Feature

Belajar Puasa dengan Ceria: Aktivitas Menyenangkan di TK Aisyiyah 41 Menganti

45
×

Belajar Puasa dengan Ceria: Aktivitas Menyenangkan di TK Aisyiyah 41 Menganti

Sebarkan artikel ini
Melalui tanya jawab, permainan kata, dan kreasi plastisin, anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti belajar makna puasa dengan cara seru. Simak bagaimana mereka memahami puasa dengan bahasa sederhana!
Dian Kurniawati, S.Pd.I mengenalkan kata “puasa” kepada anak didiknya di kelas Strawberry TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur, Kamis, 6 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Melalui tanya jawab, permainan kata, dan kreasi plastisin, anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti belajar makna puasa dengan cara seru. Simak bagaimana mereka memahami puasa dengan bahasa sederhana!

Tagar.co – Suasana ceria kembalii menyelimuti TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur, Kamis (6/3/25). Setelah menikmati libur selama sepekan, anak-anak kembali ke sekolah dengan penuh antusias. Di hari pertama ini, guru kelompok A Strawberry mengenalkan makna puasa kepada anak didiknya dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.

Baca juga: Kejutan Manis Sultan: Perjalanan Cinta untuk Kakek-Nenek di Awal Ramadan

Pagi itu, kelas A Strawberry dan A Jeruk bergabung menjadi satu. Tepat pukul 07.30 WIB, Dini Kurniawati, S.Pd.I, yang akrab disapa Bu Dini, mengajak mereka duduk melingkar di atas karpet. Setelah berdoa bersama, ia mulai mengenalkan konsep puasa dengan cara interaktif.

“Siapa yang hari ini puasa?” tanya Bu Dini. Spontan, beberapa anak mengangkat tangan dengan semangat.

“Puasa itu apa sih?” lanjutnya. Berbagai jawaban polos pun bermunculan, membuat suasana kelas semakin hangat.

Baca Juga:  Bangkit dari Sakit, Queen Juara Pencak Silat IPSI Cup Lamongan 2026

“Bu Guru, aku tadi ajak Aji untuk diam saja biar nggak capek, nanti kalau banyak bergerak jadi cepat haus,” kata Muhammad Aulian Ghayda Asyraf, mencoba memahami cara agar tetap kuat saat berpuasa.

Asyraf juga berbagi pengalaman berpuasa di keluarganya, “Bundaku kemarin batal puasanya, Bu Guru. Soalnya kemarin bundaku marah-marah.”

Meskipun pemahaman mereka masih sederhana, namun Asyraf sudah bisa menghubungkan puasa dengan pengendalian diri. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, Bu Dini pun menjelaskan bahwa selain menahan lapar dan haus, puasa juga mengajarkan kesabaran serta menghindari perbuatan yang dapat mengurangi pahala, seperti marah dan menjahili teman.

Melalui tanya jawab, permainan kata, dan kreasi plastisin, anak-anak TK Aisyiyah 41 Menganti belajar makna puasa dengan cara seru. Simak bagaimana mereka memahami puasa dengan bahasa sederhana!
Anak-anak didik kelompok A berkreasi membuat kata “puasa” dengan media plastisin di kelas Strawberry TK Aisyiyah 41 Menganti Gresik, Jawa Timur, Kamis, 6 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Mengenal Huruf dalam Kata ‘Puasa’

Setelah memahami konsep dasar puasa, anak-anak diajak untuk mengenal ejaan kata “puasa” dengan cara yang menyenangkan.

“Ada huruf apa saja dalam kata ‘puasa’?” tanya Bu Dini.

Mereka pun menjawab dengan semangat, menyebutkan huruf-huruf dalam kata tersebut. Selanjutnya, ia menanyakan jumlah huruf vokal dan meminta anak-anak menyebutkan kata lain yang berawalan dengan huruf P.

Baca Juga:  Dongeng Jadi Senjata Pendidikan, Guru TK Menganti Asah Kompetensi Berkisah

“Padi, papa, pipa, pisang, pepaya!” celoteh mereka bersahutan.

Aktivitas ini kemudian berlanjut dengan mencari kata-kata lain yang diawali huruf U, A, S, melatih kemampuan berbahasa mereka dengan cara yang menyenangkan.

Dinara Puteri Erka Auluula pamerkan hasil karyanya membuat kata “puasa” dengan media plastisin di kelas Strawberry TK Aisyiyah 41 Menganti Gresik, Jawa Timur, Kamis, 6 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Belajar Puasa Lewat Kreasi Plastisin

Sebagai kegiatan puncak, anak-anak diajak membuat tulisan “puasa” menggunakan plastisin. Berbagai warna plastisin disediakan, dan mereka bebas memilih sesuai keinginan.

“Lihat, Bu Dini! Aku sudah selesai,” kata Dinara Puteri Erka Auluula dengan bangga, menyelesaikan tugasnya dalam waktu kurang dari 10 menit.

“Boleh dibawa pulang nggak, Bu?” tanyanya penuh harap.

Waktu berjalan begitu cepat. Tepat pukul 09.30 WIB, anak-anak pulang dengan senyum merekah. Hari ini, mereka tidak hanya belajar tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga memahami pentingnya mengendalikan diri dan berbuat baik kepada sesama. Diharapkan, pengalaman ini dapat membentuk karakter religius mereka sebagai bekal hidup di masa depan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni