
Bupati Indah Amperawati menghadiri pemakaman sesepuh Muhammadiyah Lumajang Imam Munir di Bagusari.
Tagar.co – Rumah di Jalan Pisang Agung, Lumajang, dipadati keluarga, kerabat, kader Persyarikatan Muhammadiyah, dan masyarakat. Mereka takziah dan memberikan penghormatan terakhir atas wafatnya Imam Munir, Senin (30/6/2025).
Menjelang Zuhur, jenazah sesepuh PDM Lumajang itu diberangkatkan dengan ambulans Lazismu menuju Masjid Al-Kautsar di belakang Kantor Kementerian Agama Lumajang.
Di masjid itu ratusan jemaah mengikuti salat jenazah usai salat Zuhur. Tangis tertahan, doa-doa lirih, dan wajah-wajah duka menjadi bukti cinta kepada sosok yang semasa hidup dikenal santun, tegas, dan bersahaja.
Dari Masjid Al-Kautsar, jenazah dibawa ke Masjid Al-Ikhlas di Desa Bagusari. Masjid ini tempat perjalanan spiritual dan sejarah keluarga Imam Munir.
Masjid Al-Ikhlas didirikan oleh KH Abdi Manaf, mantan Ketua PDM Lumajang, yang juga mertua almarhum.
Ratusan pelayat memadati masjid. Di antaranya tampak hadir Bupati Lumajang, Indah Amperawati, M.Si., yang ikut salat jenazah.
Usai salat Bupati Indah memberikan kata pengantar. ”Kami semua menjadi saksi bahwa beliau adalah seorang muslim yang taat. Atas nama Pemerintah Kabupaten Lumajang, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Bapak H. Imam Munir,” ucapnya.
Bupati Indah mengenang peran penting almarhum sebagai guru negeri yang penuh dedikasi dan purna tugas tahun 2010.
”Beliau menyelesaikan semua tugas dengan amanah, terutama dalam persoalan hukum. Beliau juga sosok suami dan ayah yang berhasil mendidik keluarganya menjadi keluarga yang saleh. Istrinya adalah istri yang salehah, anak-anaknya saleh dan salehah, anak-anak yang hebat dan bermanfaat untuk masyarakat,” lanjutnya.
Pemerintah Kabupaten Lumajang, sambungnya, memberikan penghargaan dan penghormatan yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan keteladanan almarhum semasa hidup.
“Semoga seluruh amal kebaikan beliau menjadi jalan kemudahan menuju surga Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta keikhlasan,” tuturnya.

Suasana semakin haru saat Ridwan dari PCM Rowokangkung menyampaikan kesan atas kepergian Imam Munir. Ia menyebut almarhum sebagai akar tua Muhammadiyah Lumajang sosok penopang yang senyap namun kokoh.
”Beliau adalah tempat bertanya dan tempat kembali. Seorang penuntun jalan yang tak pernah ingin tampil, tapi selalu hadir saat umat membutuhkan. Beliau penasihat sejati bukan hanya dalam struktur, tapi dalam setiap langkah dan keputusan kita,” ujar Ridwan.
Acara pemakaman di TPU Desa Bagusari berjalan khidmat. Takbir dan doa mengiringi kepergian seorang tokoh yang tak hanya hidup dalam struktur organisasi, tapi juga di hati umat yang pernah merasakan kebijaksanaan dan keikhlasannya.
Hari itu, Lumajang bukan hanya kehilangan seorang tokoh, tetapi juga kehilangan ruh keteladanan. Namun sebagaimana akar tua yang menyimpan kekuatan tersembunyi, warisan nilai-nilai yang ditanam Imam Munir akan terus tumbuh dan menguatkan generasi penerusnya.
Misi dakwah Imam Munir diwariskan kepada anaknya, Ahmad Fathillah, yang menjadi Ketua Corps Mubalig Muhammadiyah Lumajang. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












