
Roh PRM menjadi bahasan dalam acara Upgrading PRM yang diadakan oleh LPCR-PM Surabaya. Acara ini diikuti 200 pimpinan Ranting.
Tagar.co – Praktik Islam yang sebenarnya berada pada Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) sebagai basis massa persyarikatan. Karena itu pimpinan harus menghidupkan roh PRM supaya organisasinya hidup dan berkembang.
Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Jamaludin Ahmad, dalam acara Upgrading PRM di Trawas, Sabtu-Ahad (2-3/5/2026).
Jamaludin menjelaskan, roh PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) terletak pada pengajian dan masjid.
”PRM harus mampu mengelola pengajian yang subur dihadiri ribuan jemaah,” kata Jamaludin yang pernah menjadi Kepala Badan Psikologi Polda Jambi ini.
Lalu dia bertanya kepada hadirin, di sini ada pengajian PRM yang dihadiri 500 jemaah? 300 orang? 200 orang? Tidak ada hadirin yang angkat tangan.
”PRM Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah, ini tempatnya Gus Baha’, pengajiannya dihadiri 3.500 orang. Ini PRM terbaik nasional. Punya TK, masjid, gedung dakwah, pesantren, pembinaan orang gangguan jiwa, “ tuturnya.
PRM ini, sambung dia, dikelola anak muda. Mereka tidak ikutan merantau ke ibu kota. Membuka usaha ukiran kayu jepara yang terkenal.
Dia memberi contoh lagi PRM Karang Tengah, Gunung Kidul, pengajiannya dihadiri sampai 2.500 orang. PRM ini juga melibatkan anak muda.
”Saat PRM ini mau mati, ada 16 anak muda tidak rela. Lalu mereka studi banding ke Masjid Jogokariyan, Al-Falah. Setelah itu medirikan Korp Mubalig Muhammadiyah (KMM) dengan memanggil pembicara dari luar,” ceritanya.
Setelah pembinaan mubalig selesai, kadernya ditugasi membina jemaah masjid dan musala. Materinya sama. Lalu mengadakan pengajian Ahad yang dihadiri 100 orang. Pengajian terus berkembang hingga jemaah mencapai ribuan. Materi pengajian dibukukan tiap bulan.
”Sekarang bahkan ada masjid NU yang minta dibina hingga akhirnya menjadi masjid Muhammadiyah,” tutur Jamaludin.
Jadi, kata dia, PRM ini hidup lagi digerakkan oleh 16 anak muda terus maju dan berkembang lewat Korps Mubalig Muhammadiyah.
Masjid yang Makmur
Roh PRM yang kedua terletak di masjid. Harus dikelola dengan baik.
Jamaludin menyampaikan, kalau perguruan tinggi Muhammadiyah mahasiswanya berkurang, rektor dan dosen waswas, gelisah, lalu rapat membahas masalahnya dan mencari solusi.
Ruma sakit jumlah pasien berkurang, direkturnya resah, lalu mengadakan rapat untuk mengatasi masalah. ”Utang berapa pun tidak masalah asal bisa menarik banyak pasien,” katanya.
Begitu juga sekolah berkurang muridnya, kepala sekolah mengadakan rapat membahasanya.
”Sekarang ketika masjid jemaahnya berkurang, sepi, apakah ada yang peduli seperti mikir sekolah dan rumah sakit? Apa gelisah? Mikir? Ternyata tidak,” tandasnya prihatin.
Padahal, sambung dia, Muhammadiyah itu lahir dari sebuah Langgar Kidul di Kauman Yogya dan Masjid Gede di Kraton. Karena itu orang Muhammadiyah jangan meninggalkan masjid sehingga jemaah sepi.
Dia mengatakan, kalau masjid Muhammadiyah sepi, perlu ditanyakan anak-anak mudanya seperti Pemuda, IMM, IPM, Nasyiah, HW, Tapak Suci, kalau salat ke mana?
”Dalam Raker LPCR-PM kita mengundang Ortom untuk diskusi. Mereka menyampaikan malas ke masjid karena diurusi orang-orang tua. Mau ikut ngurusi malah dimarahi. Semoga bapak-bapak di sini tidak seperti itu,” selorohnya.
Dia mengeaskan masjid yang diurusi orang tua tidak ada yang makmur. Tapi kalau diurusi anak muda bisa maju dan makmur.
”Menurut survei rata-rata jumlah jemaah masjid salat lima waktu itu hanya 30 orang,” tuturnya. ”Tidak percaya? Saya tanya siapa yang masjidnya dihadiri 500 jemaah? Tidak ada. 300 jemaah? Tidak ada. 100 orang? Mulai ada satu yang angkat tangan. 50 orang? Mulai ada delapan angkat tangan. Jadi kebanyakan masjid jumlah jemaah di bawah 50 orang. Rata-rata 30 orang,” tegasnya. (#)
Jurnalis M. Syafii Penyunting Sugeng Purwanto












