Feature

Belajar Membuat Sabun Lerak di Asman Toga Rosella

43
×

Belajar Membuat Sabun Lerak di Asman Toga Rosella

Sebarkan artikel ini
Belajar membuat sabun dari buah lerak dilakukan murid SMK Negeri Tempeh ke taman Asman Toga Rossella Tempeh Lor. Sabun alami ini untuk mencuci kain batik.
Siswa dan guru SMKN Tempeh Lumajang melihat koleksi tanaman di Taman Toga. (Tagar.co/Kuswantoro)

Belajar membuat sabun dari buah lerak dilakukan murid SMK Negeri Tempeh ke taman Asman Toga Rossella Tempeh Lor. Sabun alami ini untuk mencuci kain batik.

Tagar.co – Halaman Asman Toga Rosella Desa Tempeh Lor, Dusun Tulus Rejo II, Lumajang, menjadi tempat belajar bagi warga. Bukan saja soal tanaman obat. Bisa juga tentang membatik.

Itu diceritakan oleh Christin Nur Andayani, S.T., guru produktif teknik batik SMK Negeri Tempeh kepada wartawan Tagar.co di kantornya, Selasa (21/10/2025).

Christin bercerita, dia mengenal Asman Toga (Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga) Rosella, Desa Tempeh Lor dari rekan sekantornya, Deva Niawati.

Ia sering membagikan cerita tentang taman Asman Toga Rosella melalui story WhatsApp.

“Akhirnya saya tertarik dan minta info. Bu Deva menjelaskan, di Asman Toga Rossella banyak sekali kegiatan bermanfaat, salah satunya budidaya pohon lerak dan pembuatan sabun dari buah lerak,” tutur Christin.

Menurutnya, di antara banyak kegiatan itu, ia memilih yang relevan dengan jurusannya, yakni batik.

Baca Juga:  Lima Pesan PDM Lumajang Sambut Ramadan

Maka dia mengajak muridnya belajar di taman itu. Koleksi tanaman obatnya lengkap.

Dia semakin terkesan di Asman Toga Rossella memiliki pojok baca. Pengunjung bisa memindai barcode di setiap tanaman untuk mengetahui manfaat dan fungsi tanaman.

“Jadi siswa bisa belajar langsung di lapangan sambil membaca penjelasannya melalui barcode. Itu sangat edukatif,” tambahnya.

Membuat Sabun

Dia membawa murid SMK Negeri Tempeh ke taman Asman Toga Rossella, Desa Tempeh Lor, Dusun Tulus Rejo II pada Kamis, 24 Juli 2025 lalu.

Di bawah teduhnya pepohonan, anak-anak belajar membuat sabun dari buah lerak. Juga disebut klerek.

Buah kecil berkulit cokelat itu bagi dunia batik dikenal sebagai pembersih lembut yang menjaga warna dan serat kain tetap awet.

Para siswa jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil berkesempatan melihat proses pembuatan sabun dari sumbernya.

Mulai dari mengenal tanaman lerak, mencuci buahnya, hingga mengolahnya menjadi sabun cair.

“Respon anak-anak sangat senang. Bahkan mereka meminta waktu belajarnya ditambah supaya lebih efektif. Saat diajak pulang pun banyak yang belum mau karena tempatnya menyenangkan,” ujarnya.

Baca Juga:  Tarhib Ramadan dalam Bayangan Asap Semeru

Kunjungan itu, kata Cristin, menjadi awal kerja sama antara SMKN Tempeh dan Asman Toga Rossella.

“Kami ingin ke depan anak-anak bisa membuat sendiri sabun lerak dan menanam pohonnya di lingkungan sekolah. Ini sangat berkaitan dengan jurusan batik,” jelasnya.

“Di sini anak-anak tidak sekadar membatik, juga belajar menjaga kualitas batik agar tetap bagus dengan mencuci pakai sabun lerak. Itu ilmu baru yang tidak mereka dapatkan di bangku sekolah,” ucapnya.

Batik Anggrek Semeru

Christin juga menjelaskan bahwa hasil karya batik siswa-siswinya kini telah dikenal luas.

“Batik kami memiliki ciri khas sendiri, yaitu motif bunga anggrek Semeru. Sampai sekarang kami terus memproduksinya, dan banyak peminatnya. Pembelinya tidak hanya dari Lumajang, tapi juga dari Jakarta, Surabaya, Malang, hingga luar Jawa seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Sulawesi,” tuturnya dengan bangga.

Dia menyampaikan para siswa agar mencintai produk dan warisan bangsa sendiri.

“Kita harus cinta dengan produk Indonesia. Kita harus bangga dengan warisan leluhur kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya tegas.

Baca Juga:  Sebanyak 28 Relawan Penjaga Lintasan KA Terima Kado Ramadan

Sehari di Asman Toga Rossella memberi pelajaran berharga bahwa alam sekitar menyimpan banyak inspirasi.

Dari buah lerak yang sederhana, siswa-siswi SMKN Tempeh belajar tentang keselarasan antara seni, pengetahuan, dan lingkungan. Sebuah langkah kecil menuju batik yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga ramah bagi bumi. (#)

Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto