan untuk melangkah lebih jauh,” katanya.

Terakhir, ia menekankan pentingnya kerja keras. Anies mengibaratkan para santri sebagai permata. Permata tidak akan berkilau jika dibiarkan, tetapi akan memancarkan cahaya jika terus diasah.

“Kalian pun demikian. Bila disiplin belajar, menaati jadwal pondok, gemar tantangan, dan tekun dalam perjuangan, maka ribuan santri Al-Ishlah ini suatu hari akan menyinari dunia,” pesannya penuh semangat.

Kalimat itu seakan menyentuh hati setiap yang hadir. Tepuk tangan panjang bergemuruh, menggema dari sudut ke sudut masjid dua lantai yang megah itu, menjadi bukti bahwa pesan Anies terpatri di benak para santri.

Anies Rosyid Baswedan berada di antara para ustazah dan mahasiswa STIQSI Lamongan, dalam acara Silaturahmi dan Dialog Bersama (Tagar.co/istimewa)

Dialog Inspiratif dengan Santri

Kunjungan ini kian hangat ketika Anies membuka sesi tanya jawab. Tiga santri terpilih menyampaikan pertanyaan seputar pendidikan dan ekonomi.

Wildan Jaisi, santri kelas XI MA, bertanya tentang masa depan pendidikan Indonesia. Menjawab lugas, Anies menegaskan kualitas kurikulum sudah baik. “Sistem yang tidak bagus harus dievaluasi, dan yang sudah bagus dilanjutkan,” katanya.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Elfa Syarifuddin Kholil, siswa kelas XII, menanyakan cara belajar efektif. Menurut Anies, strategi belajar sederhana tapi penting: pilih duduk di depan kelas, pelajari materi sebelum diajarkan guru, dan selesaikan tugas lebih awal.

I’tidal ‘Arabal Haq, santri kelas XII, mengangkat soal kondisi perekonomian nasional. Anies memberikan penjelasan logis yang kembali menuai tepuk tangan meriah.

Bagi keluarga besar Ponpes Al-Ishlah, kunjungan Anies bukan sekadar temu tokoh nasional, melainkan momen yang memberi energi baru. Semangat belajar, semangat berjuang, dan semangat bermimpi besar semakin menyala di kalangan para santri.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin K.H.M. Dawam Saleh, meneguhkan silaturahmi antara pemimpin bangsa, kiai, dan santri di pesantren yang terus berkiprah menanamkan ilmu dan nilai keagamaan. (#)

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni