FeatureUtama

Jejak Peradaban di Negeri Matador: Madrid, Barcelona, dan Andorra

67
×

Jejak Peradaban di Negeri Matador: Madrid, Barcelona, dan Andorra

Sebarkan artikel ini
Penulis dengan latar belakang Istana Al-Cazar Toledo, saksi kejayaan sejarah dan peradaban Spanyol masa lampau. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Madrid, Barcelona, dan Andorra bukan hanya menawarkan keindahan wisata, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang sejarah, budaya, dan peradaban yang pernah berjaya di Semenanjung Iberia.

Menjelajahi Maroko, Portugal, dan Spanyol (Seri Ke-5) Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Perjalanan panjang dari Granada menuju Madrid sejauh 425 kilometer kami tempuh selama kurang lebih 4,5 jam. Menjelang malam, tepat pukul 19.00 tanggal 30 April 2026, rombongan akhirnya tiba di Madrid, ibu kota Spanyol.

Sebelum memasuki kota besar itu, perjalanan sempat singgah di Kota Toledo, sebuah kota kecil yang sarat sejarah dan menjadi saksi kehidupan tiga peradaban besar: Kristen, Yahudi, dan Muslim yang pernah hidup berdampingan pada masa Andalusia.

Baca juga: Dari Córdoba ke Granada: Menapaktilasi Warisan Islam di Spanyol

Di Toledo berdiri megah Istana Al-Cazar di atas bukit, berpadu dengan aliran sungai dan taman yang indah. Kota ini juga terkenal sebagai pusat pembuatan pedang dan kerajinan besi sejak abad pertengahan.

Penulis di depan Plaza de Toros Las Ventas, arena adu banteng terbesar dan paling terkenal di Madrid. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Setelah menikmati suasana Toledo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Madrid dan bermalam di Hotel JW Marriot Madrid yang berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat kota.

Keesokan harinya, Jumat 1 Mei 2026, selepas sarapan pukul 08.30, rombongan mulai menjelajahi Kota Madrid. Suasana kota tampak ramai dengan lalu lalang kendaraan roda empat berbagai merek Eropa. Kendaraan pribadi umumnya berbodi kecil hingga sedang, sedangkan sepeda motor terlihat sangat sedikit.

Menikmati kemegahan Royal Palace Madrid, istana kerajaan Spanyol yang penuh sejarah. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Perjalanan dimulai dari Plaza de Toros Las Ventas, arena adu banteng terbesar di Spanyol yang mampu menampung hampir 24 ribu penonton. Arena megah dan artistik ini menjadi tempat pertunjukan matador melawan banteng ganas yang rutin digelar setiap akhir pekan.

Dari sana, rombongan menuju Royal Palace atau Patrimonio National, istana kerajaan Spanyol yang sangat luas dan terawat. Istana ini berdiri di atas bekas benteng Muslim abad ke-9 yang dibangun oleh Muhammad I dari Cordoba. Kini, istana tersebut menjadi simbol kejayaan sejarah panjang Spanyol di bawah pemerintahan Raja Felipe VI.

Baca Juga:  11 Manfaat Puasa bagi Kesehatan, 7 Tip Menjalankannya secara Optimal
Rombongan berfoto di depan Katedral Almudena, gereja megah di jantung Kota Madrid. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Di kawasan yang sama terdapat Plaza de la Armería, alun-alun luas yang menghubungkan Royal Palace dengan Katedral Almudena. Katedral utama Keuskupan Agung Madrid itu tampak megah dengan arsitektur yang dibangun sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Taman Emir Muhammad I. Tempat ini terasa istimewa karena menjadi salah satu penanda jejak kejayaan Dinasti Umayah di Andalusia.

Menyusuri Taman Emir Muhammad I, jejak sejarah Islam yang masih tersisa di Madrid. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Di taman tersebut masih tampak sisa-sisa tembok Muslim Madrid yang dibangun pada abad ke-9 dan dipercaya sebagai bangunan tertua yang masih tersisa di kota itu. Nama taman ini diambil dari Muhammad I dari Cordoba yang dianggap sebagai pendiri Madrid.

Dari nuansa sejarah Islam, perjalanan bergeser menuju dunia sepak bola di Stadion Santiago Bernabeu, markas kebanggaan Real Madrid yang berdiri sejak tahun 1902. Di toko resmi stadion, “Tienda Oficial Bernabeu”, penulis sempat membeli berbagai cenderamata dan kaos resmi Real Madrid.

Rombongan melepas rindu masakan tanah air di restoran Indonesia, Madrid. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Setelah hampir dua belas hari meninggalkan Indonesia, rasa rindu terhadap masakan tanah air akhirnya terobati ketika rombongan makan siang di Restaurant Garuda Madrid Indonesia Food.

Suasana semakin berkesan karena siang itu penulis dan rombongan juga dapat melaksanakan salat Jumat di Islamic Centre Madrid.

