Opini

Ambigu

35
×

Ambigu

Sebarkan artikel ini
Seringkali kita mendengar kecil tidak apa-apa yang penting ikhlas. Bahkan ada yg menulis buku Small is Beautiful. Padahal obyek yang kecil itu sulit dilihat oleh mata telanjang
drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim (kedua dari kiri), meninjau renovasi kantor Lazismu Situbondo (Tagar.co/Sugiran)

Ambigu. Seringkali kita mendengar kecil tidak apa-apa yang penting ikhlas. Bahkan ada yg menulis buku Small is Beautiful. Padahal obyek yang kecil itu sulit dilihat oleh mata telanjang

Oleh drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim

Tagar.co – Ambigu itu seperti kata-kata yang punya lebih dari satu makna. Jadi bisa bikin bingung. Begitu jawaban Meta AI ketika kita mengetik ambigu.

Lain lagi kata Google. Ambigu artinya sesuatu yang memiliki makna ganda, bermakna lebih dari satu, atau tidak jelas. Sehingga ambigu menimbulkan keraguan, kekaburan, dan bisa diinterpretasikan dalam berbagai cara.

Istilah ini sering digunakan untuk kalimat atau pernyataan yang tidak efektif karena sulit dipahami maksud sebenarnya. Bisa terjadi dalam lisan maupun tulisan, dan penting untuk dihindari agar komunikasi lancar.

Membangun Silaturahmi 

Dalam kegiatan filantropreneur yang kita geluti, seringkali kita mendengar kecil tidak apa-apa yang penting ikhlas. Bahkan ada yang menulis buku Small is Beautiful. Padahal obyek yang kecil itu sulit dilihat oleh mata telanjang.

Baca Juga:  Harapan Baru Penjual Dawet di Sidoarjo lewat Bantuan Gerobak Lazismu

Pada sistem demokrasi yang telah kita pilih dan sepakati itu, kecil sudah pasti kalah, minoritas akan kalah dalam penghitungan suara.

Kita tidak akan mendapatkan janji luasnya rezeki dan usia panjang, jika kita tidak membangun silaturahmi, tidak punya jejaring yang besar, luas dan kuat.

Padahal Islam mengajarkan kepada kita agar kita terus tumbuh secara signifikan, agar kita termasuk orang yang beruntung. Jika mandeg alias tetap, maka kita akan menjadi orang yang merugi. Apalagi jika malah menurun, maka kita akan termasuk orang yang bangkrut.

Bukankah kita juga diperintah menjadi umat terbaik. Jadilah kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Digital Filantropi

Mengajak orang lain agar lebih banyak dan lebih banyak lagi orang yang berbuat baik. Ada banyak cara, bahkan terbukti ada kemudahan dengan tehnologi digitalisasi yang mampu memperluas jaringan silaturahmi dengan biaya sangat murah, mudah, dan sangat efektif.

Baca Juga:  Lazismu Sidoarjo Salurkan Mushaf Al-Qur’an dan Makanan untuk Perempuan Binaan Rutan

Digitalisasi saat ini juga dipakai oleh para ustaz untuk memperluas jangkauan dakwah dan pengaruhnya. Bahkan sekaligus dimanfaatkan untuk penguatan filantropreneur mereka.

Juga terbukti ampuh dipakai oleh para politisi untuk memenangkan kompetisi demokrasi, merebut kekuasaan. Dipakai oleh pasar untuk menguasai transaksi-transaksi ekonomi.

Tehnologi digitalisasi untuk memperluas jaringan silaturahmi itu juga marak dipakai oleh sekolah-sekolah dan masjid-masjid. Dan terbukti ampuh mendongkrak eksistensi kebermanfaatan yang bisa ditebar secara signifikan.

Mari teguhkan mimpi dan aksi, bahwa kita harus menjadi besar dan lebih besar lagi. Karena dengan begitu, kata Cak Amil Gresik, juga akan besar manfaat yang bisa kita tebar.

Kikis habis mindset cilik nggak opo-opo sing penting ikhlas. Apalagi bergerak dalam senyap. Jadilah Lazismu, AUM, serta semua tingkatan struktur Perserikatan Muhammadiyah se-Jatim ini menjadi besar bahkan lebih besar lagi.

Dengan begitu, otomatis kita semua akan bisa menghadirkan kebermanfaatan dan dampak kebaikan yang besar pula.
Tetap semangat. Bismillah. (#)

Penyunting Sugiran.

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…