Telaah

Ubah Lelah Menjadi Lillah

45
×

Ubah Lelah Menjadi Lillah

Sebarkan artikel ini
Ustaz Soedjono: Ubah Lelah Menjadi Lillah

Teko Jalan Pacar trus nang Jalan Praban
mulih sekolah dolan nang Siola
Supaya penggawean lancar ora dadi beban
gantien tembung lelah dadi lillah

Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan

Tagar.co – Hidup ini adalah perjalanan penuh tugas dan tantangan. Setiap hari kita menghadapi kewajiban demi kewajiban—di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau dalam amanah sosial yang tak ada habisnya. Tak jarang, tubuh remuk, pikiran penat, dan hati terasa lelah.

Namun, lelah bukan berarti kalah. Ada satu kunci agar semua beban terasa ringan: ubah lelah menjadi lillah. Niatkan semua aktivitas kita karena Allah Swt., bukan semata untuk gaji, pujian, atau rutinitas duniawi.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Ketika bekerja diniatkan sebagai ibadah. Ketika mengurus keluarga diniatkan sebagai amanah. Ketika lelah dijalani dengan cinta karena Allah. Maka segalanya akan bernilai pahala.

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo


Terkadang kita tidak butuh liburan, tapi butuh menata ulang tujuan. Bukan waktu istirahat yang kurang, tapi arah niat yang keliru. Saat semua terasa berat, bukan karena bebanmu terlalu besar, Tapi mungkin karena engkau lupa menyerahkannya kepada Allah.

Maka mari kita mengadu. Bukan sekadar curhat ke sesama, tapi bersimpuh di hadapan-Nya. Karena hanya Allah yang benar-benar tahu isi dada dan beban hidup kita.

“Ya Allah, urusan dunia kami begitu banyak, menguras waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan.
Maka ya Rabb, berikanlah kepada kami: rasa tanggung jawab yang tulus, semangat yang tak padam, dan kesehatan lahir batin dalam menjalankan tugas dan amanah ini. Jadikanlah semua itu hanya untuk menggapai rida-Mu semata. Amin!

Dan di sepertiga malam, saat dunia terlelap, Allah turun ke langit dunia, membuka pintu pengabulan doa. Mari bangkit, walau hanya dua rakaat, Mari sujud, walau dengan mata sembab. Karena tahajud bukan hanya ibadah, tapi pelukan Allah bagi hamba-Nya yang letih.

Monggo nderekaken salat tahajud. Biar tubuh lelah, tapi hati tetap lillah. (#)

Baca Juga:  Pesan Langit, Bahasa Rakyat: Dakwah Parikan yang Dipuji Cak Kartolo

Penyunting Mohammad Nurfatoni