Jemaah yang hadir sangat banyak hingga pelaksanaan sholat dibuat dua gelombang. Di masjid tersebut tersedia Al-Qur’an terjemahan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Salat Jumat dan bersilaturahmi dengan jamaah internasional di Islamic Centre Madrid. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Sore harinya, perjalanan dilanjutkan menuju Puerta del Sol, pusat keramaian dan perbelanjaan Kota Madrid yang juga menjadi titik nol kota. Walaupun bertepatan dengan libur Hari Buruh Internasional sehingga banyak toko tutup, kawasan itu tetap dipenuhi wisatawan dan warga yang menikmati suasana liburan.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan: Dulu, Kini, dan Akan Datang

Tidak jauh dari sana terdapat Cibeles Fountain, ikon Kota Madrid yang sering menjadi tempat perayaan kemenangan tim Real Madrid.

Penulis mengunjungi markas kebanggaan Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Pada tanggal 2 Mei 2026, rombongan meninggalkan Madrid menuju Barcelona menggunakan kereta cepat Iryo melalui Stasiun Atocha. Kereta modern hasil kerja sama Italia–Spanyol itu menempuh jarak 621 kilometer hanya dalam waktu sekitar 3,5 jam. Perjalanan terasa nyaman sambil menikmati panorama pedesaan Spanyol di sepanjang jalur kereta cepat.

Sesampainya di Barcelona, rombongan langsung menuju Factory Outlet La Roca yang memiliki ratusan butik merek internasional dan lokal. Menariknya, di outlet tersebut tersedia ruang sholat dan tempat wudhu yang dinamakan “Ruang Kontemplasi”.

Penulis dan istri di stadion Olimpiade Barcelona 1992 yang membawa emas pertama bagi Indonesia. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Dari pusat belanja, perjalanan berlanjut ke kawasan Arena Olimpiade Barcelona 1992. Tempat ini terasa sangat istimewa bagi bangsa Indonesia karena di sinilah sejarah tercipta ketika Susi Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua medali emas Olimpiade pertama bagi Indonesia melalui cabang bulu tangkis.

Rombongan kemudian menikmati keindahan Barcelona dari Mirador del Palau Nacional. Balkon megah yang menghadap langsung ke kota Barcelona itu menghadirkan panorama luar biasa, dengan tangga monumental, deretan patung artistik, dan bangunan Palau Nacional yang berdiri anggun di belakangnya. Di tempat ini rombongan sempat berfoto bersama dan bernyanyi dengan musisi setempat.

Rombongan menikmati panorama indah Barcelona dari Mirador del Palau Nacional. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Perjalanan di Barcelona terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Camp Nou Stadium, markas kebanggaan FC Barcelona. Selain melihat stadion, penulis juga membeli kaos Barcelona untuk cucu tercinta, Luqman, yang baru berusia lima tahun.

Setelah itu rombongan melaksanakan salat Zuhur dan Asar di Barcelona Islamic Centre, yang saat itu sedang digunakan untuk prosesi pernikahan secara Islam di lantai dasarnya.

Baca Juga:  Ingin Damai tapi Mengajak Perang
Penulis dan istri di Stadion Camp Nou Barcelona yang sedang direnovasi untuk wajah baru kebanggaan Catalan. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan menuju Negara Andorra yang berjarak sekitar 182 kilometer dari Barcelona. Perjalanan selama empat jam itu dihiasi pemandangan pegunungan yang indah hingga akhirnya rombongan memasuki wilayah Andorra pukul 17.00.

Andorra merupakan negara mikro yang terletak di kawasan Pegunungan Pirenia, di antara Spanyol dan Perancis. Negara kecil ini terkenal sebagai kawasan wisata dan pusat belanja bebas pajak.

Islamic Centre Barcelona. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Dengan luas wilayah hanya sekitar 468 kilometer persegi dan populasi sekitar 79 ribu jiwa, Andorra menjadi salah satu negara terkecil di Eropa. Ibukotanya, Andorra la Vella, bahkan dikenal sebagai ibu kota tertinggi di Eropa dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Di Andorra, rombongan menikmati suasana Andorra la Vella yang ramai wisatawan. Kawasan sepanjang Sungai Gran Valira dipenuhi pertokoan, restoran, dan galeri yang dapat dijelajahi hanya dengan berjalan kaki. Selain itu, rombongan juga mengunjungi Lembah Turi Valira D’Orient di kawasan utara Andorra.

Panorama indah Lembah Turi Valira, Andorra, di kaki Pegunungan Pirenia.

Hamparan pegunungan hijau yang berpadu dengan langit biru menciptakan panorama yang sangat memanjakan mata. Pada pagi hari suhu udara mencapai 5 derajat Celsius, menambah kesan sejuk dan tenang di kawasan pegunungan tersebut.

Setelah menikmati keindahan alam Andorra dan berbelanja, tibalah saatnya kembali ke tanah air. Pada tanggal 5 Mei 2026 pukul 09.00, rombongan berangkat menuju Bandara Barcelona untuk melanjutkan penerbangan ke Jakarta transit di Jeddah.

Perjalanan menyusuri Madrid, Barcelona, dan Andorra meninggalkan kesan mendalam. Keindahan alam, kemegahan sejarah, dan jejak peradaban yang ditemui sepanjang perjalanan menjadi bagian dari proses tadabur alam, agar manusia semakin bersyukur dan bertambah iman kepada Sang Pencipta. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni