Feature

Dari Kota Batu, KKMI Panceng Gagas Strategi Baru Pendidikan Madrasah

35
×

Dari Kota Batu, KKMI Panceng Gagas Strategi Baru Pendidikan Madrasah

Sebarkan artikel ini
Ketua KKMI H. Mabrur Ajmain (dua dari kiri), memimpin raker (Tagar.co/Nurkhan)

Rapat kerja KKMI Panceng tak lagi soal administrasi. Di tengah sejuknya Kota Batu, kepala madrasah sepakat: pendidikan harus berkualitas, menyenangkan, dan membumi—dengan hasil nyata, bukan sekadar dokumen.

Tagar.co – Udara sejuk dan suasana edukatif kawasan Kota Batu menjadi saksi semangat para kepala madrasah ibtidaiyah se-Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur dalam menggelar Rapat Kerja (Raker) tahun ajaran 2025–2026.

Bertempat di Villa Hasanah, Rabu–Kamis (6–7 Agustus 2025), raker tahunan ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah dan program kerja madrasah di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Rombongan peserta berangkat bersama-sama menggunakan satu unit bus dari titik kumpul utama di parkiran Wisata Pasir Putih Dalegan, Panceng, Gresik, Jawa Timur. Dalam suasana kebersamaan, mereka membawa semangat kolaboratif dan harapan besar akan peningkatan mutu pendidikan di madrasah masing-masing.

Baca juga: Hangatnya Raker KKMI Panceng di Batu: Rumuskan Program, Lepas Tiga Kepala Madrasah

Ketua Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Panceng, H. Mabrur Ajmain, dalam sambutannya menekankan pentingnya momentum ini untuk melakukan evaluasi dan menyusun langkah-langkah inovatif demi kemajuan madrasah. Ia mengajak seluruh kepala madrasah untuk tidak hanya fokus pada administrasi, tetapi juga menjadikan lembaga yang mereka pimpin sebagai pilihan utama masyarakat.

“Madrasah ibtidaiyah hari ini harus menjadi pilihan utama masyarakat. Bukan sekadar karena murah atau identik dengan nilai agama, tetapi karena mampu memberikan pendidikan yang berkualitas, menyenangkan, dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.

Dengan gaya humornya yang khas, Mabrur kerap mencairkan suasana serius menjadi lebih hidup, membuat diskusi Raker berlangsung dinamis dan inspiratif.

Salah satu hasil penting Raker adalah tindak lanjut dari Workshop Deep Learning dan IrSensi Kurikulum Berbasis Cinta yang telah diikuti kepala madrasah dan guru-guru MI se-Kecamatan Panceng beberapa waktu lalu.

Kini, seluruh madrasah diwajibkan menyusun dan mengumpulkan perangkat pembelajaran lengkap—mulai dari RPP, modul ajar, asesmen, hingga refleksi—berbasis pendekatan pembelajaran mendalam dan kasih sayang.

“Harus ada produk nyata pasca pelatihan. Workshop jangan jadi acara seremonial belaka. Kita dorong setiap madrasah menghasilkan karya nyata yang berdampak,” tegas Ni’am, sekretaris panitia pelaksana.

Foto bersama setelah raker (Tagar.co/Nurkhan)

Tak hanya soal pembelajaran, raker juga menjadi ajang bertukar ide dalam membangun citra dan lingkungan belajar yang positif. Dalam diskusi kelompok, muncul gagasan program-program menarik seperti festival anak saleh, pameran karya siswa, bazar literasi, outing class, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal.

Lebih jauh, peserta Raker juga menyepakati lima strategi utama penguatan manajemen madrasah:

  • Memperkuat identitas madrasah sebagai lembaga yang Islami, ilmiah, dan inovatif.

  • Mengoptimalkan media sosial dan teknologi untuk branding.

  • Membangun sinergi antar madrasah dalam pengelolaan sumber daya dan kegiatan bersama.

  • Meningkatkan kapasitas guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan berkelanjutan.

  • Mendorong kemitraan dengan komunitas literasi, dunia usaha, dan media massa lokal.

Isu literasi siswa turut menjadi sorotan penting dalam Raker ini, seiring semakin strategisnya peran Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dalam pemetaan mutu pendidikan dan akreditasi. Setiap madrasah diminta untuk lebih serius membangun budaya literasi yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Langkah-langkah konkret yang disepakati antara lain:

  • Menyediakan waktu khusus untuk literasi selama 15 menit sebelum pelajaran.

  • Menghidupkan pojok baca di setiap kelas.

  • Menyelenggarakan lomba menulis cerpen, puisi, dan resensi buku.

  • Mengintegrasikan kegiatan literasi dalam pembelajaran tematik.

  • Mendorong kepala madrasah untuk menggali dan mengangkat kearifan lokal di madrasah masing-masing.

Raker ditutup dengan semangat dan tekad bersama untuk mewujudkan madrasah sebagai pusat pendidikan yang unggul, humanis, dan adaptif. Sebuah refleksi kolektif bahwa kemajuan pendidikan bukan semata lahir dari kebijakan pusat, tetapi justru tumbuh dari akar rumput — dari ketulusan para guru dan kepala madrasah yang setiap hari bergulat dengan realitas.

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni