
Tagar.co – Mengubah PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) yang biasa menjadi luar biasa harus bisa memajukan empat komponen basis kegiatan Muhammadiyah. Empat komponen itu adalah masjid, Cabang-Ranting, beramal ikhlas dan bergembira, serta rapat rutin.
Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) PP Muhammadiyah, M. Jamaludin Ahmad, dalam acara Upgrading PRM se-Surabaya di Trawas, Sabtu-Ahad (2-3/5/2026).
Membuka paparannya Jamaludin mengatakan, bapak-bapak Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) merupakan pejuang Islam yang insyaallah masuk surga duluan.
”Karena bapak-bapak yang menghadapi masyarakat langsung sehingga menjadi ujung tombak dan ujung tombok persyarikatan,” katanya disambut jawaban aamiin dan tepuk tangan.
Dia menceritakan, banyak mengunjungi Ranting yang dulu biasa sekarang menjadi luar biasa. Misal, PRM Kayuputih Rawamangun Jakarta. Sekarang punya Masjid Islamic Center Al-Madani yang menjadi pusat studi Al-Quran dengan 200 santri. PRM terbaik saat CRM Award tahun 2022 di Makaassar.
PRM Wage Sepanjang Sidoarjo pernah juara CRM Awad tahun 2018 dan tahun 2025 meraih Best of the Best.
PRM dan PCM, sambung Jamaludin, merupakan the real Muhammadiyah. Secara administrasi Pusat Muhammadiyah berkedudukan di Yogyakarta, namun secara organisasi pusat Muhammadiyah itu bukan di pimpinan pusat, pimpinan wilayah, pimpinan daerah, tapi di Cabang, Ranting, dan Masjid.
”Sebab keberadaan PRM dan PCM itu yang membentuk PDM, lalu membentuk PWM dan Pimpinan Pusat,” ujarnya. ”Kecuali di Indonesia Timur dan Tengah, PWM melahirkan PDM dan PCM,” ujarnya.
Karena itu, kata dia, bila masjid, PRM, dan PCM mati maka Muhammadiyah hakikatnya juga mati sebab tidak mempunyai basis massa. ”Karena itu PRM, PCM, dan Masjid Muhammadiyah harus hidup,” tuturnya.
Empat Komponen
Lantas dia menguraikan pentingnya mengelola empat komponen dakwah Muhammadiyah untuk mengubah PRM biasa menjadi luar biasa.
Pertama, masjid. Masjid merupakan basis jemaah karena itu harus dikelola supaya makmur. Di Jawa Timur sudah banyak masjid-masjid Muhammadiyah yang dikelola dengan baik dan bisa dicontoh.
Seperti Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo milik PRM menjadi masjid percontohan. Masjid Al-Fattah Tulungagung masjid percontohan milik PDM, dan Masjid Asy-Syifa’ masjid percontohan milik amal usaha RS Muhammadiyah Lamongan.
Di tiga masjid ini mengadakan Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) yang berlangsung berseri bulan April, Mei, dan Juni 2026 diikuti takmir masjid seluruh Jawa Timur.
Kedua, PCM dan PRM harus berkembang.
”LPCR-PM sedang memperjuangkan PRM bisa mengelola amal usaha. Secara de jure, menurut aturan yang boleh mendirikan amal usaha PCM tapi faktanya banyak PRM punya amal usaha seperti TK, perguruan tinggi, dan rumah sakit. Izinnya melalui PCM,” kata Jamaludin.
Dia juga menegaskan pembangunan Gedung Dakwah yang menjadi kantor PCM dan PRM harus satu kompleks dengan masjid supaya berfungsi optimal. Ini melaksanakan keputusan muktamar PCM-PRM berbasis masjid.
”Kalau pimpinan ke masjid insyaallah nengok kantor, sewaktu ke kantor insyaallah nengok masjid. Kalau lokasinya terpisah, ke kantor enggak, apalagi ke masjid,” selorohnya.
Menurut dia, Gedung Dakwah di luar kompleks masjid ternyata 90 persen tidak berfungsi. Sebab jarang rapat dan berkegiatan.
Ketiga, aktivis Muhammadiyah beramal ikhlas dan bergembira.
Jamaludin menganjurkan, jangan suka mempertanyakan keikhlasan orang. Berjuang di Muhammadiyah itu usahakan bisa mengubah yang tidak ikhlas menjadi ikhlas.
”Jangan malah membuat orang ikhlas menjadi tidak ikhlas gara-gara kesalahan pimpinan,” tuturnya.
Dia juga menganjurkan selalu bergembira menjadi aktivis persyarikatan. Ikut rapat bergembira, ikut kegiatan bergembira. ”Kalau pulang ke rumah tersenyum kepada anak istri walaupun capek sehingga punya kesan aktif di Muhammadiyah itu menyenangkan bagi keluarga,” ujarnya.
Keempat, rapat rutin untuk mengendalikan organisasi. Dianjurkan rapat PRM-PCM itu sepekan sekali. Menurut data, kebanyakan rapat itu sebulan sekali.
”Paling banyak melakukan rapat pas ada PHBI (Peringatan Hari Besar Islam). Seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha,” katanya. Kalau mau mengubah PRM jadi luar biasa harus bisa rapat rutin sepekan sekali. (#)
Jurnalis M. Syafii Penyunting Sugeng Purwanto












