
Perjalanan dengan odong-odong ini sontak menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh edukasi. Hamparan sawah dan ladang menghadirkan pemandangan yang asing namun menarik bagi para siswa.
Tagar.co – Belajar bisa di mana saja, bahkan di atas odong-odong! Itulah yang dilakukan siswa-siswi SD Muhammadiyah 6 Gadung (Musix) Surabaya saat mengikuti kegiatan English Camp di Pare, Kediri, Selasa (24/12/24).
Dalam perjalanan menuju lokasi outbound bahasa, mereka diajak mengenal beragam jenis tanaman yang jarang mereka temui di kota.
Candi Tegowangi, yang terletak di Desa Candirejo, Pare, Kediri, menjadi destinasi pilihan untuk kegiatan outbound bahasa pada hari kedua English Camp. Uniknya, para peserta tidak diantar menggunakan bus, melainkan dengan menaiki odong-odong dari tempat penginapan mereka.
Baca juga: Liburan Seru: Siswa SD Musix Belajar Bahasa Inggris dan Korea di Kampung Inggris
Perjalanan dengan odong-odong ini sontak menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh edukasi. Hamparan sawah dan ladang menghadirkan pemandangan yang asing namun menarik bagi para siswa. Rasa ingin tahu mereka pun terpancing. Berbagai pertanyaan tentang nama-nama tanaman bermunculan.
“Ustaz, itu pohon tebu, ya?” tanya Noval Hafiz Ramadhan, siswa kelas III-B, dengan penuh rasa ingin tahu.
“Bukan. Itu tanaman jagung!” jawab Fatharian Zayn Arafif, teman sekelasnya, yang duduk di sampingnya.
Noval tak berhenti di situ. Ia kembali bertanya, “Kalau yang itu tanaman apa, Zayn?” tanyanya lagi sambil menunjuk tanaman yang sekilas mirip jagung dan tebu.
Mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi, Basirun, selaku pembimbing, dengan sabar menjelaskan bahwa tanaman yang dimaksud adalah rumput gajah.
“Kok mirip ya?” tanya Noval lagi.
“Mirip, tapi beda manfaatnya,” jawab Basirun singkat.
Ia pun menjelaskan bahwa rumput gajah merupakan pakan ternak yang kaya nutrisi, sedangkan tebu adalah bahan baku gula. “Nah, kalau tanaman yang warna krem tampak kering itu adalah jagung yang siap dipanen,” lanjut Basirun.

Outbound Asyik
Perjalanan yang ditempuh kurang dari 30 menit itu pun terasa singkat. Setibanya di Candi Tegowangi, para peserta langsung disambut oleh para instruktur bahasa Inggris dan Korea, yaitu Nurul Hekmah Amini (Amini) dan Tika Wulansari (Tika) untuk bahasa Inggris, serta Muchamad Ainul Yaqin (Yaqin) untuk bahasa Korea.
Para siswa dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kelas, masing-masing dipimpin oleh seorang ketua. Dua permainan seru telah disiapkan, yaitu guessing gesture dan eat bulaga.
“Hey guys, in this place we will play the game eat bulaga,” seru Tika dengan bahasa Inggris yang fasih, menjelaskan peraturan permainan kepada para peserta.
Dalam permainan eat bulaga, setiap ketua kelompok akan memperagakan aktivitas sesuai bisikan instruktur, dan salah seorang anggota kelompok harus menebaknya. Anggota kelompok yang lain hanya boleh menjawab no, yes, atau maybe.
“Jika jawaban benar maka tim akan mendapatkan poin,” jelas Tika.
Kegiatan di Candi Tegowangi berlangsung hingga siang hari. Petualangan belajar pun berlanjut ke Kolam Renang Tirto Wariti di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan.
“Asyiik! Sekarang kita akan berenang teman-teman,” teriak anak-anak yang sudah lelah bermain, penuh semangat.
“Betul, tetapi kita akan mampir ke Masjid Imam Baidowi untuk melaksanakan sholat Dhuhur dan makan siang,” sela Warmo Wisanggeni, admin kegiatan, mengingatkan.
Pengalaman belajar sambil berwisata di luar kelas ini menjadi bukti bahwa edukasi bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan dan tak terlupakan.
Bagi siswa-siswi SD Musix, perjalanan dengan odong-odong bukan hanya sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah petualangan seru untuk mengenal kekayaan alam Indonesia dan mengasah kemampuan berbahasa. (#)
Jurnalis Basirun Penyunting Mohammad Nurfatoni












