
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas mengisi pengajian umum PCM GKB. Ia menegaskan masa depan bangsa tidak terpisah dari pendidikan dan masjid, mengutip pesan amanah KH Ahmad Dahlan dan pentingnya tauhid sosial.
Tagar.co — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik mengadakan Pengajian Umum sekaligus Peresmian Masjid serta Asrama Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik. Acara yang sekaligus meresmikan Masjid At-Tanwir PRM GKB 4 dan Semarak Milad Ke-113 Muhammadiyah ini berlangsung meriah, Sabtu (6/12/2025).
PCM GKB mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa melalui Pendidikan dan Masjid”. Menghadirkan pemateri utama Dr. Busyro Muqoddas, S.H., M.H., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tokoh nasional yang juga mantan Ketua Komisi Yudisial (KY) dan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini terkenal karena kiprahnya dalam gerakan antikorupsi dan kritik sosial berbasis dakwah.
Baca juga: Wakil Ketua PWM Jatim Bahas Karamah Komunal, Muhammadiyah Ajak Semua Anggota Masuk Surga
Dalam pengajiannya, Busyro menuturkan kisah historis perjumpaan awal Muhammadiyah dengan masyarakat Sumatera Barat. Ia mengutip tulisan Syukri AR di majalah Suara Muhammadiyah, mengenai Kiai Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), yang mengutus cucunya ke Kampung Kauman Yogyakarta untuk meneliti gerakan baru bernama Muhammadiyah.
Cucu tersebut bertemu langsung dengan KH Ahmad Dahlan, merasakan gagasan-gagasannya, lalu menyampaikan pengalaman itu kepada sang kakek. Hasilnya, Muhammadiyah mendirikan cabangnya di Bukittinggi dan mengembangkan gerakan pesat, menjadi kekuatan sosial baru berbasis pendidikan dan pencerahan.
Kemudian Busyro menegaskan, masa depan bangsa tidak mungkin memisahkan pendidikan dan masjid. “Jadi kalimat memajukan itu tidak mungkin kalau tidak lewat pendidikan dan masjid,” ujarnya di lantai 1 Masjid Al-Mizan.
Ia mengutip literatur neurosains, perubahan perilaku dan kesejahteraan sosial berakar pada sistem pendidikan yang berkelanjutan serta ruang spiritual yang membina kesadaran.
Integritas dan Amanah ala Kiai Dahlan
Lebih jauh, Busyro menyinggung ajaran KH Ahmad Dahlan yang terinspirasi Surah Al-Mu’minun. Dalam surah itu, Allah memuji orang beriman karena menepati amanah dan janji, serta menjaga salatnya.
“Orang yang amanah dan menepati janji, dan orang-orang yang memelihara salatnya,” jelas Busyro, menyitir ayat tersebut.
Menurutnya, ayat ini menjelaskan hubungan antara spiritualitas dan tanggung jawab publik. Orang beriman harus memegang janji, memikul amanah, serta menjaga ibadah sebagai sumber energinya.
Busyro menegaskan, salat yang KH Ahmad Dahlan ajarkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, sebagaimana umat Islam seluruh dunia memahaminya. “Salat diawali takbiratul ihram, bahwa Allah Yang Maha Besar, yang Maha Segalanya, termasuk yang mengizinkan pembangunan Masjid Al-Mizan ini,” tutur Busyro.
Ia menambahkan, salat ditutup dengan salam—doa keselamatan—yang mengajarkan umat agar tidak merusak bumi dan kedamaian sosial. Busyro menyebut, Keputusan Tanwir Muhammadiyah di Aceh pernah menegaskan kesadaran sosial tersebut, yang menekankan pentingnya tauhid sosial — iman yang mewujud dalam pendidikan, pemberdayaan, dan keadilan.
Konsep ini, menurutnya, menjadi napas gerakan Muhammadiyah sejak awal: membangun manusia berpendidikan, beretika, dan berintegritas, bukan hanya beribadah secara ritual.
Dalam pandangannya, Muhammadiyah menganggap peresmian Masjid dan Asrama Al Mizan Smamio bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bagian dari strategi panjang mereka dalam membangun ekosistem kaderisasi, pendidikan karakter, dan gerakan sosial. Masjid ini harapannya menjadi pusat ibadah, literasi, diskusi, dan pemberdayaan, bukan hanya tempat salat.
Busyro lantas menekankan spirit kepemimpinan di Muhammadiyah bukan soal jabatan, tetapi kontribusi. “Bisa jadi tidak jadi pimpinan, jadi anggota biasa tapi kerjanya luar biasa,” katanya, yang jamaah sambut dengan tepuk tangan meriah. (#)
Jurnalis Ain Nurwindasari Penyunting Sayyidah Nuriyah













