Telaah

Adab kepada yang Lebih Tua: Cermin Kemuliaan di Era Digital

41
×

Adab kepada yang Lebih Tua: Cermin Kemuliaan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Meski zaman terus berubah, adab kepada yang lebih tua tetap menjadi ukuran kematangan hati. Ia bukan soal basa-basi, melainkan jalan meraih keberkahan hidup yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, adab kerap dianggap sebagai peninggalan masa lalu. Banyak orang merasa cukup dengan ilmu dan pencapaian, lalu meremehkan mereka yang usianya lebih tua. Padahal, adab kepada yang lebih tua bukan sekadar etika sosial—ia adalah cermin kemuliaan hati dan bukti keberkahan hidup.

Dalam Islam, menghormati orang yang lebih tua bukanlah sekadar tradisi, melainkan bagian dari perintah agama. Ini bukan sekadar soal sopan santun, tetapi cara kita menjaga cahaya iman dalam relung kehidupan. Sebab orang yang beradab sejatinya sedang memelihara jati dirinya di hadapan Allah dan sesama manusia.

Islam datang bukan hanya membawa akidah dan ibadah, tetapi juga membangun masyarakat yang saling menghormati—termasuk kepada mereka yang lebih tua dalam usia, pengalaman, dan hikmah hidup. Bahkan Rasulullah ﷺ mencontohkan secara langsung dalam kehidupannya, betapa tingginya adab beliau terhadap orang yang lebih tua, bahkan kepada non-Muslim sekalipun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak para ulama.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmizi)

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Merawat Cinta setelah Ramadan

Kalimat laysa minna (bukan dari golongan kami) adalah peringatan yang sangat keras. Ia menunjukkan bahwa siapa pun yang mengabaikan penghormatan kepada yang lebih tua, telah keluar dari sifat-sifat utama umat Islam. Ini bukan perkara sepele, tetapi menyangkut akhlak yang menjadi fondasi peradaban.

Allah ﷻ juga memerintahkan kita agar bersikap lembut dan merendahkan diri kepada orang tua:

﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'” (Al-Isra: 24)

Meskipun ayat ini secara spesifik berbicara tentang kedua orang tua, semangatnya berlaku luas kepada semua yang lebih tua. Sikap lembut, rendah hati, dan doa kebaikan adalah bentuk nyata dari adab yang diajarkan wahyu.

Namun, apa yang terjadi hari ini?

Banyak anak muda merasa lebih unggul karena menguasai teknologi. Mereka lupa bahwa pengalaman tidak bisa digantikan oleh kecepatan jari di layar ponsel. Orang tua yang lambat membalas pesan kerap dicap “gaptek”. Ketika memberi nasihat, dianggap tak relevan. Bahkan ada yang tega menyindir, memotong pembicaraan, atau lebih buruk lagi—mempermalukan orang tua di media sosial.

Sungguh, ini adalah tanda hati yang sedang sakit. Sakit karena tak lagi tahu malu, tak paham tata krama, dan kehilangan batas antara keunggulan ilmu dan keangkuhan diri.

Baca Juga:  Mengetuk Langit pada Sepertiga Malam: Dari Rutinitas Menuju Perjumpaan

Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ تَعَالَى إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ”
“Sesungguhnya di antara bentuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan seorang Muslim yang beruban (karena usia).”
(HR. Abu Dawud)

Memuliakan orang tua adalah bagian dari memuliakan Allah. Bila kita ingin dimuliakan, maka muliakanlah mereka lebih dahulu. Bila ingin rezeki berkah, hormatilah mereka dengan sepenuh jiwa. Sebab tidak ada kebaikan pada diri seseorang yang tidak mampu menjaga adab terhadap orang yang lebih tua.

Dalam satu kisah disebutkan, Abdullah bin Umar رضي الله عنهُ pernah melihat seorang laki-laki tua lewat di depannya. Maka ia turun dari keledainya, melepas surbannya, dan memberikan tempat duduknya kepada lelaki tua itu. Ketika ditanya, ia menjawab, “Aku melihat ayahku memuliakan orang ini, dan aku tidak ingin memutus rantai kemuliaan itu.”

Adab bukan hanya soal sikap lahiriah. Ia adalah bahasa jiwa. Saat seseorang tahu batasnya, tahu menempatkan diri, dan tahu cara menghormati yang lebih dulu hidup, di situlah kematangan batin tumbuh. Orang yang pandai belum tentu matang. Tetapi orang yang beradab, pasti telah dewasa secara ruhani.

Penting untuk dipahami: adab bukan kalah, bukan tunduk, bukan pula takut. Adab adalah kesadaran akan hierarki nilai. Bahwa dalam setiap langkah hidup, ada orang-orang yang lebih dahulu berjalan. Mereka punya pelajaran, hikmah, bahkan luka yang sudah mereka lalui. Maka siapa kita, jika hanya karena bisa membuat presentasi lebih cepat, lalu merasa lebih benar dari mereka?

Baca Juga:  Doa untuk Memperindah Akhlak

Jika hari ini kita meremehkan yang tua, bisa jadi kelak anak-anak kita akan memperlakukan kita sama. Sebab adab adalah warisan. Ia tidak diwariskan lewat nasihat semata, tetapi lewat teladan. Bila anak melihat kita memuliakan orang tua, mereka akan belajar bagaimana menjadi manusia yang benar-benar manusia.

Adab adalah nafas panjang dari keberkahan hidup. Tanpa adab, ilmu menjadi sombong. Tanpa adab, ibadah menjadi kering. Tanpa adab, teknologi bisa menjadi alat penghinaan terhadap sesama.

Mari kita mulai lagi. Pelan-pelan, dari hal kecil:

  • Dengarkan nasihat orang tua, walau tidak selalu kita setujui.
  • Jangan memotong pembicaraan mereka, meski kita lebih cepat bicara.
  • Jangan mengolok kekurangan mereka dalam urusan digital.
  • Jangan mendebat hanya karena merasa lebih paham.
  • Jangan memosting hal yang bisa mempermalukan mereka.

Bukan karena mereka tidak pernah salah, tetapi karena kita ingin menjadi orang yang tahu diri.

Bukan sekadar soal sopan santun, ini soal rida Allah. Karena dalam setiap penghormatan tulus kepada yang lebih tua, Allah titipkan keberkahan yang tidak bisa dibeli oleh kecanggihan teknologi.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk kembali kepada adab, sebagaimana Nabi ﷺ mewariskannya dalam setiap langkah dan sabdanya.

قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Berkatalah kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (Al-Baqarah: 83)

Adab tak lekang oleh zaman. Ia mungkin tak populer, tapi ia kekal di sisi Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni