Feature

Ketika Lisan Kehilangan Empati, Manusia Mencari Hangatnya Dunia Maya

69
×

Ketika Lisan Kehilangan Empati, Manusia Mencari Hangatnya Dunia Maya

Sebarkan artikel ini
Krisis empati di era digital menyadarkan pentingnya akhlak komunikasi Islami demi membangun hubungan manusiawi hangat dan bermartabat.
Ilustrasi AI

Krisis empati di era digital menyadarkan pentingnya akhlak komunikasi Islami demi membangun hubungan manusiawi hangat dan bermartabat.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Di tengah perkembangan teknologi digital, manusia hidup dalam era komunikasi yang belum pernah sedekat ini. Jarak bukan lagi persoalan. Pesan sampai dalam hitungan detik. Panggilan video menghapus batas ruang.

Media sosial membuat siapa pun bisa berbicara kepada banyak orang sekaligus. Namun di balik kemudahan itu, ada paradoks yang mengusik: komunikasi makin ramai, tetapi hubungan antarmanusia justru sering terasa makin sepi. Percakapan makin banyak, tetapi pemahaman makin sedikit. Interaksi makin cepat, tetapi empati justru makin menipis.

Tidak sedikit orang hari ini memilih lebih nyaman bercerita di dunia maya daripada berbicara kepada orang-orang terdekatnya. Ada anak yang lebih terbuka kepada teman virtual daripada kepada orang tuanya. Ada siswa yang lebih nyaman menulis keresahan di media sosial daripada menyampaikannya kepada gurunya. Ada suami, istri, bahkan sahabat yang lebih mudah mencurahkan isi hati kepada ruang digital daripada kepada orang yang hadir di dekatnya.

Mengapa ini terjadi? Sering kali jawabannya bukan karena dunia maya lebih tulus, tetapi karena dunia nyata terasa kurang aman secara emosional. Banyak orang lelah menghadapi komunikasi yang penuh penghakiman, minim penghargaan, kasar dalam ungkapan, dan miskin empati. Mereka takut salah bicara, takut salah paham, diremehkan, atau luka batinnya justru bertambah oleh respons yang menyakitkan.

Baca Juga:  Usia 40 Bukan Sekadar Angka

Etika Komunikasi

Di sinilah Islam sesungguhnya menghadirkan fondasi yang sangat kokoh: akhlak komunikasi. Islam tidak hanya mengatur apa yang kita katakan, tetapi bagaimana cara kita mengatakannya.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengenalkan etika komunikasi yang sangat luhur: qaulan sadida (ucapan yang benar), qaulan ma’rufa (ucapan yang baik), qaulan layyina (ucapan yang lembut), qaulan baligha (ucapan yang mengena dan membekas), serta qaulan karima (ucapan yang mulia). Ini menunjukkan, komunikasi dalam Islam bukan sekadar transfer kata, tetapi seni menyentuh hati tanpa melukai martabat.

Bahkan kepada Fir’aun yang zalim sekalipun, Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk berbicara dengan lembut (QS. Taha: 44). Pesannya sangat tajam: kebenaran tidak harus tersampaikan dengan kekasaran, nasihat tidak harus terbungkus dengan penghinaan, dan kritik tidak harus melukai harga diri orang lain.

Akhlak Komunikasi dalam Islam

Setidaknya, ada empat akhlak komunikasi dalam Islam yang perlu kita amalkan. Pertama, jujur tetapi santun. Benar saja tidak cukup jika cara menyampaikannya salah. Kata-kata yang benar, tetapi disampaikan dengan merendahkan, hanya akan menutup pintu hati lawan bicara. Kebenaran yang terbungkus hikmah lebih mudah diterima daripada kebenaran yang dilempar dengan amarah.

Baca Juga:  Berbeda Awal Ramadan, Tetap Satu Tujuan: Meraih Takwa dalam Ukhuah

Kedua, mendengar sebelum menilai. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan, tetapi karena semua ingin didengar dan sedikit yang mau mendengar. Dalam psikologi komunikasi modern, kemampuan active listening—mendengar dengan sungguh-sungguh—adalah inti relasi sehat. Islam telah mengajarkannya jauh lebih dahulu melalui adab tabayyun, husnuzan, dan larangan tergesa-gesa menghakimi.

Ketiga, berempati sebelum berbicara. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ucapan ini menyembuhkan atau justru melukai? Apakah ini menenangkan atau menambah beban? Dalam sebuah hadits riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Nabi Muhammad bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Hadis ini bukan sekadar etika lisan, tetapi standar spiritual komunikasi.

Keempat, menjaga lisan dan jari. Di era digital, lisan bukan hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang keluar dari ujung jari: komentar, takarir, unggahan, pesan, dan respons di media sosial. Banyak orang sangat hati-hati berbicara langsung, tetapi sangat mudah kasar ketika mengetik. Padahal jejak digital juga jejak moral.

Lisan Juru Bicara Hati

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis, lisan adalah juru bicara hati. Jika hati penuh kasih sayang, lisan akan menenangkan. Jika hati penuh ego, iri, dan amarah, lisan akan melukai. Maka memperbaiki komunikasi sejatinya bukan hanya soal teknik berbicara, tetapi soal membersihkan hati.

Baca Juga:  Guru Berhenti Belajar, Menyiapkan Kemunduran, Refleksi Hardiknas

Karena itu, rumah, sekolah, masjid, dan ruang publik harus kembali menjadi tempat yang aman secara emosional—tempat orang didengar, dihargai, dan mendapatkan perlakuan dengan empati. Sebab boleh jadi, seseorang tenggelam dalam dunia maya bukan karena ia mencintai ruang virtual, tetapi karena ia tidak menemukan kehangatan komunikasi di dunia nyata.

Maka mari perbaiki akhlak komunikasi kita: lebih banyak mendengar daripada memotong. Lebih banyak memahami daripada menghakimi. Lebih banyak menenangkan daripada menyudutkan. Lebih banyak menguatkan daripada merendahkan.

Karena satu kalimat yang lembut bisa menyembuhkan luka batin. Dan satu ucapan yang kasar bisa membuat seseorang memilih pergi—bukan hanya dari percakapan, tetapi dari kedekatan, kepercayaan, bahkan dari hubungan yang seharusnya ia pertahankan.

Maka berkatalah yang baik, lembut, dan penuh empati. Dan jika belum mampu, diamlah—bukan karena kalah, tetapi karena sedang menjaga hati orang lain dari luka yang tak perlu. Sebab kadang, satu kalimat yang penuh empati bisa menarik seseorang kembali ke dunia nyata. Dan satu ucapan yang kasar bisa mendorongnya semakin jauh—menuju ruang maya yang hanya memberinya kenyamanan semu. (#)

Penyunting Sayyidah Nuriyah