Feature

Mubalig Hijrah Muhammadiyah Mengusung Konsep Ramadan Hijau

33
×

Mubalig Hijrah Muhammadiyah Mengusung Konsep Ramadan Hijau

Sebarkan artikel ini
Pembekalan Mubalig Hijrah Muhammadiyah 26-27 Februari 2025 yang diselenggarakan PWM DIY di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Tagar.co/Istimewa)

Mubalig Hijrah Muhammadiyah 2025 tak hanya membekali dai dengan ilmu dakwah, tetapi juga mengusung konsep Ramadan Hijau, mengajak umat Muslim untuk menghubungkan ibadah dengan aksi nyata menjaga lingkungan.

Tagar.co – Program tahunan Mubalig Hijrah yang digagas oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali berlangsung dengan semangat dakwah yang berkelanjutan. Tahun ini, selain membekali para mubalig dengan ilmu dakwah dan ibadah, program ini turut mengusung konsep “Ramadan Hijau” yang mengajak umat Islam untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Pembekalan yang bertempat di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPVSB) Sleman pada 26-27 Februari 2025, ini diikuti oleh 312 peserta dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Acara ini dipandu oleh Ustaz Qaem Aulassyahied dan juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube GreenFaith Indonesia.

Sebagai sebuah tradisi yang telah berjalan lebih dari tiga dekade, Mubalig Hijrah menjadi ajang pembekalan kader dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin hingga ke tingkat ranting Muhammadiyah.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

Baca juga: PWM DIY Lepas 2.280 Mubalig Hijrah: Tebar Dakwah, Berdayakan Umat

Ketua Majelis Tabligh PWM DIY, Miftahulhaq, S.H.I., M.S.I., dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa program ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi merupakan bagian dari misi dakwah berkelanjutan. “Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi semua. Melalui Mubalig Hijrah, kita ingin memastikan nilai-nilai Islam yang damai dan inklusif semakin tersebar luas,” ujarnya.

Menjawab Tantangan Dakwah di Era Modern

Dalam sesi pembekalan, Drs. Yusuf A. Hasan, M.Ag., menyampaikan pentingnya komunikasi yang efektif dalam berdakwah. Menurutnya, mubaligh perlu menghindari bahasa multitafsir serta menyesuaikan pesan dakwah dengan audiens agar lebih mudah dipahami dan diterima. Ia menyoroti empat unsur utama dalam komunikasi, yaitu sumber (dai), pesan (message), saluran penyampaian (channel), dan penerima (mad’u). Keselarasan keempat unsur ini akan memastikan bahwa dakwah bukan hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga berdampak secara emosional dan perilaku di tengah masyarakat.

Selain itu, Dr. Setyadi Rahman, M.P.I., memberikan materi tentang filih dan praktik ibadah. Ia menyoroti pentingnya pemahaman mendalam terkait tata cara mandi janabah, pengurusan jenazah, dan pelaksanaan salat yang benar. “Seorang mubalig harus memiliki pemahaman yang kuat agar dapat memberikan bimbingan yang tepat kepada masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga:  Puasa dan Etika Energi, Seruan Aisyiyah Sambut Ramadan Lebih Ramah Lingkungan
Peserta Mubalig Hijrah PWM DIY di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Tagar.co/Istimewa)

Ramadan Hijau: Ibadah dan Kepedulian Lingkungan

Salah satu sesi yang menjadi sorotan dalam Mubalig Hijrah 2025 adalah diskusi mengenai “Ramadan Hijau,” yang dipaparkan oleh Hening Parlan, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah. Konsep ini mengajak umat Islam untuk menghubungkan ibadah puasa dengan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga bumi,” ujarnya.

Bunda Hening, demikian ia akrab disapa, mengajak para mubaligh untuk aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup ramah lingkungan, mulai dari mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, hingga membangun kesadaran kolektif tentang perubahan iklim.

“Setiap tindakan kecil, seperti menghemat air dan listrik, dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif,” tegasnya. Peraih penghargaan Planet World 2024 dari Kedutaan Inggris ini juga menyoroti perlunya aksi nyata dalam merespons krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Dalam sesi diskusi, ia mengungkapkan bahwa meskipun sekitar 70 persen umat Islam di Indonesia menyadari adanya perubahan iklim, hanya sedikit yang mengambil langkah konkret untuk mengatasinya. Ia pun mendorong para mubaligh untuk menjadi agen perubahan dalam mengintegrasikan ajaran Islam dengan kesadaran lingkungan. “Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Kita harus menanamkan nilai ini dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Acara Mubalig Hijrah 2025 ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para peserta berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang tantangan dakwah di era modern. Dengan semangat keislaman yang kuat, PWM DIY berharap program ini terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi umat. (#)

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni