
Ketika Alisa kembali bertemu Kayeng di tempat kerja, rahasia yang terkubur mulai terkuak. Sebuah bingkisan misterius dan tatapan penuh makna membawa mereka ke kenyataan pahit yang tak terelakkan.
Cerpen oleh Risha Iffatur Rahmah, Guru SMA Muhamamdiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur.
Tagar.co – Alisa melangkah melewati ruang dan lorong kantor. Matanya yang tajam terpaku pada sesuatu di lantai. Memori indahnya terkenang. Sepatu itu mirip dengan milik Kayeng. Mata mereka beradu penuh nostalgia. Ada harapan yang putus di tengah jalan. Ya, percintaan yang lepas dalam genggaman.
“Bagaimana, aku harus berkata?” Wajah Alisa tersenyum untuk menandakan ada kedamaian dan sikap terbuka. Namun, semua itu berbeda dengan Kayeng. Wajahnya gusar dan cemas, seakan pertemuan itu adalah hal yang tidak pernah diharapkan. Bahkan di akhir tatapan, Alisa tidak melihat senyuman yang sama.
Waktu terasa lambat dan hambar, perasaan Alisa terhanyut. Pertemuan pagi itu, seperti cuplikan adegan yang terlalu lama untuk diakhiri. Berbagai narasi tanpa tujuan berkecamuk seperti badai yang mengundang mendung. Rasa sesal pernah mencintai menjadi hal yang tak bisa dihapus.
Baca cerpen lainnya: Lelaki selepas Subuh
Mereka berdua akhirnya melangkah jauh. Alisa mengembara dalam lamunannya. Dia tidak menyangka akan menjadi rekan satu pekerjaan. Kedudukan Kayeng adalah senior dengan pengalaman sepuluh tahun. Waktu yang panjang itu jelas berbeda. Kegusaran perasaan mengacu pada kejadian tiga belas tahun lalu, saat dia memberanikan diri untuk mencintai Kayeng dan ditolak mentah-mentah.
Jelas, gadis kecil di perusahaan itu disergap dengan emosi negatif. Seharusnya Alisa yang merasa kesal, bukan Kayeng. Pemikirannya dicumbui gagasan liar. Ia memprediksikan segala hal yang mengancam eksistensi profesionalismenya.
Di ruangan kerja kehumasan, kemampuan dirinya ditempa. Wajah cantik berbalut kerudung putih dan setelan kemeja senada menjadi pusat perhatian.
Tepat di atas mejanya ada gelas-gelas cup minuman kopi, teh, susu, dan jus. Anehnya, tidak satu pun yang peduli, meskipun pesan dari WhatsApp terlihat sepi. Rekan kerjanya tidak sedikit pun mau mencicipi atau mengambil minuman itu. Mereka memilih menunjukkan minuman kepunyaannya di meja masing-masing, padahal Alisa baru bekerja sehari di perusahaan D’esain.
Cup jus yang dia pilih, karena minuman itu memang kesukaannya. Lidahnya menari-nari menikmati percampuran gula, susu, krimer, dan buah mangga.
“Wah, enak sekali. Beli di mana ya? Sepertinya saya perlu resep jus ini. Apakah Kakak sekalian tahu lokasinya?” “Entahlah, itu yang buat ahli gizi kayaknya.” “Siapa?” “Ya, tidak kenal. Jauh ruangan gizi dari tempat ini, tapi tidak tahu lagi sih!”
Perasaan penasaran menghantuinya dari pagi ke pagi berikutnya. Hal sama juga terjadi, sampai suatu ketika Riyadi datang dan memberitahu.
“Tidak usah bingung, memang bagian kita ini mencicipi minuman yang akan disajikan pada tamu. Berhubung kamu minum jus setiap hari, maka para tamu nanti disajikan hal yang sama.”
Keluguan Alisa menjadi bahan tawa kantor. Perasaan disukai menjadi candu yang menggelikan, karena dia sendiri yang jomblo di ruangan itu.
“Memangnya dipikir apa? Disukai siapa? Hahahah!” sahut Pak Wibawa yang beberapa pekn merahasiakan kebiasaan perusahaan.
Alisa masih tersenyum manis dan memamerkan giginya. Segala kerisauan hati tidak berhenti di situ. Ia terlihat penasaran dengan kudapan cokelat yang terbungkus rapi dalam tas ungu. Baginya, hal itu tidak wajar dan tidak ada pula pesan yang ditinggalkan.
“Pak Wibawa, apakah cokelat di dalam tas ungu ini juga tester untuk tamu?” ‘
“Tentu, bukan dari teman kamu. Tadi pagi memang ada office boy (OB) yang mengantar itu.”
“Oh, baik, terima kasih.”
Rasa penasaran pemberian cokelat dihentikan oleh Riyadi yang memberikan setumpuk agenda kerja kehumasan. Pekerjaan berat dimulai hari ini, ia memeriksa, mengerjakan, dan meresume segala kegiatannya. Tak jarang waktu yang dibutuhkan melebihi jam kerja. Beberapa kali ia meminta izin lembur kepada atasannya.
Tepat di hari itu, OB memberikan paket makanan lengkap dengan jus favorit Alisa. Ia segera menodongkan beberapa pertanyaan.
“Maaf, ini semua, dari cokelat sampai makanan dan minuman ini, dari siapa?”
“Dari Pak Kayeng, Bu, katanya sebagai permintaan maaf.”
“Terima kasih, sudah dimaafkan.”
Tak lupa si gadis itu memberikan catatan kecil berupa nomor telepon. Namun, catatan itu ditolak. OB berlalu sambil tergesa-gesa lari. Merasa tidak enak, Alisa meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Kayeng.
Sesampainya di ruangan itu, Kayeng sedang duduk sambil meminum segelas kopi. Wajah yang tak ramah disajikan. Ibarat musuh, hanya saja senyum Alisa mengaburkan situasi canggung dan menegangkan.
Hubungan atasan dan bawahan dengan mata yang tajam menguji mental anak baru ini. Selepas tatapan itu, ia hanya menunduk dan menyodorkan tangannya untuk meminta maaf secara formal. Gadis ini membuang rasa malunya demi profesionalitas kerja.
Sayangnya, tangan itu diacuhkan begitu saja. Kayeng lebih memilih mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Terdengar di ruangan itu, ia telah memarahi OB. Perasaan tidak enak hati, membuat kaki Alisa melangkah pergi sambil menahan narasi liar yang berkecamuk kembali. Gadis itu berjalan sambil merangkul perasaan menyesal pernah mencintai Kayeng.
Sesampainya di ruangan kerja, ia lebih memilih mengambil mukena. Perjalanan ke masjid samar-samar dilihat Kayeng dari balik jendela kerja lantai tiga. Ruangan yang tidak jauh dan sempurna untuk mengintai. Lelaki itu melipat tangannya lalu mengusap dagunya. Ia teringat memori salat bersama saat Alisa masih remaja dulu.
Kayeng hanya terdiam sepi di tempat kerjanya. Tangannya memegang profil Alisa sebagai karyawan. Tangannya mengepal seperti dendam yang tak berkesudahan. Sepertinya ia tahu banyak hal tentang Alisa dan alasan kenapa dia diterima kerja di perusahaannya. Di sela perasaan yang berkepanjangan, terdengar suara pintu diketuk. Alisa kembali membawa sekotak makanan dan tas ungu.
“Mohon maaf, Pak Kayeng, sepertinya saya tidak bisa menerima semua ini!” Tangan berbalut kemeja merah menyodorkan bingkisan. Lelaki itu hanya menanggapi dengan wajah yang lelah, lalu samar terdengar suara.
“Sudahlah, saya mau pulang.”
Alisa diacuhkan begitu saja. Langkah kakinya terlipat diam tidak bergerak. Berbeda dengan Kayeng yang berburu waktu pulang. Narasi liar yang sedari tadi ditahan muncul kembali. Matanya tak henti menatap bingkisan. Dia memberanikan diri duduk sejenak di depan meja kerja Kayeng. Di sana dihiasi beberapa foto dengan senyum yang lebar.
Sebungkus cokelat dengan tas ungunya diletakkan di atas meja kerja Kayeng. Ia menuliskan perasaannya dan permintaan maaf masa lalu. Kesendirian di ruangan yang luas membuat gadis tersebut tertidur lelap. Tangannya terlipat menutupi wajahnya. Makanan yang di sampingnya telah dingin bersatu dengan suhu AC.
Beberapa jam berlalu, tepat pukul sepuluh, ada OB membangunkannya. Segera Alisa meninggalkan ruangan itu dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia tak lantas mandi. Beberapa file pekerjaan ia keluarkan terlebih dahulu. Kemudian, beralih mengecek tugas dan catatan. Sayangnya, buku harian tersebut menghilang. Keringat dingin dari kening mengalir. Ia merasa jika catatannya ada di ruangan kerja Kayeng setelah mencabut bolpoin untuk menulis pesan. Tidak mungkin ia kembali lagi ke kantor, terlalu berbahaya jika nanti harus pulang sendiri. Ia lebih memilih melepaskan beban dan beristirahat.
Pagi hari, di meja kerja Alisa seperti biasa terdapat banyak cup minuman, akan tetapi ada juga buku catatan kecil yang terselip di antara file kertas tugas kantor. Perasaannya semakin resah, ia takut jika seseorang yang mengembalikannya tahu semua isi catatan dari tahun 2007 silam. Pikirannya semakin penuh karena dia tahu, tidak ada namanya yang tertulis. Karakter tulisan ini yang tahu hanya Kayeng. Ia juga terkejut ada pula bingkisan cokelat yang berbeda di tas ungu kemarin.
“Nah, kembali lagi tas ini. Sebenarnya maunya apa? Ditemui cuek, tidak dibalas, ya, bahaya. Dia kan senior,” umpatan kecil itu terdengar samar oleh Pak Wibawa.
“Ya, rezeki. Orangnya tidak ingin barang yang diberikan dikembalikan lagi.”
Raut muka senior juga sama datar dan diselingi senyuman tipis. Alisa merasa beruntung sebab rekan kerjanya belum datang. Karena perasaan yang tidak enak, gadis itu mengeluarkan sebagian bingkisan cokelatnya untuk diberikan ke Pak Wibawa. Alangkah terkejutnya, saat lelaki yang bertubuh gempal itu membuka bungkus pertamanya.
Ada surat yang nongol. Seperti catatan kecil. Ya, catatan yang ditulis Alisa kemarin.
“Wah, sepertinya saya berada di lingkaran percintaan,” gumam Pak Wibawa sambil memberikan catatan kecil tersebut. Wajah Alisa tampak merah jambu, sama seperti motif bunga pada kemejanya.
Hari demi hari, Alisa dipenuhi perasaan tanya. Perasaan yang dulu ia kubur menjadi hidup kembali. Perlakuan Kayeng yang ia rasakan berbeda dengan isi bingkisannya. Ia percaya, suatu saat hari bahagia datang.
Pekerjaan di luar waktu kantor membuatnya keliling dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Tahun-tahun berlalu dalam penantiannya sendiri. Beberapa kolega terlihat menghargai profesionalitas dan kelancaran presentasi Alisa. Saham perusahaan semakin membaik. Banyak mitra usaha yang bergabung. Sementara itu, tawaran bekerja dari perusahaan ternama lainnya membuat hatinya bercabang.
Dia merasa sendiri di perusahaan besar itu, meskipun bersama Kayeng sebagai teman di masa remajanya dulu. Ketidakjelasan jawaban membuatnya angkat kaki. Teman sekantor melepas kepergian Alisa dengan berat hati. Surat pengunduran dirinya telah disetujui. Tibalah ia berpamitan pada direktur utama. Pintu diketuk dengan pelan, sekretaris mengantarkan gadis muda.
Sesampainya di depan meja direktur utama, Alisa baru menyadari jika perusahaan ini merupakan rekanan bisnis ayahnya. Terlebih, Kayeng yang menempati posisi utama. Wajah senyum tipis sekretaris meninggalkan mereka berdua. Tatapan tajam dan kosong beradu.
“Iya, silakan pergi.”
Begitulah pernyataan Kayeng, tanpa kalimat tanya dari Alisa. Langkah kakinya mundur perlahan sambil membungkuk tanda hormat. Air mata Alisa jatuh tanpa suara. Fasilitas berupa mobil dari perusahaan dikembalikan di atas meja sang direktur. Suasana menjadi canggung ketika Kayeng berdiri, lalu membuang muka menghadap jendela. Siluet senja sore hari mengakhiri hubungan kerja Alisa.
Beberapa bulan di perusahaan yang berbeda, diadakan pertemuan kolega besar. Direktur utama menjadi tamu undangan. Alisa menjadi satu-satunya tamu yang tak diundang, namun diminta hadir oleh ayahnya sendiri. Gaun hijau khas perusahaan menjadi identitas pelengkap.
Sesampainya di gedung yang megah, Kayeng menyapa Alisa dan memperkenalkan diri sebagai kakak tertua dari ibu yang berbeda. Ayah yang mendengar itu, hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia berhasil mendidik dua anaknya menjadi penerus perusahaan.
Terjawab sudah, segala narasi dan pertanyaan liar yang ada dalam pikiran gadis itu. Rasa kesal dan kecewa tersungging. Perasaan yang hidup semakin sekarat. Ia tidak mampu menerima kenyataan. Pertemuan kolega menjadi saksi untuk pertama kalinya senyuman Alisa hilang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni






